Beranda > Berita Terbaru
Tepian Negeri

Alhamdulillah, Pembangunan Sekolah di Desa Terpencil Hampir Rampung

10 Jan 2017
Alhamdulillah, Pembangunan Sekolah di Desa Terpencil Hampir Rampung

ACTNews, TOLITOLI – Program 100 Pulau Tepian Negeri adalah salahsatu program peduli ACT dalam pembangunan dan pemberdayaan di daerah tertinggal di pelosok Indonesia, khususnya di kawasan timur Indonesia. Program ini hingga saat ini masih terus berlangsung, salahsatu dari implementasi programnya adalah pembangunan lembaga pendidikan/sekolah di daerah terpencil (tertinggal).
 
ACT dengan berbagai mitranya dari korporat, komunitas maupun individu,  bahu-membahu mewujudkan majunya pendidikan di timur Indonesia. Sudah puluhan sekolah telah dibangun ACT dan mitranya di berbagai pelosok di Indonesia.         
 
Salahsatu sekolah yang tengah dibangun yang pengerjaannya saat ini hampir selesai, sudah mencapai 80 persen adalah Madrasah Tsanawiyah/MTs Al-Hidayah, di Kampung Salusu Lanang, Desa Lampasio, Kecamatan Lamapsio, Kabupaten Tolitoli.
 
MTs Al-Hidayah adalah satu-satunya sekolah setingkat Sekolah Menengah Pertama/SMP yang berdiri di Desa Lampasio, salahsatu Desa tertinggal di Kabupaten Tolitoli, yang menjadi satu-satunya harapan bagi warga Desa Lampasio untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang lebih tinggi.
 
Menurut Dede Abdul Rochman, Tim Program 100 Pulau Tepian Negeri, ada 2 sekolah ditingkat Sekolah Dasar/SD yang ada di Desa ini,  yang lulusannya sebagian besar melanjutkan sekolahnya di sekolah ini.   
 
“Sebagian besar siswa SD yang melanjutkan sekolahnya ke MTs Al - Hidayah, yang punya kerabatnya  di Kota Tolitoli biasanya meneruskan sekolahnya ke SMP Negeri 1 Sinarin berjarak 50 Km dari Kampung kami ini. Para siswa yang meneruskan sekolahnya di sana, mereka tinggal di rumah kerabatnya di sana,”jelasnya.  
 
Meskipun  MTs Al-Hidayah ini menjadi satu-satunya sekolah di Desa Lampasio, namun kodisi sekolah ini sangat memprihatinkan. Sekolah yang hanya terdapat 2 lokal/ruangan kelas ini berdinding papan dan masih berlantai tanah. Apabila musim hujan datang, air selalu menggenangi sekolah ini yang menyebabkan ruangan kelas menjadi becek penuh kubangan air.  
 
Sementara itu apabila musim kemarau datang, maka di atas permukaan tanah di ruang kelas tersebut menjadi retak-retak, kondisi meja dan bangku pun tak lebih baik dari kondisi ruangan sekolah ini.
 
Di tempat inilah  sekitar 30 anak berbagai kelas bergantian belajar. Di sekolah ini terdapat satu  ruangan yang berdinding papan yang difungsikan, sebagi ruang guru, yang juga difungsikan sebagai gudang.  
 
Menurut Kepala Sekolah MTs Al-Hidayah, Syamsudin (35) keberadaan sekolahnya sangat penting, karena hanya dengan kehadiran sekolah ini, anak-anak tamatan SD Lampasio dan tamatan Madrasah Ibtidaiyah Swasta/MIS Salusu Lanang bisa melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMP di Desanya.   
 
“Kami sangat bahagia ketika datang Pak Iyus dari ACT  melakukan asesmen untuk rencana pembangunan sekolah kami ini, yang alhamdulillah pembangunan tersebut sekarang sudah bisa terwujud, tinggal 20 persen lagi,”tuturnya dengan sumringah. Menurut Syamsudin, sebelum dibangun Tim ACT, sebenarnya proses pengajuan (propsal) pembangunan  sekolah ini sudah diajukan ke pihak terkait, namun belum direspon.
 
Pembangunan sekolah MTs. Al-Hidayah ini merupakan sinergi ACT dengan Lina Liputri salah satu mitra individu ACT yang menjadi donator ACT sepenuhnya. Sebelumnya ACT bersama Lina Liputri juga sudah membangun sekolah di daerah terpencil di Bila, Kupang – Nusa Tenggara Timur/NTT.    
 
Sekolah ini berdiri di kawasan dataran tinggi, yang merupakan lahan pertanian coklat. Sejak banyaknya penyakit tanamam yang tidak dapat diatasi masyarakat, terutama  pada tanaman coklat yang sebelumnya menjadi andalan mereka. Saat ini masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan kehidupannya pada pertanian.
 
“Kini 90 persen penduduk di desa  ini adalah pekerja serabutan. Ada yang  bekerja di sektor pertanian, biasanya sebagai penunggu kebun atau memang pemilik kebun yang lokasinya jauh di hutan dengan hasil panen terbatas. Mayoritas orang tua siswa yang sekolah di MTs. Al-Hidayah adalah seperti itu,”jelas Syamsudin.    
 
Menurut Dede, proses pembangunan sekolah ini berjalan dengan relatif lancar dan cepat, karena hampir seluruh warga ikut serta bergotong-royong membangun sekolahnya.
 
“Saya sangat senang dengan respon masyarakat yang sangat antusias dalam pembangunan sekolah ini, masyarakat ikut andil bergotong-royong bergiliran (bergantian-red)  dari pagi hingga malam. Hingga proses pembangunannya berjalan dengan cepat,”pungkasnya.[]

Penulis: Muhajir Arif Rahmani