DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Banjir Bandang Terjang 15 Desa di Lombok Timur, Ratusan Rumah Rusak

Banjir Bandang Terjang 15 Desa di Lombok Timur, Ratusan Rumah Rusak

ACTNews, LOMBOK TIMUR - Memasuki awal musim penghujan di November 2017, derasnya hujan telah memicu serangkaian cerita pilu dari pulau Lombok, tepatnya di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Sabtu kemarin (18/11), kala deras hujan belum juga berhenti sejak pagi hari, tiba-tiba saja banjir bandang datang.  

Tanpa pernah diprediksi sebelumnya, deras hujan di Sabtu itu membuat dua buah embung di bagian bawah dari Bendungan Pandandure, di Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur meluap. Air luapan dari bendungan besar itu pun tumpah deras, berubah menjadi bandang yang menghantam belasan desa sekaligus di empat kecamatan yang berbeda.

Mengutip pernyataan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, sedikitnya ada 15 desa di 4 kecamatan di Kabupaten Lombok Timur yang “tenggelam” diterjang bandang. Bandang menggulung Kecamatan Keruak, Kecamatan Jerowaru, Kecamatan Sakra dan Kecamatan Sakra Barat.

Banjir datang hanya sesaat menjelang azan Maghrib. Dalam keterangan persnya, Sutopo mengatakan sekira pukul 17.30 WIB banjir dengan deras menggulung 15 desa sekaligus.

Kecamatan Seruak menjadi kecamatan terdampak banjir paling parah, di Seruak setidaknya 10 desa digulung bandang. Banjir di Seruak menenggelamkan setidaknya 10 desa, yakni Desa Setungkeplingsar, Selebung Ketangge, Ketapang Raya, Ketangge Jeraeng, Batu Putik, Sepit, Senyiur, Mendana Raya, Batu Rampes, dan Desa Bintang Oros.  

Evakuasi darurat pun dilakukan dalam gelap malam, melawan arus, tanpa penerangan yang mencukupi. Sutopo mengatakan, banjir bandang tersebut telah menyebabkan dua orang meninggal dunia.

Dua korban meninggal atas nama Wasila Cantika (9) seorang bocah dari Dusun Lokon, Desa Sepit, Kecamatan Keruak dan Rozi Gazali (16) remaja warga Dusun Mangkik, Desa Pandang Wangi, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur.

“Seorang atas nama Cantika karena kejatuhan bangunan. Seorang lagi atas nama Rozi Gozali meninggal karena hanyut diseret bandang,” terang Sutopo dalam keterangan persnya. 

Selain mengakibatkan dua orang warga meninggal dunia, banjir bandang di Lombok Timur Sabtu kemarin juga merusak 367 unit rumah. Dari jumlah tersebut, pendataan awal Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB mengatakan, setidaknya 125 rumah rusak berat, 223 rumah rusak sedang, 19 rumah rusak ringan, 20 jembatan penghubung desa rusak, dan satu masjid rusak.

Sampai banjir bandang mereda, Senin (20/11) data terkini menyebutkan sekira 643 KK atau lebih dari 2.280 jiwa di empat kecamatan di Lombok Timur terdampak banjir bandang.

Sementara itu, menyikapi dampak banjir yang meluas, terhitung sejak Sabtu kemarin BPBD NTB sudah menetapkan waktu tanggap darurat selama tujuh hari. Tanggap darurat banjir di Lombok Timur berlaku dari Sabtu (18/11) hingga sepekan ke depan Jumat (24/11).

Kepala Pelaksana BPBD NTB Muhammad Rum mengatakan, kebutuhan mendesak yang sangat diperlukan selama sepekan ke depan meliputi kebutuhan logistik pangan.

“Saat ini warga sangat membutuhkan air bersih, makanan siap saji, juga selimut, terpal dan alat-alat kebersihan pribadi (personal hygiene),” jelas Muhammad Rum.

Curah hujan masih tinggi di Lombok, potensi banjir belum berakhir

Sampai Senin (20/11) tim emergency response dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Lombok dan Aksi Cepat Tanggap (ACT) cabang NTB sudah turun langsung ke lokasi banjir di wilayah Lombok Timur.

Romi Saefudin, salah satu tim emergency response ACT Lombok mengatakan, upaya pemulihan di fase emergency menghadapi kendala yang cukup sulit.

“Tantangan di lapangan jadi berkali-kali lipat. Pasalnya curah hujan masih tinggi, potensi hujan di seluruh wilayah Lombok belum berakhir. Belum lagi dengan lumpur dan sisa banjir yang masih menyebar menutupi akses jalan,” kata Romi.

Melanjutkan aksi di fase darurat, tim emergency response ACT memfokuskan aksi pada distribusi bantuan makanan siap saji.

“Kita akan membuka dapur umum, digerakkan oleh MRI dan ACT NTB kita akan buka posko dapur umum di titik terdampak banjir paling parah. Sejak sarapan dan makan siang kita suplai makanan siap santap,” ungkap leader MRI Lombok Tengah, M. Roby Satriawan.  []

sumber foto: dokumentasi BPBD, dokumentasi MRI NTB

TAGS