DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

13 Tahun WTP Tanpa Jeda

Kolom
13 Tahun WTP Tanpa Jeda

Iqbal Setyarso

Vice President ACT

 

Kerja profesional tim ACT diganjar nilai positif. Yang ini bermakna strategis karena mencerminkan kinerja. Bukan dari masyarakat donatur atau pejabat negara, tapi dari akuntan publik independen

Bertanggal 4 Juni 2018, kantor akuntan publik Razikun Tarkosunaryo (RTS) memberi predikat tertinggi dalam proses audit finansial: Wajar Tanpa Pengecualian/WTP. Laporan nomor RTS-2018.ACT2017.52.4, menyajikan hasil audit satu tahun aktivitas ACT sejak 31 Desember 2017. WTP mengokohkan ikhtiar merawat amanah. Pencapaian ini konsisten dipertahankan 13 tahun berturut-turut!

ACT memandang penting proses audit karena hal yang diperjuangkan lembaga ini adalah nilai. Ukuran keseriusannya adalah seberapa besar ikhtiar lembaga ini terbuka atas aktivitas keuangannya di hadapan akuntan publik. Itu ikhtiar duniawinya. 

Hal yang selalu mengiringi kerja seluruh personil ACT adalah kesadaran bahwa kerja di lembaga ini bukan untuk meraih predikat WTP, mendapat apresiasi publik, atau meraih kepercayaan publik. Yang utama yakni meraih "kepercayaan langit". Maka proses internal audit mengiringi aktivitas lembaga. 

“Untuk menguatkan proses ini, tahun ini kami secara sadar memilih auditor syariah. Lebih spesifik, lebih detail, tetapi kami juga belajar untuk meningkatkan prudensialitas aktivitas penggunaan keuangan lembaga," jelas Hariyana Hermain, Senior Vice President ACT yang membawahi urusan keuangan ACT.

Kami sampaikan cerita ini untuk berbagi energi sukacita, betapa kami bersungguh-sungguh menjaga amanah sampai meraih predikat WTP. WTP bukan hasil lobi atau proses transaksional. Predikat ini adalah hasil kerja keras mengelola keuangan lembaga di satu sisi, dan kejelian auditor memastikan yang diperiksanya benar-benar sewajarnya dan sesuai syariah. 

Kesungguhan ini bukan semata untuk menenangkan dan meyakinkan publik. Lebih dari itu, kami pun berikhtiar sebaik-baiknya untuk menaat-azasi prinsip syariah. Hal ini mengingat ACT berkembang menjadi saluran amanah beragam filantropi Islam. 

Memutuskan memilih auditor syariah, bukan menjadikan proses audit kian sederhana, justru makin detail. Rumit tapi menenteramkan. Semoga masyarakat Indonesia umumnya, dan donatur ACT mengerti, ACT sadar tidak bertanggung jawab kepada donatur saja. Lebih dari itu, ACT bertanggung jawab kepada Sang Khalik.

Pencapaian hasil audit ini, bukan untuk dirayakan atau dibanggakan karena ini sejatinya sebuah keharusan moral lembaga pengelola dana publik. ACT berharap, ini diterima sungguh-sungguh sebagai standar organisasi yang memantaskan kami mengurus amanah. Bos kami, pemilik usaha kami, adalah Sang Maha Kuasa yang tak menoleransi penyimpangan, apalagi korupsi tingkat manapun. Jadi amat tidak pantas, memandang ACT organisasi abal-abal. 

Setidaknya, akal sehat kita semua terjaga dengan menghargai kesungguhan ACT 13 tahun membuka diri diaudit akuntan publik independen. Kami percaya "hukum besi" lembaga publik: transparan dan partisipatif. 

Saat sebuah lembaga transparan dalam aktivitasnya, ia akan menggerakkan partisipasi. Tidak transparan? Lewat! Gangguan atas lembaga yang teruji transparan dan partisipatif, selain melawan akal sehat, ia menggerakkan advokasi partisipan atas lembaga ini.

255

TAGS