DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Bersama Kemensos RI, ACT Kokohkan Peran Kemanusiaan Indonesia

Bersama Kemensos RI, ACT Kokohkan Peran Kemanusiaan Indonesia

ACTNews, JAKARTA -  Misi kemanusiaan mengatasnamakan bangsa sudah selayaknya bersifat besar, serius, dan berdampak. Setelah dua kali melabuhkan jangkarnya di Somalia, kini Kapal Kemanusiaan yang diinisiasi Aksi Cepat Tanggap akan merapat ke Bangladesh.

Sinergi bersama beberapa pihak pun dibentuk, termasuk dengan Pemerintah Indonesia. Senin (11/9), ACT mengadakan pertemuan dengan Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa di Jakarta terkait Kapal Kemanusiaan untuk Rohingya.

Dalam pertemuan itu, Presiden ACT didampingi Senior Vice President ACT Syuhelmaidi Syukur dan Hariyana Hermain, Vice President ACT Ibnu Khajar, M. Insan Nurrohman, dan Iqbal Setyarso, Divisi Legal Yhogi S. Gunawan, perwakilan PT Samudera Indonesia Iman Supiandi dan Dani Zaelani selaku mitra penyedia Kapal Kemanusiaan ke Bangladesh.  

"Pilihan tepat kalau kali ini menggandeng Kementerian Sosial," ungkap Presiden ACT Ahyudin dalam pertemuan tersebut.

Ahyudin memaparkan, kiprah ACT di pentas kemanusiaan global (sedikitnya di 40 negara)  merupakan bagian ikhtiar dalam meneruskan peran strategis mengangkat nama baik bangsa.  

"Dukungan terbesar kami datang dari rakyat kecil negeri ini. Terlebih untuk Rohingya, kami memperoleh amanah terbesar sepanjang 12 tahun ACT berdiri. Ratusan kardus berisi uang recehan, pecahan seribu hingga sepuluh ribu rupiah, sampai ditolak bank saat mau kami bukukan. Artinya, masyarakat kecil lah yang mendukung dan punya kepedulian besar pada kemanusiaan. Kaum elitnya, belum mengekspresikan kepedulian. Masih sedikit sekali," papar Ahyudin.

Fenomena ini membuat bangsa Indonesia punya harapan besar. "Kalau rakyat sudah gemar berbagi dan tidak terlalu mencintai hartanya, mereka pasti siap membela negeri ini dari gangguan apapun. Kita punya ketahanan sosial hebat ketika berhadapan dengan pengganggu negeri ini, " urai Ahyudin.

Kepada Khofifah, Ahyudin lantas menambahkan, krisis Rohingya yang semakin memuncak harus disikapi dengan langkah signifikan di pentas global. Menurutnya, Indonesia masih punya wibawa untuk terlibat serius serta memberikan solusi nyata. Indonesia layak tersinggung jika kiprah negara lain, apalagi dari luar kawasan ASEAN, lebih berperan.

Maka, imbuh Ahyudin, dengan dukungan rakyat, Kapal Kemanusiaan untuk Rohingya harus mendahului menolong para pengungsi yang lari ke Bangladesh. "Dan kami memandang Mensos RI sosok yang tepat untuk melepas kapal ini dari Tanjung Perak, Surabaya," kata Ahyudin.

Pada kesempatan itu, ia juga memaparkan bahwa bantuan yang diberikan bukan hanya pangan. Setidaknya 1000 unit unian sementara akan disiapkan di Bangladesh. Untuk memuliakan pengungsi, ACT segera mewujudkan layanan Humanity Distribution Center.

HDC memiliki fungsi seperti 'mal' yang bisa diakses pengungsi sebagai penerima manfaat dengan menggunakan Humanity Card (HC). Pemilik HC cukup menggunakan kartu tersebut dan memilih sendiri kebutuhannya dalam jumlah tertentu.

Papar Ahyudin, kolaborasi rakyat sebagai pemberi amanah, dengan Mensos mewakili pemerintah, menunjukkan kepaduan konkret dan penuh solusi di atas landasan kemanusiaan. Regulasi bantuan sosial yang mungkin menjadi kendala dalam mempercepat peran penyelamatan harus memperoleh perlakuan khusus.

“Kami yakin, jika regulasi harus memberi dispensasi demi penyelamatan, hal tersebut bukanlah suatu pelanggaran kemanusiaan. Kalau regulasi internasional justru memberi peluang kematian atau kesengsaraan masif, hal inilah yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Bu Khofifah paham harus bagaimana berperan nyata memuliakan nama bangsa," ungkap Ahyudin.

Pada pertemuan itu, Khofifah tak sekadar mengapresiasi. "Saya akan lakukan yang terbaik. ACT sudah menyiapkan bantuan atas nama bangsa, sekaligus kapalnya. Kami coba dukung sebaik dan secepat mungkin. Kami, aparat Kementerian Sosial, sudah biasa tidak kenal libur," kata Khofifah.

Ia menambahkan, secepat apa ACT berupaya dan masyarakat mengulurkan bantuan, Kementerian Sosial mencoba mengimbangi. Langkah kemanusiaan membawa nama bangsa, terlebih yang bersifat penyelamatan jiwa, sungguh tak elok jika kelewat birokratis apalagi sarat basa-basi.

Semoga angin perubahan positif untuk krisis Rohingya, bertiup dari Indonesia. Indonesia, rakyat, dan pemerintahnya, menjadi bangsa yang selalu menawarkan solusi, bukan melestarikan masalah. []

TAGS