DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Kalau Hujan, Kamp Rohingya di Unchiprang Berkubang Lumpur

Kalau Hujan, Kamp Rohingya di Unchiprang Berkubang Lumpur

ACTNews, COX'S BAZAR, Bangladesh - Dari pusat kota Cox’s Bazar, perjalanan jauh melintasi jalur pinggir laut ke arah selatan, dua jam lamanya sampai tiba di gang sempit-nan kecil-berlumpur, pintu masuk menuju Kamp Unchiprang. Sebuah kamp yang disebut-disebut kini dihuni oleh populasi pengungsi Rohingya terbesar ke-tiga di Bangladesh.

Melansir data yang dihimpun oleh Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya (KNSR), Per tanggal 10 Oktober 2017, jumlah pengungsi Rohingya yang menyesak di Kamp Unchiprang tak kurang dari 28.482 jiwa. Dengan catatan Jumlah pengungsi di Unchiprang selalu bertambah setiap harinya. Pasalnya, arus pengungsi Rohingya yang mengungsi dari Negara Bagian Rakhine Myanmar masih terus terjadi sepanjang hari.

Pagi itu, Kamis (12/10), langit mendung dan hujan deras sudah tak henti berarak sejak pagi baru saja beranjak. Hujan berhenti sebentar, lalu hujan datang lagi dengan curahnya yang luar biasa deras. Kondisi ini makin menyulitkan akses jalan menuju ke dalam Kamp Unchiprang. Jalan satu-satunya yang membelah pematang sawah berubah jadi kubangan, mobil terpaksa diparkir di tepian jalan dan perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Sekira 500 meter berjalan kaki, wujud asli Kamp Unchiprang tampak di depan mata. Bagi siapa pun yang baru pertama kali melihat kumpulan manusia demikian banyak, puluhan ribu jiwa dalam kondisi yang sama sekali tak layak, hanya terhenyak bahkan tangis yang bakal keluar menjadi emosi pertama.

Kondisi Kamp Unchiprang sama sekali tak layak, puluhan ribu orang Rohingya bertumpuk, menyesak di tenda-tenda terpal seadanya. Beralas tanah dan lumpur di dalam tenda. Setiap tenda terpal pun dihuni oleh lima sampai sepuluh orang. Si anak, ibu, balita, dan si kakek-nenek hanya bisa terbaring lemas di dalam tenda. Beberapa anak-anak ada pula yang bermain dengan lumpur, hujan tak dihiraukan. Sementara laki-laki Rohingya dewasa lainnya sedang mengusahakan apapun yang bisa dikerjakan untuk mencari makan.

Tapi hujan benar-benar makin membuat kacau kondisi Kamp Unchiprang. Tidak ada tanah yang tak berubah jadi lumpur jika dipijak. Apalagi lokasi kamp Unchiprang berada di bukit-bukit yang meninggi. Setiap tenda-tenda dipisahkan dengan blok-blok, mulai dari blok A sampai blok D untuk memudahkan pendataan jumlah pengungsi.

Karena hujan yang tak henti turun sampai lewat siang hari, bau amis mulai merebak menyerang hidung. Bau amis yang berasal dari berbagai pembuangan, sampah, dan lumpur di sekeliling tenda-tenda terpal. Sepanjang berjam-jam, kami Tim ACTNews berkeliling ke setiap blok di kamp Unchiprang tak menemukan sarana sanitasi yang layak. Wajar jika bau amis dan busuk yang merebak bisa demikian tajam ketika dibasahi hujan sejak pagi hari.

Dapur Umum ACT di Unchiprang, sehari 2000 paket makanan

Selepas siang, hujan belum juga reda, tapi ramai Kamp Unchiprang justru makin terasa. Siang kemarin, kebanyakan anak-anak dan laki-laki dewasa di kamp mulai keluar dari tenda-tenda mereka, mencoba mencari sekepal nasi untuk makan siang satu keluarga.

Mengintip sisi lain di satu sudut kamp, ada kesibukan memasak yang sudah dimulai bahkan sejak pagi-pagi sekali: dapur umum ACT untuk Rohingya, untuk Kamp Unchiprang, Aksi Cepat Tanggap (ACT) menginisiasi sebuah dapur umum di Unchiprang, dapur yang mampu memasak sekira 2.000 porsi nasi untuk makan siang dalam sehari. Dapur umum pun digerakkan oleh orang-orang Rohingya yang menetap di Kamp Unchiprang,

Kentang dikupas lalu digoreng dengan bumbu rempah khas masakan Bangladesh, sayuran dicuci bersih, daging ayam digoreng, dan beras di tanak sampai matang. Kamis kemarin (12/10), menu makan siang dari dapur ACT untuk kamp Unchiprang berupa nasi putih, dengan lauk ayam, sayur dan kentang bumbu rempah.

Distribusi makanan dilakukan menjelang pukul 13.00 waktu Cox’s Bazar, anak-anak menjadi prioritas penerima bantuan makan siang. Antrean anak-anak Rohingya berbanjar rapi, masing-masing membawa pulang ke tenda-tenda terpal mereka satu atau dua bungkus nasi. Wajah mereka lugu, bahagia, dan tak pernah mengerti mengapa nasib Anak Rohingya harus terusir, terkucil, dan terbuang menjadi pengungsi.

Tidak hanya di Unchiprang, dalam satu hari ACT menggerakkan 5 (lima) dapur umum lain secara serentak di lima kamp berbeda. Setiap dapur umum menyediakan kurang lebih 2.000 porsi makanan siap santap. Lima dapur umum tersebar di Kamp Unchiprang, Kamp Balukhali, Kamp Palongkhali, dan Kamp Kutupalong. []

TAGS