DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Sandy Syafiek dan Jejak Humanis di Bangladesh

Kolom
Sandy Syafiek dan Jejak Humanis di Bangladesh

Lukman Azis Kurniawan

General Manager Media Network Development ACT

 

Kalem, pendiam, tapi murah senyum. Inilah kesan pertama yang saya ingat ketika pertama kali bertemu Sandy Syafiek, jurnalis televisi dari RTV saat di Bangladesh awal Desember 2017. Terdengar kabar bahwa almarhum wafat Sabtu (10/2) pagi lalu. Kabar kematiannya sempat membuat heboh dunia maya, mengingat ia menjadi korban tabrak lari saat bersepeda bersama kawannya di Jalan Gatot Soebroto. Kilas balik tentang pengalaman kami bersama di kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh pun berputar.

Perjumpaan Sandy dengan lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) adalah saat ia bergabung bersama kami untuk menyuarakan nasib Rohingya yang mengungsi akibat kekerasan militer Myanmar. Sandy mengaku, perjalanan kemanusiaan bersama ACT cukup berkesan baginya.

Bahkan, mantan jurnalis MNC TV ini mengungkapkan keinginannya untuk bergabung sebagai relawan ACT usai kepulangan almarhum dari Bangladesh. "Saya salut dan kagum dengan perjuangan ACT. Ingin sekali saya menjadi bagian dari relawan ACT. Bisakah?" tanyanya yakin, dalam perjalanan kami dari Jakarta menuju Dhaka, Bangladesh, awal Desember lalu.

Ia mengungkapkan, meski telah beberapa kali ke luar negeri, perjalanan bersama ACT dianggapnya sebagai salah satu perjalanan yang sangat berkesan. "Ini pertama saya jalan bersama lembaga kemanusiaan. Melihat dari dekat bagaimana para pejuang kemanusiaan bekerja," ungkapnya.

 

Bahkan, keseriusan membangun kedekatan dengan ACT itu, membuatnya berharap bisa sekamar dengan saya. "Agar lebih akrab," katanya beralasan. Sungguh tak saya duga,  ungkapan itulah kesan terakhir yang saya dengar darinya, sebelum ia berpulang. 

Keakraban saat di Bangladesh, mengalir menyenangkan. Sandy mengajarkan saya cara mengoperasikan drone yang ia bawa sendiri guna mendukung peliputannya di wilayah itu. 

Saat itu, ia mengaku sedih melihat kondisi pengungsi yang hidup dalam kemiskinan dan tanpa harapan. "Lihat matanya, Bang. Tatapan mata anak-anak Rohingya itu kosong, tanpa harapan. Mereka tidak tahu harus bagaimana ke depan," ujarnya.

Wartawan LKBN Antara yang turut serta ke Bangladesh, Monalisa, punya kesan tak kalah mendalam. "Sewaktu mendengar kabar bahwa Sandy meninggal, saya tidak percaya. Apalagi meninggalnya cukup tragis. Sampai sekarang tidak percaya. Sedih," ungkapnya memulai pembicaraan.

 

Mona mengenal Sandy pertama kali di kantor ACT, saat briefing rencana liputan pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh. "Kesan pertama saya, Sandy orangnya pendiam. Menghadapi proses administrasi ke Bangladesh yang cukup berlarut-larut membuat kami semua (rombongan yang akan berangkat dan baru kenal) cukup intens berkomunikasi," paparnya.

Ditambah lagi, saat awal mendarat di Dhaka, tim media yang bersama ACT sudah disambut berbagai macam masalah akibat manajemen pengelolaan bandara yang kurang baik. 

"Koper Sandy rusak berat tak bisa digunakan lagi setelah keluar dari bagasi pesawat. Birokrasi bagi pengunjung asing juga sangat berbelit," imbuh Mona.

Akibatnya, tim media ketinggalan pesawat. Tapi kondisi yang sulit dan kacau di kota Dhaka itu justru membuat mereka jadi lebih mengenal dekat. Mona menekankan, betapa Sandy sangat kooperatif dan ringan tangan membantu kawan-kawan serombongan.  

 

“Saya ingat benar, Sandy lah yang berinisiatif mengontak Tim ACT yang sudah lebih awal tiba di Bangladesh. Sandy juga yang membantu mencari tiket pesawat," ungkap Mona melengkapi. 

Hal lain yang Mona tidak pernah lupa, Sandy terus memotivasi rasa percaya dirinya untuk tampil on cam. "Maklum saya hanya reporter tulis yang baru belajar soal pervideoan. Sementara Sandy lengkap membawa peralatan multimedia, dari kamera untuk nge-vlog sampai drone. Meskipun kami hanya liputan bersama selama seminggu, semuanya sangat berkesan. Dia mengajari saya melakukan reportase dan blogging dengan baik mengenai kondisi pengungsi Rohingya," imbuh Mona.

Kisah lain dituturkan sahabat Sandy lainnya,  Syarif Salampessy, wartawan RRI. Syarif mengaku perkenalannya dengan Sandy hanya berlangsung sepekan, yakni selama mereka di Bangladesh. Selama itu, Syarif melihat Sandy sebagai pria yang baik, tipe orang yang bertanggung jawab dengan tugas. 

"Suatu ketika di Bangladesh, kami berjalan menyusuri kamp pengungsian etnis Rohingya. Sandy tak pernah mengeluh, bahkan aktif mengambil foto dan video melalui kamera yang ia bawa sendiri. Tidak bergantung semata-mata dari kamera yang dibawa mitra kerjanya, Nathanael. Padahal, ketika itu tugas utamanya adalah sebagai reporter," kisah Syarief.

 

Kata Sandy, yang dilakukannya semata-mata untuk dapat memperkaya gambar dan video bagi kepentingan medianya dan akun sosial pribadinya. Merenungkan hal itu, kini saya menghayatinya sebagai ekspresi "bawah sadarnya". Itulah persiapan almarhum untuk pulang, berpuas-puas menjejakkan kehadirannya di ladang kemanusiaan. Dalam postingannya, Sandy selalu membuat caption dengan ungkapan rasa keprihatinan terhadap etnis Rohingya yang tinggal di kamp pengungsian. 

Setelah kembali ke Tanah Air pun tim media tidak pernah lagi berjumpa. Sandy selalu mengajak reunian, namun belum terealisasi. Yang kami dengar justru kabar kepulangan almarhum dari sebuah grup WhatsApp. 

Bangladesh menjadi jejak perjalanan humanis terakhir almarhum Sandy Syafiek. Bersyukurlah, semua yang membersamaimu meski hanya sepekan, telah memberi kesaksian: dirimu orang baik. Karyamu di kancah kemanusiaan, kuat menjejakkan pesan humanis, mewariskan dorongan kepedulian untuk memulihkan nasib pengungsi Rohingya. Selamat jalan Sandy. Maaf atas segala kesalahan kami. Terima kasih untuk semuanya. 

TAGS