DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Menunggu Hari Kurban di Kamp Pengungsian Uganda

Global Qurban
Menunggu Hari Kurban di Kamp Pengungsian Uganda

ACTNews, KIRYANDONGO – Tanahnya tak bertepian dengan laut sama sekali. Landlocked country istilahnya. Di sebelah utara berbatasan langsung dengan Sudan Selatan, di timur bersebelahan dengan Kenya, di sisi barat bersinggungan dengan Republik Demokratik Kongo, sementara di Selatan berbatasan dengan Tanzania.

Dari sisi geografis, sudah tampak kondisinya, bahwa Uganda bertetangga dengan negara yang tak pernah stabil. Uganda diapit oleh negara yang perlahan sedang dilemahkan oleh konflik tak berujung. Padahal masa lalu Uganda sendiri tak bisa dibilang baik.

Kini, di tengah energi Uganda untuk membangun pemerintahan dan ekonomi yang mandiri, justru Uganda sedang mengalami krisis baru: pengungsi yang membeludak.

Sebagai konsekuensi berada di tengah pusaran konflik sipil, menjadikan Uganda dipilih sebagai lokasi utama arus pengungsian.

Dari dua arah sekaligus, Uganda terpaksa membuka pintunya demi alasan kemanusiaan. Berhulu dari Republik Demokratik Kongo, ratusan ribu pengungsi meminta masuk, mencari perlindungan di tanah Uganda. Sementara dari sisi perbatasan dengan Sudan Selatan, hampir satu juta pengungsi mendesak masuk hanya dalam rentang setahun terakhir.

Populasi pengungsi yang membeludak luar biasa setahun terakhir, menjadikan Uganda disebut sebagai negara dengan pertumbuhan jumlah pengungsi tercepat di dunia. Nasib serupa dialami Bangladesh yang menampung lebih dari 700 ribu pengungsi Rohingya sejak Agustus tahun lalu.

Sepanjang tahun 2017, untuk pertama kalinya dilewati Uganda dengan jumlah pengungsi melampaui satu juta pengungsi. Hari ini, di pertengahan tahun 2018, Badan Dunia untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) mengklaim, ada sekitar 1,3 juta pengungsi di seluruh Uganda.

Mayoritasnya berasal dari tanah penuh konflik politis di Sudan Selatan, juga dari pelarian konflik komunal yang terjadi di Kongo. Dari jumlah sejuta lebih pengungsi tersebut, termasuk pula pengungsi Muslim yang berasal dari Sudan Selatan.

Mereka yang datang mencari perlindungan di Uganda, sebagian besarnya perempuan dan anak-anak. Artinya, krisis kemanusiaan baru perlahan sedang membeludak di Uganda.

Menunggu hari kurban di Kamp Kiryandongo

Siang hari yang terik di awal Juli 2018 kemarin, relawan Global Qurban – Aksi Cepat Tanggap (ACT) singgah di Kiryandongo, salah satu kamp pengungsian terbesar di Uganda. Lokasinya berada di sebelah Utara Uganda, di persimpangan perbatasan antara Kongo dan Sudan Selatan.  

Tak jauh dari Kiryandongo, terdapat Danau Albert, danau yang memisahkan Uganda dan Kongo. Merujuk catatan mitra ACT di Kiryandongo, lewat Danau Albert inilah laju deras pengungsi masuk ke Uganda.

“Kondisi di Uganda kini hampir serupa dengan Somalia. Bedanya, pengungsi di Somalia adalah pengungsi internal yang terdesak dalam kemiskinan. Sementara pengungsi di Uganda adalah pengungsi asal Kongo dan Sudan Selatan, kondisinya pun sama. Terdesak dalam kemiskinan, tanpa akses ke air bersih, tanpa tempat tinggal yang layak, hanya mengandalkan makanan dari bantuan kemanusiaan,” papar Rahadiansyah dari Global Humanity Response (GHR) - ACT.

Selagi berada di Kiryandongo, sejumlah relawan ACT sekaligus mendistribusikan amanah dari Indonesia, amanah itu berupa bantuan pangan untuk pengungsi di Kiryandongo. “Bantuan ini merupakan bantuan tahap awal untuk pengungsi Sudan Selatan dan Kongo di Uganda,” jelas Rahadiansyah.

Seminggu berada di Kiryandongo, sekitar 600 keluarga atau 4.200 jiwa menerima manfaat paket-paket pangan dengan bendera Merah Putih menjadi identitasnya.

Andi Noor Faradiba, Koordinator GHR untuk wilayah Afrika mengatakan, awal Juli 2018 bantuan pangan tahap pertama selesai didistribusikan di Uganda. Distribusinya dimaksimalkan untuk pengungsi Muslim yang hidup dalam keterbatasan di Kamp Kiryandongo.

Tapi, Faradiba menjelaskan, bantuan itu tidak hanya berhenti di langkah pertama. Pasalnya, relawan Global Qurban – ACT di Uganda tengah merampungkan pendataan. Data yang bakal digunakan untuk melanjutkan aksi berikutnya, aksi yang bakal dieksekusi di Hari Raya Kurban 2018.

“Kami mohon doanya, aksi selanjutnya, Insya Allah kurban 2018 ini Global Qurban akan meluaskan distribusi kurban sampai Uganda. Kamp pengungsian di beberapa lokasi di Uganda akan menjadi titik distribusi kami. Jumlah penerima manfaat kurban di Uganda kami perkirakan pun akan mencapai ribuan keluarga, mengingat banyaknya jumlah pengungsi Muslim di Uganda,” kata Faradiba.

Meluaskan jaringan distribusi kurban sampai Uganda, berarti menambah kisah baru tentang kurban di Tanah Afrika. Sebelumnya di tahun 2017, Global Qurban sudah membawa kurban sampai ke 40 negara.

“Tahun lalu, di Afrika Global Qurban sampai ke Chad, Ethiopia, Gambia, Ghana, Kenya, Mali, Nigeria, Kamerun, Mauritania, Sudan, Sierra Leone, hingga yang paling besar, kurban untuk pengungsi Somalia,” pungkas Faradiba. []

292

TAGS