DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Seri Manajemen ACT (2): Social Enterprise, Pemberdayaan Sosial ala ACT

Seri Manajemen ACT (2): Social Enterprise, Pemberdayaan Sosial ala ACT

Ahyudin

Presiden ACT

 

Aksi karitatif saja telah sukses menggerakkan partisipasi dahsyat relawan dan donor. Capaian ini tidak membuat ACT merasa sampai di puncak. Ini bukan semata soal pencapaian, tapi tentang bertarung melawan nasib buruk atas kemanusiaan. Selama krisis kemanusiaan masih eksis―seakan ia lebih unggul dari kita umat manusia ini―selama itu pula ACT tertantang menghadapinya. Dimensi karitatif yang dicapai memodali ACT memasuki level kedua: pemberdayaan.

Apakah pemberdayaan? Apa kaitannya dengan masifnya partisipasi sosial terhadap penanganan kedaruratan? Pemberdayaan itu ikhtiar membangun kemandirian. Setidaknya, menanam bibit kemandirian. Sehingga, penyandang krisis kemanusiaan memperoleh perspektif lebih luas. Mereka diberi kesempatan merasakan penderitaan hidup selama sesaat. Namun, dalam kehidupan yang sama mereka diberi kesempatan untuk mengubah nasibnya lebih baik dari sebelumnya. Perspektif ini hadir lebih alami. Ia tidak ditransformasi lewat pelatihan, apalagi diceramahkan sebagai "teori bangkit dari krisis".

Penyintas, bagi ACT adalah "manusia baru" yang bukan saja lolos dari krisis tapi juga lulus dari cobaan untuk naik kelas menjadi orang sukses di kesempatan kedua. Pemberdayaan, dalam perspektif ACT, pelibatan penyintas krisis sosial dalam aktivitas sistemik social enterprise. Tampilan fisiknya tak ubahnya dengan aktivitas enterprise. Yang membedakan hanya pemanfaatan keuntungannya: semua menjadi benefit. Mendasar sekali, mengubah profit menjadi benefit. Manajemennya ala enterprises dengan disiplin dan prudensialitasnya. Namun, pengelolaan keuntungan sepenuhnya untuk kemanusiaan.  

Kiprah level sebelumnya: mengelola pegiat kemanusiaan (relawan dan karyawan), mengasah kepekaan sosial di satu sisi dan enterpreneurship di sisi lain. Ini merupakan modal tak ternilai dalam mengelola social enterprise. Sadar transparansi, respons cepat menjaga etik organisasi, menguatkan kolegialitas, sinergis, dan manajemen kolektif juga merupakan modal tak ternilai dalam mengelola social enterprise.

 

Social enterprise bagi ACT bukanlah lembaga yang aktivitasnya seperti ACT, tapi benar-benar aktivitas wirausaha yang bersifat transaksional. Hal ini karena peluang pelipatgandaan kekuatan pendanaan bukan lagi bergantung pada kesuksesan edukasi dan berwujud "donasi", melainkan pada keberhasilannya mencetak pemasukan dari bisnis. ACT dalam bersemangat social enterprise masih memprioritaskan ragam enterprise yang sejalan dengan kemanusiaan: pangan dan sandang. Di luar itu, belum menjadi pilihan.

Sementara itu, pemberdayaan dalam perspektif ACT bukan saja membangun usaha kecil untuk komunitas sasaran, melainkan membangun social enterprise berskala makro. Ke luar, social enterprise ini sanggup menyerap tenaga kerja yang banyak dan meluaskan maslahat dengan pelibatan banyak pihak. Selain itu juga memadukan aktivitas wirausaha ini dengan korporat yang ada. Dengan begitu, kesadaran akan luasnya maslahat social enterprise ini muncul.

Ke dalam, semangat social enterprise juga ditumbuhkan di tengah karyawan ACT, sehingga menumbuhkan mental enterpreneurship mereka. Karyawan dengan jiwa kewirausahaan kuat siap mengelola social enterprise setelah kenyang mengarungi pengalaman teknis dan lapangan. Bayangkan dinamika yang terjadi ketika penerima manfaat dikuatkan kapasitas kewirausahannya. Sementara itu, karyawan pun diberi mandat mengelola lini bisnis. Hal ini akan membuat keduanya bisa kolaboratif, kompetitif (sehat), dan saling menginspirasi.

Meski baru memasuki tahun kedua di dekade kedua kiprah ACT, embrio social enterprise sudah dirintis dan semua berkorelasi dengan kerja besar kemanusiaan. Pemberdayaan sosial dalam perspektif ACT yakni membangun social enterprise dalam keragaman bidang usahanya.

 

Hal penting dari semangat penumbuhan berbagai social enterprise ini, ACT mendorong pelibatan banyak pihak untuk berpartisipasi dalam satu jenis filantropi: sedekah kerja. Memberi bantuan pangan, amat terbatas, begitu pula bantuan sandang. Namun, bantuan kerja di unit-unit social enterprises yang diinisiasi ACT membuka kemungkinan baru kesinambungan kehidupan yang lebih teratur. Pemberdayaan ala ACT memuat "sedekah pekerjaan" dan dampak ganda dari kerja-kerja social enterprises, baik yang diinisiasi maupun yang bersinergi dengan entitas yang ada.

"Sedekah Pekerjaan" menjadi isu yang menarik, di luar ragam filantropi yang ada. "Pekerjaan" (yang ingin disiapkan) untuk banyak orang tidak sekadar dikampanyekan mendunia, tapi juga bisa "diretailkan". Dengan demikian, pemberian pekerjaan tertentu untuk unit enterprise tertentu menjelaskan skill apa, berapa lama persiapannya, dan memerlukan dana berapa untuk merealisasikannya.

Social enterprise dan sedekah pekerjaan adalah dua sisi dari sekeping mata uang. Buat apa membangun social enterprise kalau tak menyerap banyak pengangguran? Social enterprise menjadi solusi dalam mengurangi pengangguran sekaligus membuka peluang filantropi baru.

TAGS