Beranda > Berita Terbaru
Tepian Negeri

Rangga Terlambat Datang dan Menangis di Muka Kelas

15 Feb 2017
Rangga Terlambat Datang dan Menangis di Muka Kelas

ACTNews, MUSI BANYUASIN - Sejak dinihari tadi, Selasa (14/2) Kampung Bandar Jaya diselimuti mendung, dingin yang menyergap, dan deras hujan. Kalau hujan semalam suntuk, berarti kabar buruk untuk anak-anak Bandar Jaya. Pasalnya, limpahan air yang turun dari langit akan membuat jalan tanah di tepi kebun sawit itu becek bukan main.

Tanah kaolin berwarna putih yang mendominasi di seluruh kampung akan berubah jadi lengket, basah dan berlumpur diterjang air hujan. Kalau sudah begini, terpaksa sepatu sekolah ditanggalkan atau merelakan sepatu itu kotor penuh lumpur.

Namun, sepatu yang kotor atau terpaksa pakai sendal jepit itu hanya berlaku untuk anak-anak yang rumahnya dekat dengan sekolah. Lain cerita bagi mereka anak-anak yang rumahnya berada sekian kilometer dengan bangunan sekolah SDN Muara Medak (Kelas Jauh).

Jika hujan turun dan jalan kampung berubah menjadi kubangan, pilihannya adalah libur sama sekali, atau berjalan kaki seorang diri dari rumah ke sekolah, menerjang lumpur tak peduli dengan kotor.

Si ayah atau si Ibu biasanya enggan untuk nekat menerjang lumpur mengantar anaknya ke sekolah. Sebab ban motor yang tipis itu dipastikan akan tergelincir lalu jatuh.

Namun hari itu, Selasa (14/2, Rangga, si bocah kelas 2 SD memilih untuk tetap masuk sekolah meski hujan cukup deras masih menerjang sampai pukul 07.00 pagi. Sang Ibu rupanya enggan untuk mengantarnya menggunakan motor karena tidak berani menembus jalan licin. Tapi semangat Rangga untuk bersekolah tidak bisa dicegah. Rangga pun pamit dan memilih untuk berjalan kaki ke sekolahnya.

Berapa jarak dari rumah Rangga ke SDN Muara Medak? Jika dihitung sekira 40 menit berjalan kaki atau kurang lebih 3 kilometer. Tapi jangan bayangkan jalan yang ditempuh Rangga mudah untuk dilewati. Jalur Kampung membelah Kebun Sawit itu sudah luarbiasa becek, penuh kubangan dan amblas menjadi lumpur jika diinjak.

Sementara di ruang-ruang kelas berbilik kayu SDN Muara Medak (Kelas Jauh), kawan-kawan Rangga sudah memulai pelajaran jam pertama. Satu kelas kompak membuka pelajaran dengan mengulang lagi hafalan Al Quran lalu menyimak Pak Guru menerangkan cerita dari Buku Bahasa Indonesia.

Sekira pukul 9 pagi, sejam setelah teman-teman Rangga memulai pelajaran, bocah itu pun muncul dari balik jalan kebun sawit. Wajahnya murung, selalu menunduk, entah apa yang Ia pikirkan sepanjang perjalanan dari rumahnya menuju sekolah. 

Sampai di muka kelas dua, Rangga masih terus murung dan berdiri di muka kelas, tidak mengetuk pintu, tidak mengucap salam. Seketika Ia menangis tanpa suara.

Rumata, bapak guru kelas dua yang mengajar di pagi itu tidak sengaja membuka pintu kelas dan terkejut melihat anak didiknya menangis di muka kelas. “Rangga kenapa? Terlambat karena jalan tidak diantar Ibu? Sudah ayo tidak apa-apa. Jalannya memang rusak kan, Jangan menangis. Ayo masuk kelas Rangga,” kata Rumata sembari mengelus ubun-ubun Rangga.

Tidak berkata apa-apa Rangga masih tersedu-sedan di muka kelas. Dalam hatinya jelas Ia merasa bersalah sekali terlambat di pagi itu karena harus berjalan kaki jauh melintasi jalan rusak berlumpur di tepian kebun sawit.

Rangga bukan anak lelaki cengeng, justru Ia menangis karena perasaan bersalahnya yang teramat dalam tidak bisa datang sekolah tepat waktu.

Selagi melanjutkan pelajarannya, Rumata si Bapak Guru Kelas Dua bercerita bahwa Rangga hanya satu dari sekian banyak anak-anak SDN Muara Medak (Kelas Jauh) yang selalu benci dengan hujan di waktu pagi. “Karena hujan anak-anak bingung harus berangkat sekolah atau tidak. Setengah dari anak-anak sekolah ini rumahnya jauh, paling tidak 40 menit berjalan kaki,” katanya.

Setahun lalu, jarak sekolah lebih jauh lagi

Padahal dulu, sekira satu tahun lalu ketika bilik-bilik kayu SDN Muara Medak (Kelas Jauh) belum berdiri, anak-anak seperti Rangga harus berangkat sekolah lebih jauh lagi setiap pagi. Si bocah-bocah Kampung Bandar Jaya mau tak mau harus berjalan kaki atau diantar naik motor lebih dari 10 kilometer jauhnya.

“Dulu sekolah paling dekat di Desa Muara Medak, 10 kilometer ke timur lagi dengan jalan yang rusak parah lumpur semua. Atau ke sekolah di Desa Mendis Jaya jaraknya 16 kilometer ke barat dengan risiko jalan amblas juga penuh lumpur,” kenang Rumata.

Akan tetapi itu cerita lalu, sudah sejak 2015 ruang-ruang kelas berdiri di Kampung Bandar Jaya, meminjam nama dari SDN Muara Medak ditambah akhiran (Kelas Jauh), sebagai penegas bahwa kelas anak-anak Bandar Jaya memang berjarak jauh sekali dari induknya di Desa Muara Medak.

Walau pada kenyataannya ruang kelas Rangga dan kawan-kawannya yang lain tidak layak disebut sebagai kelas. Hanya papan kayu yang ditumpuk jadi dinding, dan lantai semen tipis yang bisa jadi banjir kalau hujan deras.

Namun bagi Rangga, sekolahnya yang sekarang sudah jauh lebih dekat. Meski di musim hujan seperti sekarang ini Ia masih harus nekat berjalan kaki tiga kilometer setiap hari. Bilik kayu ruang kelas Rangga tetap nyaman untuknya melanjutkan belajar demi cita-cita.

Sementara itu, sudah berjalan hari ke ke-15 pembangunan ruang kelas baru permanen berdinding semen sedang dikebut penyelesaiannya.  Ruang kelas itu untuk Rangga, juga untuk kawan-kawannya yang lain. Persis berada di sebelah ruang kelas kayu SDN Muara Medak (Kelas Jauh).

Tangisan Rangga di pagi itu hanya sekadar rasa bersalahnya karena datang terlambat. Tapi tangisan itu tidak bisa menghentikan semangat Rangga untuk melanjutkan belajarnya. Kurang dari seminggu lagi, Rangga bakal punya ruang kelas baru. Ruang kelas yang lebih nyaman, berlantai keramik dan berdinding luar yang dicat warna-warni.

Karena sekolah adalah semangat mereka setiap pagi. Aksi Cepat Tanggap berkolaborasi dengan Cerah Hati punya hadiah spesial untuk Rangga dan teman-temannya. Jangan menangis lagi Rangga! []

Penulis: Shulhan Syamsur Rijal