DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Getir Pengungsi Palestina di Tanah Lebanon

Let's Save Palestine
Getir Pengungsi Palestina di Tanah Lebanon

ACTNews, BEIRUT, Lebanon - Bila hari-hari besar biasanya adalah untuk perayaan, Nakba Day berbeda. Hari Nakba memiliki arti khusus bagi warga Palestina, yaitu kenangan buruk ketika mereka diusir paksa keluar dari tanah Palestina.

Sejak tahun 1948, warga Palestina hidup terombang-ambing. Mereka berlari tiada henti menghindari tindak kejam persekusi oleh para Zionis. Mereka terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang lebih aman. Karena krisis pengungsi meletup, negeri-negeri tetangga Palestina pun membuka pintunya untuk menerima arus pengungsi.

Sejak tahun 1948 itu pula, sebagian pengungsi asal Tanah Palestina memilih untuk pergi berlindung di Lebanon. Dari 7,2 juta jiwa yang terusir dari Tanah Palestina, sekiranya 280 ribu warga Palestina kini berada di Tanah Lebanon. Mereka menetap dan bertempat tinggal di 12 kamp pengungsian yang tersebar di beberapa titik, salah satunya Burj Barajneh yang terletak di sisi selatan negara republik itu.

Seperti Gaza, kesulitan juga menimpa mereka di Lebanon

Meski telah menetap menjadi pengungsi puluhan tahun di Lebanon, bukan kemerdekaan yang warga Palestina dapat di sana. Kemegahan dan kemewahan Lebanon justru membawa mereka hidup tersudut. Daerah-daerah sempit dan padat menjadi tempat tinggal mereka sebagai tamu dari masyarakat lokal Lebanon.

Rumah mereka, bertempat tinggal di bangunan dengan dinding-dinding masih polos, kumuh seperti ditinggalkan, belum selesai dari proses konstruksi.

Bahkan di Burj Barajneh, ketika warga Palestina ke luar rumah, lalu menatap ke atas, bukan langit biru yang terlihat. Pandangan mereka terhalangi untaian kabel-kabel yang berbelit, seakan itu adalah langitnya. Tidak diketahui fungsinya, kabel-kabel itu menumpuk dan memenuhi sisi atas di sepanjang jalan Burj Barajneh.

Menilik ke bawah, sampah berserakan di mana-mana di sekitar wilayah Burj Barajneh. Tidak ada tempat pembuangan sampah satu pun yang terlihat di sana. Akibatnya, sampah-sampah makin menambah kesan kumuh jalan berupa gang-gang sempit itu.

Hingga hari ini, kehidupan warga Palestina di Lebanon belum kunjung membaik. Pemerintahan Lebanon masih belum mengizinkan mereka untuk bekerja. Tidak boleh menjadi dokter, pengacara, maupun teknisi, yang boleh hanyalah menjadi buruh. Itu pun akan ada sekian persen terpotong dari upah harian yang mereka terima.

Tiga generasi menjadi pengungsi

Sejak terusir dari kecaman Zionis, setidaknya terjadi tiga kali regenerasi warga Palestina di Lebanon. Anak-anak yang terlahir pun turut merasakan kesulitan yang menimpa kakek-nenek mereka. Tumbuh dan besar di tengah krisis kemanusiaan, di mana semuanya serba tidak layak.

Tak ada pekerjaan berarti tak ada Pound Lebanon – mata uang Lebanon – yang bisa diperoleh. Banyak dari mereka juga harus putus sekolah, bahkan ada yang tidak sama sekali merasakan dunia pendidikan.

Sejak tahun 1948 silam, kurang lebih 70 tahun hidup terasingkan, tetapi mereka tak pernah melupakan Tanah Palestina. Mereka selalu saja teringat tentang apa-apa yang terjadi ketika mereka masih di sana. Bayang-bayang tentang rasa nyaman yang tercipta apabila tanah air mereka kembali tidak pernah hilang dari pikiran.

Warga Palestina percaya, harapan masih ada. Dengan adanya Hari Nakba, mereka berharap suatu saat nanti akan ada hari di mana mereka bisa berkumpul kembali bersama sanak keluarga, sekaligus sesama bangsa Palestina. []

sumber foto: Deutsche Welle

174

TAGS