DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Detik-Detik Sekarat, Krisis Kemanusiaan Yaman Makin Kalut

Detik-Detik Sekarat, Krisis Kemanusiaan Yaman Makin Kalut

ACTNews, HIRAN, Yaman - Manis, gurih, asin, dan pahit rasa makanan adalah gradasi warna-warni yang dicecap serupa oleh miliaran manusia di dunia. Di belahan dunia manapun, dalam berbagai menu makanan apapun, nikmatnya tetap sama. Hanya berupa kombinasi dari berbagai elemen rasa itu.

Terkadang, tiga kali kesempatan makan dalam sehari, pilah dan pilih rasa menjadi pertimbangan utama untuk menjawab satu pertanyaan: ingin makan apa hari ini?

Tapi, di satu sudut dunia yang sedang dilanda kekalutan begitu ekstrem, pertanyaan itu tak pernah lagi berlaku. Apapun yang ada, apapun yang bisa dimakan bakal dicari. Itu pun kalau porsinya cukup untuk satu keluarga di rumah. Ketika makanan didapat, hanya si bayi kecil di rumah yang pantas mendapat jatah makanan lebih dulu. Sebab badannya sudah sangat rapuh, dihabisi malnutrisi dan kolera. 

Lagi pula, bagaimana mau pilah dan pilih makan, kalau sepeser pun uang tak ada? Di pasar, barang-barang kebutuhan pokok hampir nihil kehabisan stok. Tak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan. Tak ada aktivitas ekspor impor barang untuk memasukkan sembilan bahan pokok (sembako) ke dalam wilayah-wilayah yang dikepung. Semakin ke pelosok, makin jauh dari pelabuhan, angka malnutrisi dan kelaparan meroket luar biasa.

Penggalan cerita di atas bukanlah sebuah potongan dalam novel fiksi yang bercerita tentang perang dan kehancuran sebuah negeri. Cerita di atas benar-benar sedang terjadi, benar-benar nyata terjadi hari ini, di sudut dunia bernama Negeri Yaman. Pekan ini, di pekan ketiga November 2017, krisis kemanusiaan di Yaman makin kalut. Menuju detik-detik sekarat.

Kembali ke Yaman saat kondisi negeri itu makin sulit menjadi sebuah keharusan. Pekan pertama November kemarin, Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali ke Yaman membawa paket-paket makanan bantuan untuk mencegah sejenak kasus malnutrisi.

Dari sudut Kota Hiran di Yaman, Sabtu (4/11) kemarin, ratusan paket makanan untuk melengkapi gizi anak-anak Yaman selesai didistribusikan. Amanah masyarakat Indonesia yang dititipkan kepada ACT kembali sampai ke Yaman.

Sehari, 130 anak di Yaman tewas karena kelaparan akut

Statistik yang begitu memilukan muncul di awal pekan ketiga November 2017, Badan Dunia PBB menyimpulkan, rata-rata hari ini lebih dari 130 anak-anak di Yaman tewas karena kelaparan parah dan penyakit, kondisi makin diperburuk karena konflik sipi yang tak juga usai.

Lebih kacau lagi, hitungan total lainnya menyatakan lebih dari 50 ribu jiwa anak muda di Yaman telah kehilangan masa depan mereka. Pemicunya karena konflik yang makin buruk menjelang akhir tahun. Bahkan tak hanya masa depan, tapi juga nyawa.

Sebab sejumlah lebih dari 50 ribu jiwa anak-anak Yaman itu kini sedang berada dalam fase kerentanan yang parah. Rentan terpapar malnutrisi, rentan diserang bakteri kolera yang mematikan.

Kabar tentang memburuknya kondisi di Yaman ini pun dibenarkan oleh mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang berbasis di Kota Hiran, Yaman. Pekan ini, perwakilan mitra ACT di Yaman melakukan korespondensi langsung dengan tim ACTNews di Jakarta. Korespondensi dilakukan pasca awal November kemarin, bantuan pangan anak-anak dari ACT rampung didistribusikan di Kota Hiran, Yaman.

“Tentang anak-anak di seluruh wilayah Yaman, kondisinya sama saja buruknya. Nyawa mereka di ujung tanduk. Terancam oleh merebaknya penyakit kolera, dan kebutuhan gizi yang sama sekali tak tercukupi. Ekonomi makin kacau setelah pasukan koalisi pemerintah malah memblokade pelabuhan dan bandara,” kata Masoud, perwakilan mitra ACT di Yaman.

Hari ini, detak jantung Yaman sekarat. Melansir laman Independent, tujuh juta penduduk Yaman di puncak kelaparan. Bahkan merebaknya kolera di Yaman dianggap menjadi kasus kolera paling buruk sepanjang sejarah dunia modern. Hodeidah, Sanaa, Aden, Hiran dan kota-kota lain di Yaman kondisinya sama saja. Sekarat, kalut tanpa tahu kapan berakhir. []

sumber foto: Reuters, dokumentasi ACT di Hiran - Yaman 2017

TAGS