DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Ketika Qurban Menjadi Penawar Hari yang Murung di Gaza

Ketika Qurban Menjadi Penawar Hari yang Murung di Gaza

ACTNews, GAZA - Kemurungan bagi Gaza itu berpangkal dari kemerosotan ekonomi. Satu dekade berlalu, tidak ada perkembangan ekonomi yang signifikan di Gaza. Hari-hari murung berlalu tanpa ada perubahan berarti. Blokade masih membuat Gaza terpinggirkan dari segala macam ingar-bingar laju perkembangan dunia.

Baru-baru ini PBB merilis analisis kondisi ekonomi Gaza dalam rentang sedekade terakhir. Membaca laporan tersebut, grafis itu makin merosot. Angka kemiskinan tidak mampu terkerek. Justru angka pengangguran meroket jauh melebihi prediksi sebelumnya. Ditambah lagi prediksi laju krisis pangan yang makin tidak terkendali.

Lihat saja tingkat pengangguran rata-rata di Gaza tahun 2011 lalu ada di angka 29%. Lalu melonjak di tahun 2016 di angka 42%. Prediksinya tahun 2020 angka pengangguran seluruh warga Gaza akan berada di level 44,4%. Artinya nyaris setengah dari 2 juta populasi Gaza hidup tidak punya pekerjaan sama sekali.

Kemudian tahun 2004 angka kemiskinan di Gaza masih berada pada angka 30%. Melonjak menjadi 50% ketika Israel mulai menerapkan blokade total tahun 2007. Hingga tahun 2016 setahun kemarin, angka kemiskinan tak terlalu berubah, masih berada di angka 40%.

Sementara itu krisis pangan Gaza tahun 2012 ada di level 44%. Sampai di 2017 kondisi krisis pangan justru tak terkendali hingga sampai di level 47%. Artinya dari lebih kurang 2 juta jiwa warga Gaza, 47% tidak mampu mencukupi kebutuhan makan harian mereka. Mereka membawa tidur di malam hari tanpa tahu akan makan apa esok hari. Mereka tak tahu bakal seperti apa isi meja makan esok pagi. 

Hari-hari di Gaza makin murung. Meski memang hari-hari di Gaza tak selamanya masygul seperti yang dibayangkan. Kawan-kawan jejaring mitra Aksi Cepat Tanggap yang bermukim di Gaza mengatakan, masih ada energi untuk bangkit, masih ada sisa-sisa bahagia, walau terkadang bahagia yang mereka rasakan itu semu.

Tengok saja deretan foto-foto dari hasil laman pencarian Google, masih ada potret tawa bahagia ribuan warga Gaza yang bermain di pasir pantai, menghibur sejenak dengan debur ombak pesisir laut Gaza, laut yang mengarah langsung ke Teluk Mediterania.

Walau memang kenyataannya pahit, teritori laut milik warga Gaza itu hanya sepanjang 6 nautical miles atau sekira 11 kilometer jauhnya ditarik dari garis pantai. Hanya selebar itu wilayah yang boleh dilayari oleh nelayan-nelayan Gaza. Lebih dari itu adalah no-go zone, dipantau langsung oleh marinir Israel lengkap dengan persenjataan beratnya.

Tahun lalu, Qurban dari Indonesia sejenak jadi penawar murung di Gaza  

Hari yang murung dan sedikit bahagia yang semu seakan telah jadi bagian dari keseharian di Gaza. Listrik hanya menyala 2 jam sehari. Pekerjaan nihil. Blokade total mencegah siapa pun untuk berpergian keluar Gaza.

Tapi, hampir genap setahun lalu Global Qurban sempat merekam bahagia yang tak lagi semu. Sesaat setelah gemuruh perayaan Idul Qurban 2016 dimulai di seantero dunia, ada daging qurban dari masyarakat Indonesia yang tiba di Gaza.

Masih teringat satu tahun lalu, rangkaian foto-foto yang dikirimkan langsung dari Gaza menggambarkan senyum tulis yang begitu membius. Tawa anak-anak Gaza itu polos sekali ketika menerima sekantong berat daging qurban dari masyarakat Indonesia.

Tahun lalu, Global Qurban sampai menjangkau beberapa titik sekaligus di Kota Gaza. Mulai dari wilayah paling utara di Beit Hanoun, bergerak ke tengah Kota Gaza termasuk di Jabalia, sampai di wilayah selatan Khan Younis dan Rafah.

Tiap tahunnya, kembali ke Gaza adalah sebuah komitmen yang dijaga oleh Global Qurban. Kurang lebih 56.572 jiwa atau sekira 7.994 keluarga menjadi penerima manfaat Global Qurban tahun 2016 lalu. Jumlah keluarga penerima manfaat ini rupanya juga melonjak signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Alasannya sederhana, karena gurihnya daging memang menjadi suatu kemewahan bagi Gaza. Ribuan keluarga di Gaza menanti momen Idul Qurban untuk sekadar berkumpul bersama, memasak masakan khas Idul Qurban dengan bahan dasar daging.

Hari-hari memang murung di Gaza, tapi siapa pun yang masih punya nurani dan empati di tengah ingar-bingar dunia yang keras melaju, mestinya masih mengingat Gaza. Bahwa di tahun 2017 ini, masih ada sepetak wilayah di dunia yang sengaja diblokade, sengaja dikurung, sengaja dipenjara dan dilemahkan perlahan sampai Gaza benar-benar tidak sanggup lagi menghidupnya harinya.

Tak adil rasanya, jika konflik yang masih menyekat sampai membuat sekilo daging gurih pun tak pernah dirasakan puluhan ribu keluarga di Gaza. Insya Allah tahun 2017 ini, Global Qurban bakal kembali untuk Gaza, juga sampai ke wilayah Tepi Barat. Melanjutkan kisah Idul Qurban dari Indonesia untuk tanah Palestina. []

TAGS