DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Dalam Gelap Listrik Padam, Bocah Gaza Tetap Rutin Menghafal Qur’an

Let's Save Palestine
Dalam Gelap Listrik Padam, Bocah Gaza Tetap Rutin Menghafal Qur’an

ACTNews, GAZA – Listrik, di ibu kota Jakarta yang gemerlap, bagaikan air yang mengalir. Ketersediaan listrik begitu tumpah ruah hingga gawai yang kita miliki pun entah berapa kali terhubung dengan pengisi daya. Ketergantungan kita terhadap listrik justru membuat kita tak berdaya ketika listrik padam. Sekali saja, listrik padam yang ada hanya keluhan, gerutu, bahkan kekesalan yang luar biasa.

Namun, bagi anak-anak Gaza di Palestina, bangun pagi dalam keadaan bertemu listrik merupakan sebuah kebahagiaan.

“Tidak seperti di Indonesia setiap hari kita dapat menikmati listrik. Di Gaza, kami hampir tak pernah bertemu listrik. Bagi kami, bangun tidur lalu ada listrik adalah sebuah kebahagiaan,” tutur Yahya, seorang pemuda asal Gaza, Palestina. Hari itu, di akhir Desember 2017, Yahya bercerita langsung tentang kondisi tanah kelahirannya kepada ACTNews di Jakarta.

Namun siapa sangka dibalik ketiadaan listrik, anak-anak Gaza tumbuh menjadi insan jenius dengan IQ yang berada di atas rata-rata. Yahya menuturkan, adiknya, anak tetangganya, dan teman-teman masa kecilnya tumbuh sebagai anak-anak Gaza yang cerdas. 

Lantas, bagaimana mereka dapat memiliki otak sebegitu cemerlang di tengah keadaan yang serba sulit?

Dalam kesempatannya menyambangi Indonesia untuk pertama kalinya, Yahya berkisah bahwa ia baru saja melintas gerbang perbatasan Rafah 17 Desember lalu. Ia pun menuturkan kisah kehidupannya lahir dan besar di tanah konflik.

“Di Gaza lebih memprihatinkan, dengan adanya kungkungan penjara dari Zionis, berbagai macam krisis terjadi mulai dari kelaparan, ketiadaan sanitasi dan yang terpenting adalah krisis listrik. Dalam sehari, listrik biasanya hanya menyala selama 2 jam. Itu pun menyala justru di waktu kami tidur,” ujar pemuda kelahiran 1996 tersebut.

Maka, setelah lewat dari dua jam, penduduk Gaza tidak akan lagi menemukan listrik. Hal paling beruntung adalah jika mereka mendapat pasokan listrik selama lebih dari 6 jam sehari. Momen ini biasanya terjadi ketika ada limpahan listrik yang cukup dari generator tua yang dinyalakan di beberapa sudut Kota Gaza. Tetapi, hal ini sangatlah jarang terjadi.

Oleh karenanya, anak-anak Gaza terbiasa hidup tanpa listrik. Namun demikian, situasi dan kondisi yang pelik tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap belajar terutama dalam mengkaji Al-Quran.

Sedari fajar mulai membentang, anak-anak Gaza telah berkumpul dalam halaqah di masjid. Sedang para hafidz yang telah akil-baligh memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Quran untuk kemudian mereka hafalkan.

Bagi mereka Al-Quran adalah yang utama, mereka belajar hinggaZuhur. Barulah selepas Zuhur mereka menuntut ilmu ke sekolah. Dan lagi-lagi, pelajaran yang utama adalah pembelajaran Al-Quran.

“Al-Quran adalah napas, dengannya kami hidup. Tidak pernah sekalipun kami meninggalkan Al-Quran. Oleh sebabnya, dengan keadaan yang begitu terbatas, kami tetap dapat hidup dan berjuang, meskipun dalam keadaan terkepung dan tanpa adanya fasilitas. Ini sudah menjadi hal yang wajar dan menyebar ke seluruh daerah di Jalur Gaza,” tutur Yahya.

Bahkan eetiap bulan, gelaran penghargaan untuk para hafiz Quran dilangsungkan di Gaza. “Ada ratusan anak Palestina yang diwisuda sebagai hafiz Al Quran dengan hafalan yang berkisar dari 10 juz, 25 juz, hingga 30 juz,” ujar Yahya.

Di Khan Yunis, mayoritas anak-anak Gaza hafal Al-Qur'an

Termasuk di tanah kelahiran Yahya sendiri, Khan Yunis di sebelah sisi timur wilayah Gaza, berbatasan darat langsung dengan Israel. Menurut Yahya, di bulan Desember lalu desanya yang hanya berpagar tembok tinggi dengan Israel, baru saja menggelar wisuda bagi penghafal Al-Quran. Sebanyak 200 orang diluluskan dalam wisuda penghafal Quran tersebut.

“Jangan ditanya apakah mereka sempat memiliki waktu bermain. Mungkin ada, tapi bagi mereka tak ada waktu luang selain untuk berjihad,” tutur Yahya menyimpulkan apa yang ada di hati sebagian besar anak-anak Gaza.

Situasi dan kondisi yang pelik telah memacu mereka untuk menjadi para penghafal Al-Quran di usia yang masih begitu belia. Sebab tak ada lagi yang mampu mereka lakukan untuk menjadi bekal jihad sekaligus syahid mereka.

“Jika kami masih bermain, menurut kami ini merupakan suatu pengkhianatan. Sebab, tak ada yang lebih penting selain berjihad,” tegas Yahya.

Bergeser ke Selatan Khan Yunis, tepat di daerah perbatasan antara wilayah Palestina dengan wilayah Israel, Yahya menuturkan tak ada rumah atau bangunan apapun selain tenda-tenda seadanya. Tenda terbuat dari terpal-terpal lusuh.

“Mengapa hanya terpal? Sebab kalau ada sebentuk pun bangunan permanen pasti langsung diledakkan meskipun hanya dari papan,” ujarnya.

Ketika setidaknya anak-anak yang berada di dalam kota Gaza masih dapat bersekolah, beda nasib dengan mereka di perbatasan Khan Yunis dan Israel. “Mereka yang tinggal di perbatasan tidak akan pernah mengenyam bangku pendidikan,” tuturnya.

Namun menurut Yahya, bocah-bocah di Khan Yunis, perbatasan antara Israel dan Gaza, jauh lebih pintar dari anak-anak yang bersekolah. Hampir semuanya adalah hafiz Quran. Mereka juga lebih tangguh dan berani sebab merekalah garda terdepan menghadapi tentara Israel. Mereka yang setiap hari selalu melawan tentara Israel, dan setiap hari pula para syuhada berjatuhan.

“Mereka tidak takut karena mereka telah menguasai Al-Quran. Al-Quran adalah utama, tidak masalah tidak mempelajari ilmu lain. Yang terpenting adalah Al-Quran sebab Al-Quran adalah muara segala ilmu,” pungkas Yahya. []

TAGS