DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Berbuka Daging Kari di Masjid Al-Aqsha Pulau Sebatik

Tepian Negeri
Berbuka Daging Kari di Masjid Al-Aqsha Pulau Sebatik

ACTNews, SEBATIK – Penanda lokasi di layar telepon pintar kami, menunjukkan lokasi yang meleset sedikit. Alih-alih tertulis Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, justru yang ditampilkan adalah penanda lokasi di Kota Tawau, Negeri Sabah, Malaysia.

Dua lokasi ini pada dasarnya memang sangat berdekatan. Hanya dibatasi oleh selat tipis, tak lebih dari 15 menit perjalanan speedboat. Dekat, namun sangat berbeda, saling bertolak belakang. Antara kota Tawau yang ramai, dan desa-desa di Pulau Sebatik yang sunyi.

Ahad (10/6), sore kemarin, kami Tim ACT untuk Paket Pangan Ramadan untuk Masyarakat Penjaga Negeri (PPR-MPN) sekali lagi menghabiskan senja Maghrib di salah satu desa di Pulau Sebatik. Meski penanda lokasi di gawai menunjukkan posisi yang meleset, tapi waktu menit-menit berbuka tak berbeda sama sekali antara Tawau dan Sebatik. Hari itu, tenggelamnya matahari di Sebatik dijadwalkan terjadi pukul 18.20 WITA. Hari itu menjadi hari spesial, sebab bakal menjadi senja terakhir yang bisa kami nikmati di Sebatik.

Beberapa hari sebelumnya, selama empat hari berturut-turut, total sebanyak 1.000 paket pangan terdistribusikan merata untuk seluruh wilayah Sebatik. Paket-paket pangan itu sengaja disiapkan, menjadi bingkisan lebaran untuk ribuan Masyarakat Penjaga Negeri yang menetap di tapal batas.

Lebih spesial, lagi, senja hari Ahad itu pun bakal ada acara istimewa di masjid yang istimewa. Kami mengajak seluruh warga Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah untuk memotong satu ekor sapi, berbuka puasa bersama, merayakan kebersamaan di tapal batas!

Daging Kari di Masjid Al-Aqsha 

Nama masjid ini memang istimewa, tertulis di bawah kubahnya Masjid Al-Aqsha. Berada di pinggir jalan utama (juga jalan raya satu-satunya) yang mengelilingi Pulau Sebatik. Kubahnya hijau, jamaahnya tetap membeludak meski Ramadan tinggal tersisa hitungan hari.

Salah satu jamaah Masjid, Herman namanya, mengatakan pada kami bahwa nama masjid ini memang sengaja dibuat menyerupai Masjid Al-Aqsha di Yerusalem, Palestina. “Agar semangat perjuangan Muslim Sebatik bisa menyerupai semangat warga Palestina di Yerusalem,” ungkapnya.

Sejak Ahad pagi, seluruh proses masak memasak mulai dikerjakan. Seekor sapi besar disembelih di depan halaman Pos Pamtas Yonif 621 Manuntung. Kawan-kawan prajurit dari TNI penjaga perbatasan, ikut membantu kami menyembelih sapi, dan mencacahnya jadi daging-daging kecil.

Kemudian untuk urusan bumbu dan resep masakan, diserahkan seluruhnya ke ibu-ibu Desa Aji Kuning. Deretan menu-menu sedap disiapkan bersamaan. Jelly, es buah, kurma, sate goreng, sup tulang, ayam pedas, daging kecap, dan yang paling spesial daging kari.

“Menu yang kami siapkan menu Bugis, Insya Allah semua pasti suka. Daging kari bumbu Bugis,” kata sekelompok Ibu kompak di dapur sebuah rumah dekat Masjid Al-Aqsha. Suku Bugis memang mendominasi di seluruh Pulau Sebatik.

Jelang Maghrib, ratusan porsi menu daging kari diboyong ke halaman depan Masjid Al-Aqsha. Satu-persatu warga sekitar Aji Kuning datang merapat. Rinal Satria, Koordinator implementasi Paket Pangan Ramadan di Sebatik mengatakan, warga yang diundang tak hanya dari Aji Kuning saja.

“Aji Kuning ini menjadi pos perbatasan paling dekat dengan tapal batas, paling dekat dengan patok perbatasan Indonesia – Malaysia. Tapi kami tak hanya mengundang dari Aji Kuning saja. Ada juga warga dari desa lain seperti Desa Bukit Harapan, Desa Maspul, juga Desa Seberang,” ujar Rinal.

Jam berbuka tiba, tepat 18.20 WITA. Di sini, di tapal batas Indonesia-Malaysia harum nasi daging kari mengepul disantap bersama. “Alhamdulillah kami bisa menyelesaikan amanah makan bersama Masyarakat Penjaga Negeri di Pulau Sebatik. Seekor sapi besar bawa keberkahan untuk ratusan warga. Tidak sedikit juga yang akhirnya bawa pulang satu-dua porsi makanannya untuk keluarga di rumah,” pungkas Rinal. []

 

TAGS