DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Dari Dapur sampai Posko Kesehatan, Aksi ACT Pulihkan Banjir Aceh Utara

Dari Dapur sampai Posko Kesehatan, Aksi ACT Pulihkan Banjir Aceh Utara

ACTNews, ACEH UTARA - Jumlah warga yang mengungsi karena banjir besar di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, tak bisa dibilang sedikit. Bayangkan saja, dari 27 kecamatan yang ada, sebanyak 23 kecamatan mengalami nasib serupa; diterjang banjir besar. Jumlah pengungsi akhirnya membeludak, sebagian besar memilih untuk meninggalkan sementara rumah mereka yang tergenang.

Melansir data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Utara, jumlah pengungsi terkini Rabu (6/12) kemarin mencapai sedikitnya 16.375 warga. Titik pengungsian darurat terpaksa dibuat di beberapa balai desa, gedung sekolah, bahkan di pinggiran jalan lintas nasional antara Banda Aceh-Medan.

Data lain dari BPBD juga menyebut, 16 ribu lebih pengungsi itu sedikitnya menyebar di 56 titik pengungsian di 23 kecamatan yang berbeda.

Sementara, pengungsi terbanyak berasal dari Kecamatan Lhoksukon, Ibukota Aceh Utara. Jumlah pengungsi di Lhoksukon membeludak mencapai 8.586 jiwa.

Relawan dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Aceh Utara mengatakan, dari beberapa posko pengungsi yang disambangi, sejumlah pengungsi hari Kamis (7/12)mencoba kembali ke rumah karena banjir sudah mulai surut.

“Tapi di beberapa wilayah seperti di Lhoksukon banjir masih menggenang, antara 50 cm sampai ketinggian 1 meter. Air banjir cenderung tergenang karena arah aliran air yang tak ada atau tak berjalan,” jelas Rouzi Haristia, Koordinator Aksi MRI Aceh Utara.

Dapur umum dan pelayanan kesehatan, ACT bantu pulihkan Aceh Utara

Jumlah pengungsi yang masih membeludak, menimbulkan masalah baru. Rouzi menceritakan, bahkan di beberapa lokasi mereka harus mengungsi di tepi-tepi jalan dengan menggelar tenda atau hanya alas tidur sekedarnya di aspal jalanan yang tak kena banjir.

Langsung dari Lhoksukon, Rouzi melaporkan, lumpuhnya segala aktivitas warga ditambah genangan banjir yang masih belum surut akhirnya menimbulkan sejumlah masalah, kelaparan kini mengancam para pengungsi, masalah kesehatan juga menyerang di posko pengungsian.

“Merespons hal ini Tim Emergency Aksi Cepat Tanggap (ACT) juga gabungan dari MRI Aceh Utara segera mendirikan posko tanggap darurat serta dapur umum guna menyuplai logistik darurat bagi warga terdampak banjir di Aceh Utara,” jelas Rouzi.

Dibantu oleh tiga orang anggota Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Lhokseumawe, Tim Emergency Response ACT bergerak menyalurkan bantuan makanan siap saji, obat-obatan, air mineral, dan selimut ke titik-titik lokasi pengungsian yang tersebar di empat wilayah di Meunasah Dayah.

Sampai laporan ini diunggah, posko tanggap darurat dan dapur umum ACT untuk pengungsi banjir Lhoksukon didirikan di depan Tugu Lhoksukon, wilayah Menasah Dayah, Lhoksukon, Aceh Utara.

Usai posko dan dapur umum mulai mengepul, aksi berikutnya yang mulai dilakukan Tim Emergency Response ACT di Aceh Utara adalah menjalankan pelayanan kesehatan.

“Alhamdulillah Tim Medis ACT sudah berkomitmen untuk bergerak ke satu desa ke desa lain. Pelayanan kesehatan akan dilakukan di beberapa desa terdampak paling parah. Aceh Medical Response dan Ikatan Dokter Lhokseumawe siap bantu posko ACT di Aceh Utara,” ujar Laila, Koordinator Tim Emergency ACT Aceh Utara, Kamis (7/12).

Laila meceritakan, sejak Selasa (5/12) lusa kemarin, aksi kesehatan Tim Medis ACT Aceh sudah menyambangi Desa Meukek, Kecamatan Pirak Timu. “Kecamatan Pirak Timu termasuk dilanda banjir paling parah,” kata Laila.

Aksi layanan kesehatan dari Tim Medis ACT Aceh pun berlanjut di Rabu (6/12). Masih di Kecamatan Pirak Timu, Laila melaporkan, jumlah desa yang dilayani Tim Medis ACT Aceh meluas sampai sekitar delapan desa.

“Kebanyakan keluhan warga pascabanjir adalah penyakit kulit karena terlalu lama berada dalam genangan banjir. Keluhan lain berupa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA),” tambah Laila.

Selain itu, Tim Medis ACT Aceh juga menyadari satu hal bahwa, trauma dan ketakutan adalah gejala pertama dan paling banyak yang bakal menyerang anak-anak di Aceh Utara. Mencegah trauma psikis berlanjut, Tim Medis ACT Aceh memulai aksi trauma healing.

“Kami pun lekas memulai aksi untuk pulihkan kondisi psikososial anak-anak Aceh Utara. Ajak bermain, ajak bercerita. Sejenak melupakan kenyataan bahwa rumah mereka, sekolah mereka baru saja direndam banjir besar,” pungkas Laila. []

TAGS