DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Melanjutkan Sejarah Mulia

Kolom
Melanjutkan Sejarah Mulia

N. Imam Akbari

Senior Vice President ACT

Senin, 12 Maret 2018 bisa jadi hari bersejarah bagi rakyat Aceh, rakyat Indonesia. Hari tersebut menjadi momentum untuk mengaktivasi, menapaktilas, memutar-ulang sejarah kemuliaan yang pernah dirajut rakyat Aceh, melalui sebuah seremoni keumeukoh pade atau panen raya. 

Memanen padi untuk keperluan sendiri, keperluan keluarga se-gampong, atau untuk diperdagangkan, itu hal biasa.  Tapi, ini panen untuk orang lain, saudara sesama manusia, seiman, yang sudah mengetuk nurani kita. Mereka dikepung, diserang, dan kekurangan sumber daya apa pun, kecuali pengharapan kepada Allah. Mereka percaya saudara-saudara Muslim di Indonesia, mau dan mampu membantu mereka. Terlebih, Rasulullah menyebutkan, mereka ini orang-orang yang diberkahi Allah karena keimanannya.  

Ya.  Mereka ini penduduk Syam, penduduk negeri yang kita kenal sebagai Suriah.  Kita sadar derita mereka, khususnya umat Muslim di Ghouta Timur, Suriah. Mereka dalam tekanan dahsyat selama beberapa tahun. Beberapa pekan belakangan ini, hidup mereka makin kritis. Sehingga, amatlah besar makna dukungan kita.  

Rakyat Aceh begitu bersemangat, sampai sukacita menggelar keumeukoh pade. Ini momentum untuk menghimpun bantuan beras atau dana yang akan diwujudkan melalui program Kapal Kemanusiaan untuk Suriah. Insya Allah, tercapai 1.000 ton beras yang akan berangkat 21 April 2018 nanti. 

Sejauh ini, hanya kabar baik yang saya dengar. Banyak pihak merespon positif rencana Kapal Kemanusiaan untuk Suriah ini. Angka 1.000 ton atau 40 truk kontainer, optimis bisa diberangkatkan dari Aceh. 

Bank Aceh Syariah, Baitulmaal Aceh, dan seluruh baitulmaal kabupaten dan kota di Aceh, merespon positif. Ada emosi langit melandasi keyakinan dan semangat kedermawanan ini. Masyarakat Aceh tak kalah bergairah.  Tokoh-tokoh yang kami datangi, memberi respon positif.

Kepala Cabang ACT Aceh Husaini Ismail mengatakan, "Respon masyarakat sangat bagus. Semua ingin membantu, mulai kalangan sekolah, pesantren, masjid, hingga kampus. Bahkan, para geuchik (kepala desa), mendukung program Kapal Kemanusiaan untuk Suriah."

Allahu Akbar. Ini melanjutkan sejarah Aceh nan dermawan, di mana warganya menjadi penyokong kemerdekaan Indonesia dengan wakaf tunainya berupa emas. Kedermawanan mereka memodali upaya kemerdekaan Indonesia, termasuk untuk membeli pesawat Indonesia perdana, Seulawah. Kini lebih hebat lagi, Aceh menolong Indonesia memancarkan kesalehan sosial di pentas global. 

Tgk. H.  Faisal Ali, Wakil Ketua MPU Aceh mengatakan, "Saya sudah bersinergi dengan ACT Aceh dalam penggalangan beras untuk Somalia tahun lalu. Kalau penyumbang berasnya orang-orang berpunya, itu biasa sekali. Tapi, donor beras dari Aceh untuk Somalia, bukanlah orang-orang yang secara materi teramat mampu. Mereka hidup sangat biasa. Mereka adalah orang-orang bersahaja yang kuat meneladani para orang tua kita dahulu, meski generasi sebelum kita masih jauh lebih hebat. Kita baru ikut sedikit dari jejak mereka. Mudah-mudahan, bersama ACT Aceh, kita bisa berbuat lebih baik dari orang tua kita."

Mewakili Bupati Aceh Besar, Asisten III, Dr Samsul Bahri M.Si, mengapresiasi ikhtiar ACT ketika tahu beras yang dihimpun ini sebagian besar dibeli dari hasil panen petani di Aceh ini. "Kami malu, hanya bisa berkata-kata. Anda sudah berbuat nyata menolong membahagiakan petani. Ini sungguh besar maknanya. Petani di sini senang, saudara-saudara kita yang perlu pertolongan juga senang," ujarnya dengan raut wajah berkaca-kaca. Ucapannya bergetar dilibas haru. 

Selain bahwa Senin lalu Aceh mengekspresikan sejarah kedermawanannya, penggalangan bantuan kemanusiaan Aceh untuk Suriah menautkan kembali hubungan diplomatik dengan Turki di masa lalu.

Zaman dahulu Turki sudah nyata membantu Aceh di masa sulit, saat Aceh hendak ditaklukkan bangsa lain. Ada berbagai jejak kuat hubungan itu. Di Aceh terdapat kampung Bitai dan kuburan Turki yang masih dirawat dan dijaga oleh keturunan Turki. Sejarah hubungan diplomatik antara Aceh dan kuasa Ottoman dimulai oleh Sultan Muhayyat Syah, awal abad XVI dalam beragam wujud kerja sama. 

Pada 1566, utusan Aceh (Sultan Alaudin Kahar) sampai di Turki menginformasikan dan mengucapkan terima kasih atas bantuan Turki. Hingga ke abad XX, Turki modern pun secara de jure mengakui kemerdekaan Indonesia pada 29 Desember 1949.

Di awal abad XXI, tepatnya tahun 2004, Perdana Menteri Turki Reccep Tayyip Erdogan mengunjungi Indonesia pascatsunami di Aceh. Lawatan tersebut dibalas dengan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Istanbul, Turki. Turki, dan bagaimana sambutan kedua bangsa yang terikat hubungan kekhalifahan di masa lalu, saling mendukung dalam mengatasi masalah keumatan, masalah kemanusiaan.

Saat ini pemerintah Aceh sedang giat menjalin kerja sama dengan Turki. Banyak pemuda Aceh belajar di Turki. Begitu juga masyarakat Turki membantu Aceh membuka banyak sekolah dan pesantren Turki di Aceh, seperti Fatih, Suleimaniyah, dan Alfidyan. 

Bantuan Kapal Kemanusiaan untuk Suriah (KKS) akan diangkut dengan truk-truk kontainer ke Pelabuhan Belawan, Medan. Insya Allah, pada 21 April nanti, kapal tersebut akan diberangkatkan ke Turki, negara filantropis yang sudah bertahun-tahun menolong jutaan pengungsi yang mencari suaka di Turki.

Insya Allah, saat pengiriman 40 kontainer beras dari rakyat Aceh, Dubes Turki akan diundang untuk hadir. Selain itu, saat KKS merapat di wilayah Turki, kami turut mengundang Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan, untuk berkenan menerima langsung kiriman rakyat Indonesia. Serah terima ini sebagai wujud persaudaraan kedua bangsa, keinginan tulus membersamai Turki membantu bangsa-bangsa yang dizalimi. 

ACT Cabang Aceh sendiri optimistis sukses dalam pengumpulan beras yang saat ini bertepatan dengan awal panen raya, di mana puncaknya pada bulan April. Pimpinan ACT Cabang Aceh sendiri menargetkan bisa menghimpun 350 ton beras khusus dari masyarakat Aceh saja. Jumlah selebihnya berasal dari masyarakat Indonesia lainnya. 

KKS 214 menjadi sebuah ikhtiar berjamaah meneruskan sejarah mulia Aceh, bagian elemen sejarah Muslim Indonesia.  Semoga Allah mampukan ACT menolong umat yang terzalimi di Suriah, yang berimbas pada kedamaian dan kemakmuran bangsa humanis Indonesia. []

TAGS