DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Kampung Perlis, Kampung di Atas Sungai yang Krisis Air

ACT Sumatera Utara
Kampung Perlis, Kampung di Atas Sungai yang Krisis Air

ACTNews, LANGKAT - Pernah mendengar kisah tentang Kampung Perlis? Tapi ini bukan Perlis yang menjadi negara bagian di Malaysia. Kampung atau Desa Perlis ini adalah tentang sebuah wilayah di Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.

Beberapa hari jelang Ramadan kemarin, Kami, Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sumatera Utara (Sumut) menyempatkan waktu untuk singgah ke Kampung Perlis. Menyapa sejenak Kampung Air yang berada di persis di tepian Selat Malaka itu. Menyimak cerita-cerita tentang persiapan Ramadan di Kampung Perlis, sekaligus membawa bingkisan istimewa, paket-paket makanan yang dibawa oleh Kapal Ramadan ACT.

Hari itu, Sabtu (12/5), cerita perjalanan menyapa dimulai dari Kabupaten Langkat. Masjid Azizi, masjid megah peninggalan Kerajaan Langkat menjadi titik pertemuan kami dengan seorang relawan, Khairul Ramadhan. Khairul akan menjadi pembuka jalan kami menuju Kampung Perlis.

Kapal Ramadan untuk Kampung Perlis

Menuju Kampung Perlis, jalan paling memungkinkan yang bisa dicapai adalah melalui Kecamatan Babalan. Di Babalan ini terdapat dermaga kecil yang dijadikan sarana transportasi hilir mudik masyarakat Desa Perlis. Kondisi geografis Kampung Perlis memang berada di atas air. Rumah-rumah dibangun di hilir sungai besar, langsung mengarah ke Selat Malaka.

Kapal Ramadan, begitu kami menyebutnya, bertolak dari Babalan menuju Perlis. Satu perahu yang kami tumpangi memuat tak lebih dari 8 orang. Matahari terik menyengat, di atas perahu sudah dimuat berbagai paket pangan yang dimuat dalam kardus-kardus berbagai ukuran.

Tambang, demikian masyarakat setempat menyebutkan nama perahu kecil ini. Uniknya, para pendayungnya diberi nama Penambang. Dalam sehari bekerja, bahkan hingga malam hari, penambang-penambang ini hanya mampu membawa pulang ke rumah tak lebih Rp30.000 – Rp 50.000. Hal ini jelas tak sebanding dengan lelahnya mereka melawan arus dengan dayung tradisional.

Lewat kisah yang disampaikan Bang Ril, penambang yang mengantarkan kami menyeberang ke Pulau Perlis (Desa Perlis), saat ini ada sekitar 150 orang penambang yang hilir mudik dari Babalan menuju Perlis. Sementara itu penduduk Perlis berjumlah hampir 5.000 jiwa.

Ril menceritakan, Desa Perlis dulu merupakan hutan mangrove, didirikan oleh para nelayan dari Negeri Perlis Malaysia. Awalnya mereka mencari ikan kemudian terdampar sampai ke Pulau Sumatera. Lambat laun karena terjadinya migrasi kecil-kecilan, beberapa penduduk Perlis Malaysia pun banyak yang singgah ke Kampung Perlis ini. Karena pengaruh besar Bangsa Melayu Malaysia, hingga hari ini budaya Melayu Malaka kuat terasa di Kampung Perlis, Kecamatan Brandan Barat ini.

Sekira lima menit telusuri Muara Babalan, kami sampai di Dermaga Perlis. Di tepi dermaga, beberapa warga lokal memperhatikan kami dengan penuh tanda tanya, namun tetap tersirat keramahan di mata mereka. Sebuah gerbang Selamat Datang di Desa Perlis pun menyambut kedatangan kami.

Kampung Perlis Krisis Air

Khairul, relawan yang menjadi pembuka jalan kami menuju Perlis, membawa kami menemui Kepala Desa. Rumah sederhana dengan cat kuning, menampakkan kesederhanaan pemiliknya. Junaidi yang saat ini dipercayai menjadi Kepala Desa Perlis, menyambut tim ACT Sumut dengan ramah.

Perbincangan santai dimulai. Junaidi bercerita tentang masalah pelik yang dihadapi warganya di Desa Perlis. Mulai dari kebersihan lingkungan, pencemaran udara hingga sulitnya mendapatkan air bersih layak minum di desa ini.

Sebanyak sembilan dusun di Desa Perlis, mengalami krisis air bersih. Keadaan ini sudah berlangsung lama. "Perlis itu sangat rawan airnya. Tak layak minum. Ada sembilan dusun dengan total sekitar 1000-an Kepala Keluarga tinggal di sana. Mereka tinggal di tanah seluas 6.011 meter persegi. Berebut air bersih setiap harinya" ujar Junaidi.

Kini, kebutuhan air bersih di Perlis hanya mengandalkan Air saringan mesin RO. Kurang lebih 100 galon perhari untuk dipakai sebagai air minum dan memasak. “Walau berada di atas air, tapi desa Perlis krisis air. Masalah utama kesadaran kebersihan lingkungan juga belum maksimal dipahami masyarakat,” tambah Junaidi.

Sebelum sore datang, kami bergegas menuntaskan misi. Diarahkan oleh Junaidi, kami mendistribusikan bingkisan berupa paket pangan Ramadan untuk 150 keluarga penambang.

“Distribusi bantuan menyasar untuk keluarga pendayung perahu tambang yang sehari-hari menawarkan jasa menyeberang dari Perlis ke Babalan. Paket Ramadan insya Allah bisa mengurangi beban keluarga mereka di hari-hari pertama Ramadan ini,” kata Dani, salah satu anggota tim ACT Sumut.

Untuk dilema masalah air bersih, Dani mengatakan, ke depannya usai melakukan pendataan lebih lanjut, akan ada aksi berikutnya untuk Desa Perlis. “Kebutuhan mendesak di Desa Perlis berupa pengadaan unit jeriken air serta gerobak-gerobak untuk alat angkut jerigen-jerigen air itu ke rumah-rumah penduduk,” ujarnya.

Tak hanya itu, dalam jangka waktu dekat, Dani memaparkan, sejumlah relawan MRI dapat dilibatkan dalam aksi bersih-bersih parit serta halaman rumah terapung keluarga nelayan di Perlis ini.

“Perlis punya sejarah panjang tentang anak melayu yang kini melebur menjadi Indonesia. Insya Allah, Kampung Perlis bisa lebih baik lagi. Butuh uluran tangan kita semua, khususnya masyarakat Sumatera Utara,” pungkas Dani. []

457

TAGS