DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Jelajahi Asia Tengah Lewat Perjalanan Kurban

Global Qurban
Jelajahi Asia Tengah Lewat Perjalanan Kurban

ACTNews, ÖLGII, BISHKEK – Ketika menyebut nama Mongolia, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan, apa yang tercetus di benak Anda? Mungkin bagi sebagian besar orang Indonesia, nama-nama tersebut tidak sefamiliar Belanda, Jepang, atau Amerika Serikat. Padahal, Mongolia, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan adalah negara juga yang terletak di Asia Tengah, dengan peradaban antik dan kultur yang eklektik.

Tahun lalu, Global Qurban berkesempatan menjelajahi Asia Tengah, menyambangi Mongolia, Kazakhstan, dan Kyrgystan. Lewat perjalanan kurban, kami mengenal lebih dekat tiga negara tersebut, mulai dari budaya, sejarah, kondisi sosial yang jauh dari sejahtera, hingga kebahagiaan warganya yang menerima bongkahan daging kurban.

Sebelum mengenal sistem politik modern dengan negara sebagai entitas terbesar, penduduk tiga negara ini memiliki gaya hidup nomaden. Mereka berkelana dengan ternak mereka, melintasi pegunungan, gurun, dan bebatuan cadas, membangun tenda yurt di tempat yang mereka kehendaki. Begitu subur dan luas daerah kelana mereka, sehingga ketika berbagai penguasa datang menginvasi, mereka dipaksa tunduk dan berasimilasi dengan budaya yang baru. Namun, ini tetap tidak menghilangkan status mereka sebagai Tanah Para Nomad.

Mayoritas penduduk Mongolia adalah pemeluk agama Buddha, sebab kultur Mongolia memang kental dengan budaya Buddhisme Tibet. Sementara itu, Kazakhstan dan Kyrgyzstan adalah negara mayoritas Muslim. Namun, karena mereka dulu merupakan bagian dari Uni Soviet, kehidupan mereka sudah mengalami rusianisasi sedemikian rupa.

Ketika Uni Soviet pecah, wilayah mereka dibagi berdasarkan etnis mayoritas yang mendiami, maka Kazakhstan menjadi negeri etnis Kazakh sementara Kyrgyzstan menjadi negeri etnis Kyrgyz (“stan” memang memiliki arti “negeri”). Nama-nama seperti Abdulayev atau Karimov, nama-nama Islam yang mengalami rusianisasi, sangat lumrah ditemukan di Kazakhstan dan Kyrgyzstan.

Seperti apa kehidupan Muslim di Tanah Nomad ini? Sayangnya, masih belum semenyenangkan kita, Muslim Indonesia. Di Mongolia, masih sulit menemukan fasilitas ibadah untuk para Muslim. Sementara di Kazakhstan dan Kyrgyzstan, ekonomi mereka masih tersendat, lantaran merdeka dari Uni Soviet secara prematur, tanpa persiapan.

Di hari-hari besar yang biasa kita rayakan dengan meriah, Muslim Mongolia, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan memperingatinya dengan apa adanya. Bila di Iduladha, kita di Indonesia merayakannya dengan berbagai cara, di sana, ada salat Iduladha dan pemotongan hewan kurban saja sudah sangat disyukuri.

Tengok saja Kota Ölgii di Bayan-Ölgii, satu-satunya provinsi dengan mayoritas Muslim etnis Kazakh di Mongolia. Lansekap luas dengan rerumputan kuning menggulung, bertaburan hewan ternak, merupakan pemandangan utama provinsi ini. Namun, isu pengangguran masih menghantui penduduknya.

Sekitar 70% penduduknya bekerja sebagai penggembala yang bergantung pada cuaca. Ketika musim dingin tiba, ternak mereka tidak bisa merumput dan produktivitas mereka menurun. Kerap mereka menganggur di musim dingin yang menggigit. Sementara di musim panas, terdapat ancaman banjir dari lelehan es di puncak gunung.

 

Juli 2016, ancaman itu mewujud nyata. Banjir menghampiri Kota Ölgii, membuat 350 keluarga kehilangan harta benda. Hingga kini, kehidupan mereka belum sepenuhnya kembali normal.

“Belum lagi penyakit batu empedu yang entah kenapa sering diderita orang di sini. Di provinsi ini, kami tidak memiliki dokter operasi laparoskopi sehingga para penderita batu empedu harus menempus jarak 1.700 kilometer ke ibu kota. Sedangkan mereka yang tidak memiliki uang, seringkali hanya berdiam diri hingga maut menjemput,” cerita Yertai Oral, mitra Aksi Cepat Tanggap di Mongolia.

Di tengah keterbatasan itu, para penduduk Ölgii tidak berharap banyak ketika Iduladha hadir tahun lalu. Namun, kejutan berupa daging kurban yang nikmat menyemarakkan momen Iduladha mereka saat itu.

Tahun lalu, Global Qurban mengetuk pintu rumah-rumah sederhana para penduduk Ölgii, mengantarkan daging kurban untuk mereka nikmati. Tidak tanggung-tanggung, total lima ekor sapi disembelih untuk dibagikan pada 20 keluarga paling membutuhkan.

Kegembiraan disampaikan salah satunya oleh Mukhtar Oralkhan (45), kepala keluarga dari enam orang anak. Karena sakit ginjal yang dideritanya, ia tidak bisa bekerja. Begitu pula dengan anggota keluarganya yang lain. “Terkadang, kami tidak bisa membeli tepung dan daging sama sekali. Karena itu, kami sangat senang menerima daging dari saudara Indonesia kami. Terima kasih banyak, semoga kalian selalu mendapatkan yang terbaik,” tuturnya.

Setelah Mongolia, mari kita menengok Kazakhstan dan Kyrgyzstan. Di Bishkek, ibu kota Kyrgyzstan, setidaknya banteng dan domba disembelih untuk dibagikan kepada 78 keluarga yang membutuhkan. Negara pegunungan itu masih terus berusaha membangun pascakemerdekaan.

“Tapi sulit sekali melakukan pembangunan. Pada tahun 2011, diperkirakan sepertiga penduduk Kyrgyzstan hidup di bawah garis kemiskinan,” kata Bayzak Mamataliev, mitra ACT di Bishkek.

Sementara di Almaty, ibu kota Kazakhstan, dua ekor sapi disembelih untuk dibagikan pada 30 keluarga. Saat itu, satu keluarga mendapatkan 10 kilogram daging sapi!

“Terima kasih, saya mendapat daging dalam jumlah yang besar,” kata Mukhamedzhanova Gulbanu, seorang ibu di Talap, Almaty.

Tanah Nomad yang mungkin juga kurang mengenal Indonesia, kini sudah mengetahui sedikit tentang negeri kita. Yakni, bahwa negeri kita memiliki banyak jiwa pemurah yang begitu mudah berbagi. Tahun 2017 juga tidak akan menjadi tahun terakhir Indonesia membuktikan kebesarannya. Sebab, tahun ini, Global Qurban akan kembali, membawa nama Indonesia, membagikan kurban untuk saudara kita di Tanah Nomad, Insya Allah. []

 

Foto: ACT, Natgeo, Framepool

TAGS