DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Seri Manajemen ACT (3): Dekade Kedua, Arungi Ranah Pendidikan

Seri Manajemen ACT (3): Dekade Kedua, Arungi Ranah Pendidikan

Ahyudin

Presiden ACT

 

Memahami aksi ACT level pertama (karitatif) dan kedua (pemberdayaan), tertangkap informasi bahwa setiap level dirancang untuk masa satu dasawarsa. Rancangan bisa dilewati,  jika "syarat dan situasinya" kondusif untuk memasuki level ketiga: pendidikan.  Bagaimana bisa, level ketiga yang idealnya dimulai pada tahun pertama dekade ketiga - atau setelah 20 tahun usia ACT - sudah disiapkan nyaris simultan dengan aksi level kedua?

Benar, syarat dan situasinya amat kondusif untuk "pindah persneling". ACT sudah memasuki ranah pendidikan. Pendidikan menjadi aksi level ketiga karena isu ini terbilang "sulit" menggerakkan filantropi dibanding isu kedaruratan dan pemberdayaan. Mengajak publik menyokong pendidikan―selain tidak heroik, kurang emosional, perlu waktu lama dan kekuatan untuk meyakinkan hal ini akan sukses―belum terlihat. Sekalipun demikian, pengalaman 12 tahun usia ACT membangun keyakinan kami: syarat dan situasinya bagi ACT untuk mengembangkan program pendidikan ala ACT sudah cukup. Program pendidikan dengan peluang dan tantangannya segera dimulai sekarang saja!

Ada dua jalur dalam pengembangan pendidikan. Jalur pertama, menyokong aktivitas pendidikan yang sudah tumbuh sebagai inisiasi masyarakat/komunitas. Untuk jenis pendidikan seperti ini, ACT mendukung keberdayaan pendidikan dari sisi finansial. Contoh program yang sudah berlangsung adalah ACT menopang biaya operasional pendidikan di tengah pengungsi yang tadinya benar-benar tidak ada: di Mersin dan di Reyhanli (anak-anak pengungsi Suriah). Program lainnya adalah Teacher Sponsorship, di mana ACT memberi beaguru untuk pengajar yang juga merupakan pengungsi Rohingya di Bangladesh.  

 

Pendidikan di pengungsian amat urgen. Bayangkan, jika anak-anak yang terpisahkan dari orang tua, lingkungan, dan masa bermainnya, lalu tumbuh tanpa pendidikan. Saat mereka beranjak  remaja hingga dewasa nanti akan menjadi masalah. Pendidikan yang disampaikan dengan ikhlas, membekali anak-anak malang ini bermental mulia dengan selalu berbaik sangka kepada Allah atas nasib yang mengujinya.

ACT sangat yakin, Allah memberi banyak kelebihan―seperti kecerdasan sosial―kepada pribadi-pribadi yang Allah didik langsung dengan krisis dahsyat seperti konflik besar atau kelaparan berkepanjangan. ACT juga percaya bahwa apa yang saat ini disebut the failure state adalah calon negara hebat di masa depan. Alangkah terhormatnya ACT dapat membersamai calon juara dalam kompetisi kebermanfaatan tingkat dunia.

Jalur kedua yaitu menghimpun lesson learnt dari khazanah pengalaman ACT. Sejumlah program dirancang, dilembagakan, dan memberi kemaslahatan ganda. Kemaslahatan tersebut antara lain: lahirnya pribadi pengelola program dengan penghayatan prima; munculnya berbagai konsep visioner yang solutif bagi sejumlah situasi makro dan pengalaman mikro yang khas; dan munculnya strategi komunikasi yang inspiratif dari kekuatan menyerap substansi masalah dan kepekaan merancang kesadaran membangun solusi.  

Keistimewaan seperti itu,  yang lahir dari pengalaman interaksi multilevel (konsepsi, manajerial, dan operatif) perlu segera direkam dan direkonstruksi menjadi konsep edukatif. ACT memerlukan banyak orang untuk menempati pos-pos tugas yang terus berkembang di semua ranahnya. Sumber daya berkualifikasi khas ACT menjadi keniscayaan, hal yang tidak bisa dijawab dengan pola rekruitmen konvensional.

 

Saat ACT memerlukan tenaga operasional, komunikasi/kreatif, pengembangan SDM atau personalia, bahkan perancang program, atau ketika merekrut profesional berpengalaman, setinggi apapun jam terbangnya mereka tidak akan langsung kompatibel. Nilai transfer SDM tersebut sudah tentu platinum, namun ACT harus bersabar mengedukasinya. ACT tidak boleh "untung-untungan" merekruit tenaga profesional berpengalaman tapi berisiko bermasalah di tengah jalan karena tidak kompatibel. Saatnya menghentikan kemubaziran dari sisi waktu dan tentu finansial.

Salah satu caranya, ACT berinvestasi membangun pendidikan kedinasan sendiri, baik untuk meregenerasi pos-pos yang ada, maupun bersiap merancang hal baru karena kapasitas visinya juga dibangun serius. ACT berpandangan―dari pengalaman―jangan menitipkan mimpi kita kepada orang lain karena nantinya akan kecewa. Pendidikan Kedinasan untuk ACT menjadi wahana berbagi kebahagiaan. Artinya,, bagi ACT, kebahagiaan itu ketika kita secara kolektif menemukan cara baru melipatgandakan maslahat, sekaligus melenyapkan masalah kemanusiaan. Hal ini akan amat baik ketika dilembagakan melalui jalur pendidikan.

Capaian ACT di ranah kebencanaan/kedaruratan, maupun pemberdayaan (terbangunnya social enteprise berskala nasional dan global), adalah bukti tak terbantah sehingga program pendidikan ala ACT layak disokong.  Wallahu a'lam bish shawwab.

TAGS