DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Berkah Iduladha Sampai ke Kawasan Konflik Nigeria

Global Qurban
Berkah Iduladha Sampai ke Kawasan Konflik Nigeria

ACTNews, ADAMAWA – Menjelang hari raya kurban tahun 2017 lalu, bulan September hadir dengan perkiraan masuknya musim penghujan di seluruh wilayah Nigeria. Musim hujan berarti bersiap untuk memulai lahan pertanian. Musim hujan menandai bakal datangnya kesuburan tanaman pangan di wilayah-wilayah gersang Nigeria. Millet (semacam biji-bijian, sereal) menjadi makanan pokok yang dinantikan panennya bagi warga di pinggiran Nigeria.

Namun, semangat untuk memulai lahan pertanian baru itu, rupanya tak pernah berlangsung membahagiakan.

Pasalnya, sudah bertahun-tahun terakhir, beberapa negara bagian di Nigeria terbenam dalam ketakutan dan kelumpuhan karena konflik. Berbagai konflik komunal berkembang liar di Nigeria, entah itu dipicu sekelompok ekstremis, atau konflik antar etnis. Pusaran konflik, terpusat di bagian sebelah utara Nigeria. Bagian dari negeri itu yang dipenuhi oleh populasi mayoritas Muslim.

Impaknya luar biasa. Konflik antaretnis yang terjadi sejak 2016 saja, telah menyebabkan korban tewas lebih dari 2.500 jiwa. Sementara itu, konflik antar etnis juga memaksa 62.000 warga sipil terusir dari rumahnya, tak berdaya menjadi pengungsi. Jumlah tersebut belum termasuk angka korban tewas dan pengungsi yang terpapar teror dari para ekstremis sejak tahun 2009 silam. 

Tahun lalu, Global Qurban hadir di Adamawa

Nama kawasannya Adamawa, sebuah negara bagian Timur Laut Nigeria. Setahun lalu, di pekan pertama September 2017, Tim Global Qurban hadir di wilayah ini. Berada di tengah kumparan konflik Nigeria, perayaan kurban di Adamawa berlangsung sederhana, membawa serta berkah Iduladha.

Hamid Ahamed Kanneh, perwakilan Global Qurban di Nigeria berkata, sajian daging kurban menjadi pelengkap gizi yang sangat ditunggu, khususnya di wilayah gersang dan tandus Adamawa. Dalam laporan lengkapnya, Hamid menuliskan data, populasi Muslim di Adamawa berjumlah lebih dari 10,8 juta jiwa.

Sejak hari pertama kurban, hingga hari tasyrik ketiga, kurban untuk Nigeria berhasil didistribusikan untuk 1.110 warga di tiga distrik yang berbeda. Meliputi Adamawa, Lagos, dan Mawo.

Seorang Imam asal Adamawa, Syekh Abdullah Musa mengatakan, gizi dari daging kurban adalah pelengkap di saat seluruh panen millet belum bisa diharapkan. Terlebih, bulan September tahun lalu panen millet di bayang-bayangi ketakutan petani kala mereka bekerja sendirian di tengah ladang luas.

“Serangan dari para ekstremis di Nigeria bisa terjadi kapan saja di mana saja. Kami bekerja di ladang tidak bisa jauh-jauh dari pantauan warga desa. Dari televisi lokal kami mendengar, ada sekitar 15 juta warga sipil Nigeria terpapar langsung kekerasan para ekstremis di wilayah utara Nigeria. Kami takut serangan itu terjadi kepada kami dan keluarga kami," kata Abdullah Musa.

Bahkan beberapa bulan sebelum kurban tahun lalu, Hamid menceritakan tentang rentetan kejadian teror yang menyerang Adamawa, Borno, dan Yobe.

“Juli tahun 2017 silam. Setiap harinya kami mendengar tentang bom bunuh diri, serangan brutal ekstremis ke warga sipil. Ironisnya, tidak sedikit dari serangan-serangan brutal itu justru malah menyasar ke kamp pengungsi internal,” tulis Hamid dalam laporannya.

Sejak mulai memanas tahun 2009, konflik komunal di bagian Utara Nigeria telah berlangsung lebih dari sembilan tahun. Sampai menjelang hari raya kurban tahun 2018 ini, konflik belum akan berakhir. Hamid mengatakan, sembilan tahun konflik terjadi telah mengusir lebih dari dua juta warga Nigeria. Terusir tanpa rumah, terhimpit krisis pangan akut dan malnutrisi.

Tantangan berkurban kembali untuk nigeria

Krisis belum berhenti. Tahun ke tahun di Nigeria justru makin memburuk. Mengutip laporan Kantor Berita Jerman Deutsche Welle, fondasi kekuatan Nigeria hari ini justru berada di wilayah desa-desa di pinggiran Nigeria, fondasi itu ada di tangan para petani dan penggembala.

Semakin banyak petani dan penggembala ternak yang kehilangan pekerjaannya karena konflik tak berhenti, akan berimbas langsung pada kelaparan yang makin parah, bahkan di seluruh Nigeria.

“Tahun lalu, saya sudah lupa berapa hari keluarga saya harus bertahan tanpa makanan sama sekali. Karena konflik makin buruk, saya optimis kondisinya akan lebih baik di tahun berikutnya,” kata Ghani, seorang warga yang bermukim di bagian utara Nigeria.

Peliknya masalah sosial di Nigeria, menjadi alasan kuat Global Qurban akan kembali lagi ke Nigeria di Iduladha tahun 2018 ini. Firdaus Guritno dari Global Humanity Response – Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengatakan, komunitas Muslim di utara Nigeria menjadi target utama distribusi Global Qurban di tahun 2018 ini.

“Insya Allah Global Qurban akan kembali lagi untuk Nigeria. Di tengah bencana malnutrisi, konflik tak selesai, dan serangan ekstremis, Muslim di Utara Nigeria termasuk dalam populasi paling teraniaya. Mayoritas yang tinggal di kamp-kamp pengungsian adalah anak-anak dan perempuan,” pungkas Firdaus.  [] 

647

TAGS