DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Hujan Lebat, Patroli Tim ACT Pantau Aliran Lahar Dingin Gunung Agung

Hujan Lebat, Patroli Tim ACT Pantau Aliran Lahar Dingin Gunung Agung

ACTNews, KARANGASEM - Status awas, atau level bahaya tertinggi gunung api belum bisa lepas dari Gunung Agung, di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Semua pihak terkait masih berfokus menolehkan arah pantauannya ke puncak kawah Gunung Agung. Pasalnya, beberapa hari terakhir, aktivitas vulkanik Gunung Agung lagi-lagi meningkat signifikan.

Malah Selasa (5/12) kemarin, dari lokasi Posko Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap di Desa Menanga, Kecamatan Rendang, Karangasem, tampak jelas cahaya api atau glow membayang di kawah. Kusmayadi, Koordinator Tim Emergency Response ACT di Karangasem menjelakan, glow berwarna merah menyala itu menandakan kembali munculnya aliran lava yang mengisi kolom kawah Gunung Agung.

Peningkatan aktivitas juga bersinambung sampai Rabu (7/12) hingga pantauan terakhir Kamis petang (7/12). Melaporkan langsung dari radius aman 12 km dari puncak kawah Gunung Agung, Kusmayadi mengatakan hujan lebat kini memicu ancaman baru. Ancaman itu berbentuk terjangan banjir lahar dingin yang meluncur deras dari puncak Gunung Agung.

“Material vulkanik terbawa hujan lebat, sampai turun menuruni sungai yang berhulu di Gunung Agung. Rabu (7/12) kemarin, banjir lahar dingin turun cukup deras. Hujan mengguyur deras Rabu siang sampai sore,” kisah Kusmayadi.

Ia menambahkan, jelang petang aliran lahar dingin pun turun dari lereng. Makin besar dan makin melebar. “Rabu sore itu, aliran lahar dingin mulai menghantam beberapa rumah warga yang berada di jalur sungai. Tim Emergency Response ACT beberapa kali menghalau warga yang menonton aliran lahar dingin, agar menjauh dari lokasi tersebut,” tutur Kusmayadi.

Serupa dengan hari sebelumnya, pantauan terakhir di Kamis (7/12) aktivitas vulkanik Gunung Agung kembali bergejolak. “Kamis siang tadi, Gunung Agung kembali memuntahkan abu vulkanik. Bersamaan dengan itu muncul asap putih kelabu tebal, membubung tinggi mungkin lebih dari 2.000 meter dari puncak kawah,” kata Nyoman Arief, Koordinator Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Bali yang memantau dari Posko ACT Desa Menanga.

Menjelaskan kejadian membubungnya abu vulkanik Kamis (7/12) siang, Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana mengatakan pada media bahwa, semburan abu vulkanik Kamis siang hanya sebagi hembusan.

“Abu yang terlontar setinggi 2.200 mdpl siang tadi kita klasifikasikan sebagai hembusan (bukan letusan), karena didominasi oleh gas,” kata Devy di Pos Pemantauan Gunung Agung, Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kamis (7/12).

Distribusi air bersih di Posko ACT tetap bergulir

Banjir lahar dingin yang terjadi di lereng Gunung Agung dipicu oleh tingginya curah hujan di sekitar Kabupaten Karangasem. Walau demikian, Nyoman memastikan distribusi air bersih untuk para pengungsi tak pernah berhenti.

“Hujan se-deras apapun, diguyur hujan lebat sudah berhari-hari tak menyurutkan aksi distribusi air bersih dan dapur umum ACT,” tegas Nyoman, sembari memastikan timnya dari MRI Bali tak surut langkah meski hujan mengguyur deras.

Distribusi air bersih itu menjadi urusan vital, pasalnya sampai laporan ini diunggah, air dari PDAM masih belum mengalir. Kusmayadi menjelaskan, air PDAM belum diarahkan jalurnya sampai ke posko pengungsian ACT di Desa Menanga.

“Setiap harinya kami mendatangkan air sebanyak masing-masing 2.000 liter. Kebutuhan air bersih dipasok sebanyak 2 kali pengiriman dalam sehari. Pasokan air dibutuhkan bagi 1.095 jiwa pengungsi yang menetap di Posko ACT Desa Menanga,” kata Kusmayadi.

Hal unik pun datang dari urusan distribusi air bersih ini. Seorang relawan MRI Bali bernama Mangku Suta merupakan seorang Imam Agama Hindu. Relawan ACT yang spesial ini mengajukan diri menjadi penanggungjawab distribusi air bersih.

“Beliau, Bapak Mangku Pastika begitu dihormati oleh pengungsi di Posko ACT, beliau pula yang merangkap menjadi supir truk tangki air bersih ACT. Bapak Mangku Pastika haris menyupir truk melayani dua kali pengiriman air bersih dalam satu hari” urai Nyoman.

Nyoman, begitu juga Kusmayadi dan 40 personel ACT dan MRI Bali lainnya di Posko ACT Desa Menanga belajar banyak hal dari Mangku Pastika. Bahwa kemanusiaan itu adalah hal universal, urusan kemanusiaan menolong siapa pun tanpa memandang suku, bangsa, warna kulit, apalagi agama.

“Sepanjang hari, Bapak Mangku Pastika menggunakan kaos bertuliskan Let's ACT Indonesia. Beliau sangat bangga bisa bergabung menjadi relawan MRI – ACT Bali. Semoga Bapak selalu sehat, tetap bersemangat memberikan contoh kerelawanan yang universal kepada kami yang masih muda,” pungkas Nyoman, berharap doa dan cerita ini disimak dan dibaca Mangku Pastika. []

TAGS