DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Sukacita Penghujung Ramadan di Jayapura

Tepian Negeri
PPRP_jayapura

ACTNews, JAYAPURA – Bahagia rasanya kami melihat wajah-wajah penuh senyuman ratusan warga Kampung Skouw Sae, salah satu kampung di Distrik Muara Tami, Jayapura. Dua dus berisi paket pangan mereka panggul, menambah sukacita di penghujung Ramadan kali ini.

Kampung Skouw Sae menjadi salah satu titik distribusi paket pangan Ramadan untuk Masyarakat Penjaga Negeri di perbatasan Republik Indonesia dan Papua Nugini. Paket-paket tersebut dibagikan oleh tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama TNI di Jayapura pada Sabtu (9/6) dan Ahad (10/6). 

Konvoi tiga truk besar TNI yang membawa 1.000 paket pangan Ramadan siang itu, telah sampai di halaman Masjid Al-Aqsa, di Kampung Skouw Sae. Masyarakat pun menyambut hangat kedatangan kami bersama TNI, dengan berkumpul di halaman masjid Al-Aqsa satu jam sebelum kedatangan kami. Salah satu di antaranya adalah Lafailul (76), Imam Masjid Al-Aqsa di Kampung Skouw Sae.

Satu truk yang berisi ratusan paket pangan lantas diturunkan di masjid ini oleh personel TNI, dibantu relawan ACT dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Jayapura dan masyarakat setempat.        

“Masya Allah, terus terang kami sangat terharu dengan semua ini (paket pangan), baru kali ini kami mendapatkan bantuan paket sembako. Bantuan ini sangat berarti bagi kami, yang saat ini sedang mengalami kesulitan ekonomi. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Tim ACT dan TNI,” tuturnya, penuh haru.     

Kampung Skouw Sae secara geografis terletak di perbatasan Indonesia - Papua Nugini. Sebagian besar dari mereka bermatapencaharian sebagai petani, baik yang memiliki lahan sendiri maupun buruh tani. Sebagian penduduk lainnya bermatapencaharian sebagai peternak. Selain itu, ada pula yang bekerja sebagai pedagang kaki lima di sekitar gerbang perbatasan dan sisanya bekerja serabutan menjadi buruh kasar.           

Menurut Komandan Kompi Bataliyon Satgas Yonif Para Raider 561 Bratayudha, Baihaky (29), yang bertugas mengawal pengamanan di Kampung Skouw Sae dan empat kampung lainnya (Skouw Yambe, Skouw Mabo, Koltekam, Koya Tengah serta dua kelurahan, yaitu Koya Barat dan Koya Timur), secara ekonomi warga di kampung ini adalah pra-sejahtera. Tujuh puluh persen warganya adalah asli Papua, 30 persen lainnya adalah warga pendatang dari Bugis, Buton, Makasar, Flores, Jawa, dan suku lainnya.        

“Meskipun masyarakatnya terdiri dari para pendatang dan penduduk asli Papua yang berbeda suku dan agama, namun kehidupannya sangat harmonis dengan interaksi dan  komunikasi sangat baik. Bahkan, jalinan tersebut semakin erat dengan banyaknya para pendatang yang menikah dengan penduduk asli Papua,” ungkapnya.

Kisah mengenai pernikahan antara etnis pendatang dan Papua kami dapatkan ketikaberbincang dengan salah satu penerima manfaat, yaitu seorang ibu rumah tangga bernama Abigail Lewi (52). Ibu paruh baya asli Papua beragama Katolik ini, sudah lama menikah dengan suaminya pedatang dari Palopo, Makasar, dan telah dikarunia dua anak.

Abigail Lewi pun sangat bahagia mendapatkan bantuan ini, baginya bantuan ini sangat membantu kehidupan rumah tangganya yang tahun ini harus dilaluinya dengan sangat berat.    

“Saat ini mama tak bisa bekerja, karena baru dioperasi penyakit usus dan lambung. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mama hanya jual pinang dan bumbu-bumbu seperti garam dan mecin. Mama bersyukur dapat bantuan ini, mama mengucapkan banyak terima kasih. Semoga Tuhan memberkati ACT. Apa yang dilakukan ACT itu sangat mulia,” tuturnya. 

Haryono Uno (32), Ketua Wilayah MRI Papua mengungkapkan, Program PPRP ini menyentuh beragam etnis dan agama, tidak hanya etnis asli Papua dan umat muslim saja. Satu hal yang pasti, bantuan ini diperuntukan untuk masyarakat pra-sejahtera.  

“Ini menandakan bahwa Program Beri Masyarakat Penjaga Negeri Ramadan Terbaik dari ACT adalah rahmatan lil’alamin dan mampu menjaga kerukunan warga di perbatasan Indonesia – Papua Nugini,” ungkap Haryono.    

Angkat ekonomi pedagang Jayapura      

Program ini tidak hanya dirasakan para penerima manfaat saja, namun juga para pedagang di Jayapura. Pasalnya, 1.000 paket pangan seluruhnya dibeli di sejumlah toko di Kota Jayapura. Setiap paket terdiri dari beras, minyak goreng, gula pasir, biskuit kaleng, teh, susu kental manis dan sirup. Perputaran ekonomi di daerah ini pun semakin kencang.

Rudi Purnomo, Koordinator Pendistribusian Paket Pangan Ramadan di Jayapura mengungkapkan, pengadaan paket ini sengaja dibeli di lokasi pendistribusian. Hal tersebut dilakukan untuk menggerakkan dan mengangkat ekonomi para pedagang di Jayapura.

“Setiap melakukan pendistribusian bantuan di lokasi bencana atau di lokasi implementasi, kami selalu membeli logistiknya di lokasi implementasi. Hal tersebut dilakukan untuk mengangkat ekonomi masyarakat setempat,” jelasnya. Rudi menambahkan timnya tidak membeli sembako di satu toko atau satu pedagang saja, namun di sejumlah toko. Hal itu dilakukan sebagai bentuk pemerataan ekonomi para pedagang di Jayapura.       

Dengan adanya program ini, para pedagang sembako di Jayapura pun merasakan manfaatnya, seperti yang dirasaakan Ari Ilyas (33), salah satu pedagang sembako di Jayapura. Ia sangat merasakan berkahnya dengan adanya program tersebut.

“Apa yang dilakukan ACT itu sangat bagus dan mulia, harusnya lebih banyak lagi lembaga seperti ACT ini di Papua, jadi masyarakat banyak terbantu. Selain itu, dengan adanya kegiatan ACT ini mampu membantu ekonomi warga Papua, termasuk pedagang seperti kami ini. Kami sangat senang dan mengapresiasi kegiatan ACT ini,” ujarnya dengan sumringah.   

Menurutnya ACT itu sesuai dengan namanya sangat cepat dan tanggap.  

“Baru kemarin sore tim ACT melakukan survei ke toko kami menanyakan harga, eh hari ini langsung eksekusi, ” pungkasnya. []   

147

TAGS