Beranda > Berita Terbaru
#SaveHumanity-Save ROHINGYA

Eksodus 22.000 Rohingya, Nelangsa di Pekan Pertama Januari

10 Jan 2017
Eksodus 22.000 Rohingya, Nelangsa di Pekan Pertama Januari

ACTNews, RAKHINE, Myanmar - Awal tahun 2017 tidak berarti apa-apa bagi mereka, orang-orang Rohingya di Provinsi Rakhine, Myanmar. Pergantian tahun sama sekali tidak berpengaruh terhadap perubahan nasib menjadi lebih baik. Justru sebaliknya, awal Januari nelangsa makin menjadi.

Sejak retaknya rasa damai di Rakhine bulan Oktober kemarin, nasib buruk orang-orang Rohingya itu membayang di depan mata, sepanjang hari. Hingga akhirnya melarikan diri adalah satu-satunya pilihan. Nekat eksodus lewat berbagai macam cara, memintasi Sungai Naf yang menjadi tapal batas antara Kota Maungdaw dan Negeri Bangladesh.

Melihat di seberang Sungai Naf, sudah berjejal ratusan ribu orang-orang Rohingya lain yang telah lebih dulu menetap sebagai pengungsi. Bangladesh satu-satunya lokasi paling dekat untuk melarikan diri, hanya di Bangladesh mungkin rasa aman bisa sedikit terjamin. Meski dengan ribuan keterbatasan dan kisah-kisah nelangsa lainnya.

Senin (9/1) sebuah catatan yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, dalam sepekan pertama di Bulan Januari jumlah orang-orang Rohingya yang nekat eksodus melintasi Sungai Naf berjumlah tak kurang dari 22.000 jiwa. Artinya, dari hitungan hari pertama Januari 2017 sampai hari ketujuh, 22.000 jiwa Rohingya nekat seberangi Sungai Naf, menyewa perahu kayu rapuh yang seringkali kelebihan muatan.

Dari Maungdaw yang bergejolak dan berstatus darurat militer, hanya lewat Sungai Naf satu-satunya jalan menyelamatkan diri. 22.000 jiwa eksodus dalam satu pekan di Januari 2017 jelas bukan angka yang sedikit. Jika dibagi rata-rata, 3.000 jiwa orang Rohingya melarikan diri dari Maungdaw setiap hari. Semakin hari, peningkatan telak jumlah Rohingya yang melarikan diri dari Maungdaw menjadi bukti betapa horor dan kacaunya penindasan atas Rohingya di Maungdaw.

Catatan lain mengatakan, Sejak ketegangan memuncak di Awal Oktober silam sampai dengan 5 Januari 2017, Bangladesh sudah menampung tak kurang dari 65.000 jiwa orang-orang Rohingya asal Maungdaw. Data itu pun belum tentu tepat, sebab yang dihitung hanya mereka yang baru saja datang dari Maungdaw dan kini menetap di kamp-kamp terdaftar, terutama di sekitar area Cox’s Bazaar, selatan Bangladesh.

Sementara itu, jika menakar jumlah keseluruhan pengungsi Rohingya di Bangladesh diperkirakan sudah mencapai lebih dari 300.000 jiwa. Jumlah itu adalah hitungan pengungsi Rohingya sejak konflik pertama kali meletus tahun 2012 lalu.

Hidup sebagai pengungsi di Bangladesh pun sesungguhnya tak mengubah banyak nasib orang-orang Rohingya. Hanya tenda kusam, bahkan lantai tanah tempat bernaung dari panas dan hujan. Berhimpit dengan ribuan jiwa orang Rohingya lain dalam petak-petak kamp yang tak seberapa besar.

Akhir Desember kemarin, Tim SOS Rohingya IX – ACT menyimak langsung betapa nelangsa orang-orang Rohingya tetap berlanjut meski sudah melarikan diri ke Bangladesh.

“Dari wilayah Cox’s Bazaar, kami menemukan krisis kemanusiaan yang luarbiasa. Akses makanan terbatas, hidup di tenda pengungsian yang tidak layak dengan sanitasi yang begitu buruk. Tidak ada pekerjaan sama sekali. Sampai kapan ratusan ribu orang Rohingya ini sanggup bertahan?” kisah Faishol, Tim SOS Rohingya IX melaporkan dari wilayah Chittagong, Bangladesh.[]

Penulis: Shulhan Syamsur Rijal
Sumber gambar: Dokumentasi Tim SOS Rohingya IX