Beranda > Berita Terbaru
Pemulihan Pascabencana

Dari Nyala Api di Dapur, Perlahan Hapus Duka Banjir Bima

11 Jan 2017
Dari Nyala Api di Dapur, Perlahan Hapus Duka Banjir Bima

ACTNews, KOTA BIMA - Rabu, (11/1) tepat sudah tiga pekan sejak pertama kali banjir bandang melumpuhkan Bima. Kota itu betul-betul dibuat tidak berdaya setelah dihempas banjir. Ekonomi sejenak mati, aktivitas pemerintah lumpuh, bahkan listrik dan jaringan telepon genggam sempat dibuat mati selama berhari-hari.

Seluruh wilayah kota itu sudah merasakan betapa dampak Badai Yvette kala itu betul-betul membawa limpahan air hujan yang dahsyat. Sampai tak ada lagi aliran sungai di Bima yang tidak meluap hebat. Hiingga hari ini, masih terlihat jelas di tembok-tembok belasan ribu rumah di seantero Bima, bekas ketinggian air banjir menjiplak di tembok, memberi tanda luapan banjir dengan rata-rata setinggi dua meter.

Mengulang lagi ingatan tiga pekan lalu, banjir menerjang nyaris 95% seluruh wilayah Kota Bima. Puluhan ribu rumah merasakan impaknya. Air bah setinggi satu sampai lebih dari dua meter menenggelamkan Bima hanya dalam hitungan jam. Bahkan banjir meluap dalam dua kali kesempatan di periode yang berdekatan. Pertama di hari Rabu (21/12) dan banjir susulan berikutnya tak kalah besar, di hari Jumat (23/12).

Saking kacau-balaunya dampak banjir di Kota Bima, butuh waktu lama untuk memulihkan seluruh aktivitas kehidupan di Kota itu. Sampai hari ini pun, proses pembersihan lumpur dan sampah sisa banjir masih dilakukan. Warga Bima masih berjibaku dengan tumpukan lumpur di dalam rumah, di beranda, dan di sepanjang gang-gang depan rumah. Mencoba mengeluarkan lagi sisa-sisa tenaga, sembari perlahan melupakan rasa trauma diterjang banjir.

Tiga pekan sudah berlalu, fase respons banjir Bima pun beranjak dari fase rescue menuju fase pemulihan. Aksi Cepat Tanggap masih bertahan di posko Kelurahan Sambinae, Kecamatan Mpunda, menuntaskan seluruh fase pemulihan.

Fase pemulihan berlanjut, sejumlah paket bantuan sudah terdistribusi ke kampung-kampung paling parah terdampak banjir di sudut-sudut Kota Bima. Sejak akhir pekan pertama Januari 2017, dua jenis paket bantuan berupa paket perlengkapan dapur dan paket perangkat sekolah tuntas terdistribusikan.

Puluhan ibu-ibu paruh baya sudah memasang senyum sumringah sejak pertama tim datang bertandang membawa sebuah mobil bak penuh berisi bermacam barang. Tim ACT untuk respons banjir Bima merapat ke Kelurahan Manggemaci, Kecamatan Mpunda, Kota Bima. Di lokasi ini, tak kurang dari 70 paket bantuan dapur menjadi “kado” awal tahun dari ACT.  

Berkolaborasi dengan Kitabisa.com, paket dapur berisi kompor, katel, panci, piring, gelas, sendok, dan panci setidaknya bisa menghidupkan lagi nyala kompor di dapur mereka.

“Banjir sebagian besar menghanyutkan semua alat-alat dapur di rumah. Dapur mereka hanya tinggal tumpukan lumpur. Tidak ada piring, tidak ada kompor apalagi benda-benda kecil seperti sendok dan gelas. Semua habis dihanyutkan banjir,” kisah Lukman Solehuddin, leader tim ACT untuk respons banjir Bima.

Satu hal yang unik, rupanya selama ini masyarakat Kota Bima belum terbiasa menggunakan perangkat kompor gas dan tabung elpiji yang jamak ditemui di kota-kota lain di Indonesia. Apalagi, rupanya tabung has bersubsidi belum sampai masuk Kota Bima, jadi harga gas tak semurah di kota-kota lain di Indonesia. Di dapur rumah mereka hanya ada kompor minyak sederhana dengan jerigen minyak tanah di sampingnya.

“Karena alasan nihilnya gas bersubsidi di Kota Bima dan kebiasaan masyarakat Bima yang masih menggunakan kompor minyak, kami pilih membelikan perangkat dapur dengan kompor minyak. Yang penting dapur mereka bisa kembali menyala, Bima harus lekas pulih, dimulai dari nyala api di dapur mereka,” pungkas Lukman.

Penulis: Shulhan Syamsur Rijal