Beranda > Berita Terbaru
#SaveHumanity-Save ROHINGYA

SOS Rohingya X (2): Nyala Semangat Ajar Guru Rohingya

15 Feb 2017
SOS Rohingya X (2): Nyala Semangat Ajar Guru Rohingya

ACTNews, Bangladesh, CHITTAGONG - Kehidupan di balik kamp-kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh tak pernah habis mengundang empati. Di satu waktu, ancaman dan trauma kekerasan fisik dan mental kerap menghantui ratusan ribu pengungsi tanpa status kewarganegaraan tersebut. Di waktu lainnya, kelaparan dan penyakit akibat buruknya sanitasi tak luput mengintai. Dan itu semua telah berlangsung selama bertahun-tahun lamanya.
 
Namun demikian, hidup dengan keadaan yang terhimpit tak serta merta melunturkan semangat mereka untuk lebih memperkuat iman. Di balik kamp-kamp pengungsian tersebut, nafas Islam nyatanya masih kental terasa.
 
Selasa pagi itu (31/1), Kamp Dohazari sudah menampakkan rutinitas hariannya. Di selasar tak jauh dari lokasi kamp, sekelompok anak terlihat duduk rapi dan beberapa di antaranya tengah membolak-balikkan buku tulisnya. 
 
Bismillahirrahmannirrahiim. Alhamdulillaahirabbil’aalamiin.” Di depan anak-anak tersebut, Omar (bukan nama sebenarnya) melantunkan ayat demi ayat surat Al Fatihah, yang selanjutnya diikuti oleh anak-anak pengungsi.
 
Omar merupakan salah satu ustadz asal Kamp Dohazari yang mengajar pendidikan agama Islam bagi para anak di sana. Sama seperti pengungsi lainnya, Ustadz berusia sekitar 25 tahun tersebut merupakan warga asli Rohingya yang harus meninggalkan kampung halaman demi menghindari konflik yang berkepanjangan.
 
Setiap Senin hingga Kamis, Ia dan beberapa ustadz lainnya senantiasa mendidik dan menyemangati ratusan anak pengungsi untuk terus mempelajari Islam. Di selasar madrasah itulah, para murid menadah ilmu, mengaji, dan mempelajari nilai-nilai Islam lainnya.
 
Tak banyak penghasilan yang didapatkan dari mengajar, namun hal itu tak menyurutkan para ustadz Rohingya tersebut untuk terus mendidik generasi penerus mereka. Islam sudah menjadi bagian dari hidup mereka berabad-abad lamanya. Identitas ini lah yang ingin mereka jaga kelangsungannya, terlepas dari segala keterbatasan yang mereka miliki.
 
Semangat mewariskan ilmu bagi para anak pengungsi Rohingya terus hidup. Dan untuk mereka, para pengungsi sekaligus mujahid ilmu, Aksi Cepat Tanggap melalui Tim SOS for Rohingya X menggulirkan bantuan kemanusiaan berupa tunjangan guru.
 
Program Tunjangan Guru juga merupakan bentuk bantuan kemanusiaan jangka panjang yang ditujukan bagi para pengungsi Rohingya, khususnya guru. Tidak hanya di Kamp Dohazari, program tersebut juga menyasar beberapa kamp yang tersebar di Bangladesh.
 
“Ada 75 ustadz yang menerima manfaat dari program ini. Mereka semua asli pengungsi Rohingya yang berasal dari Kamp Leda, Kamp Kutupalong, Kamp Musani, Kamp Dohazari, Kamp Shaplapor (Teknaf), Ramu (Cox’s Bazar), Patiya, dan Sakdala (Padua),” ungkap Muhammad Faisol Amrullah, salah satu anggota Tim SOS for Rohingya X.
 
Menjelang sore di Al Hadarah Islamic School di Padua (salah satu wilayah administrasi Distrik Chittagong), ACT berkesempatan bertemu dengan seluruh 75 ustadz yang telah berdedikasi dalam memajukan pendidikan anak pengungsi Rohingya. Dalam hangatnya silaturrahim, ACT dan mitra menyampaikan kabar baik itu: bantuan tunjangan bagi para guru. 
 
“Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah,” ucap salah satu ustadz saat mengetahui dirinya akan menerima tunjangan sebesar USD 100 setiap bulannya selama setahun. 
 
 Ya, selama setahun ACT berkomitmen untuk menyejahterakan para guru pengungsi yang setia mengalirkan ilmu agama mereka kepada para Rohingya kecil. 
 
“Menurut kami, Program Tunjangan Guru (Teacher Sponsorship Program) ini lebih dari sekadar bantuan kemanusiaan. Ini adalah penghargaan sekaligus penyemangat bagi para ustadz Rohingya yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran mereka untuk mendidik anak-anak di sana,” tambah Faisol.
 
Di penghujung maghrib, silaturrahim sekaligus pendistribusian bantuan tunjangan guru rampung tertunaikan. Semangat mengajar kian menyala di wajah para guru pengungsi. Tujuh puluh lima ustadz siap majukan pendidikan bagi sekitar 3400 siswa pengungsi di delapan kamp pengungsian di Bangladesh. 
 
(bersambung) 
 
Penulis: Dyah Sulistiowati