Beranda > Berita Terbaru
#SaveHumanity-Save ROHINGYA

Ikhtiar Indonesian Aid Tembus Zona Militer Maungdaw

10 Jan 2017
Ikhtiar Indonesian Aid Tembus Zona Militer Maungdaw

ACTNews, JAKARTA - Maungdaw berubah menjadi horor. Sebuah kota tak terlalu besar, berada di tepi Sungai Naf, berbatasan langsung dengan Negeri Bangladesh, di dalamnya menetap bermacam etnis dan komunitas, termasuk komunitas orang-orang Rohingya yang sudah bermukim sejak sekian dekade lampau. Minoritas dan mayoritas Buddhist hidup membaur. Sampai pada permulaan Oktober tahun 2016 silam, tanda-tanda konflik dan penindasan atas minoritas itu mulai membubung di Maungdaw.

Hanya dalam sekian pekan, Maungdaw berubah menjadi horor. Zona operasi militer terbatas ditetapkan. Akses sipil dibatasi, bahkan orang-orang Rohingya yang tak bersalah itu dikabarkan mengalami penindasan, pemerkosaan, penyiksaan fisik sampai pada pembakaran rumah-rumah mereka. Beberapa laporan yang diiringi rekaman gambar bergerak sampai citra satelit menunjukkan bukti nyata, bahwa di Maungdaw krisis kemanusiaan babak baru atas orang-orang Rohingya baru saja dimulai.

Semua berawal di tanggal 9 Okober 2016 silam, ketika itu sekelompok orang tak dikenal menyerang pos polisi di dekat perbatasan Maungdaw-Bangladesh. Beberapa orang polisi Maungdaw tewas karena serangan. Bola panas bergulir menuduh orang-orang Rohingya sebagai pelaku penyerangan itu. Bahkan proses penyidikan baru saja dimulai, tapi tuduhan semakin kuat, arusnya tak bisa dibendung menunjuk orang-orang Rohingya sebagai tertuduh pelaku serangan.

Konflik pun pecah, entah ada berapa kali aksi penindasan dan kekerasan fisik yang dilakukan terhadap orang-orang Rohingya. Tak ada yang tahu data yang pasti, tak ada yang tahu sudah berapa jumlah korban jiwa dan kerusakan material yang ditimbulkan. Sebab sejak saat itu pula Maungdaw berlaku zona operasi militer, tertutup untuk siapa pun, bahkan pengamat krisis internasional dari PBB dan pun tak boleh masuk ke dalam, termasuk Kofi Annan eks Sekretaris Jenderal PBB yang ditunjuk sebagai komisi hak asasi manusia untuk etnis Rohingya di Myanmar.

Pembatasan akses di Maungdaw pun seketika memicu krisis kemanusiaan yang terus memuncak. Data terakhir, sudah ada 65.000 jiwa orang-orang Rohingya yang nekat melarikan diri dari Maungdaw Provinsi Rakhine, melintasi Sungai Naf menuju Bangladesh. Lebih baik tak punya apa-apa di Bangladesh, daripada harus mengalami penyiksaan fisik, bahkan sampai terbunuh di Maungdaw, begitu mungkin alur pikiran mereka di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburu tanpa ampun.

Setelah tiga bulan horor di Maungdaw tertutup rapat oleh publik internasional, Pemerintah Myanmar mulai melunak dan berniat untuk membuka akses internasional atas apa yang sudah terjadi di Maungdaw.

Kabar ini langsung disambut baik oleh pemerintah Indonesia. Lewat Kementerian Luar Negeri, Pemerintah Indonesia mencoba menggandeng beberapa pihak untuk melakukan kolaborasi aksi kemanusiaan. Rencana ini menghasilkan sebuah wadah aksi dengan nama #IndonesianAid, sebuah kolaborasi kemanusiaan yang dikoordinasikan oleh pemerintah, organisasi kemanusiaan non pemerintahan, sampai media. Termasuk Aksi Cepat Tanggap yang tergabung di dalamnya.

Sesuai dengan rencana, awal Januari 2017 adalah percobaan ikhtiar pertama Indonesian Aid menembus Maungdaw. Jika tak ada lagi hambatan birokrasi dan keamanan yang membelit, pekan kedua Januari 2017 Aksi Cepat Tanggap dan kolaborasi Indonesian Aid di bawah koordinasi Kementerian Luar Negeri Indonesia akan mencapai Provinsi Rakhine dan berujung di Kota Maungdaw. Prioritas pemberangkatan tahap pertama meliputi dokter, perawat, psikolog dan tenaga medis lainnya.

Sesuai dengan data-data awal yang dikumpulkan, setidaknya sampai hari ini ada 150.000 jiwa warga sipil yang hidup dalam keterbatasan zona militer di Maungdaw. Dampak paling kacau dan horor tentu dialami oleh minoritas orang-orang Rohingya. Diperkirakan ada lebih dari 3.400 anak-anak Rohingya di Maungdaw yang kini sedang membutuhkan perawatan intensif karena kasus gizi buruk.

Aksi Cepat Tanggap sudah menyiapkan beberapa rencana aksi bantuan kemanusiaan untuk didistribusikan di dalam Maungdaw. Dari data yang dihimpun, kebutuhan mendesak utama berupa obat-obatan dan layanan akses medis (dokter), lalu bahan-bahan pangan, sanitasi air bersih, dan kebutuhan barak atau tenda pengungsian sementara untuk anak-anak dan perempuan.[]

Penulis: Shulhan Syamsur Rijal
Sumber Gambar: IBTimes