DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Tengku Suri, Pejuang Dakwah di Ujung Barat Indonesia

Global Wakaf
Tengku Suri, Pejuang Dakwah di Ujung Barat Indonesia

ACTNews, SABANG - Adalah Tengku Suri, pendakwah di ujung barat Indonesia yang sehari-hari mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak di Gampong Ujong Kareung, Kecamatan Suka Jaya Kota Sabang. Rabu (2/5) lalu, Tim Global Wakaf-Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh menyambangi kediaman beliau untuk mengulang kembali kebaikan silaturahmi. Kami sekaligus menggali lebih dalam kisah penerima manfaat program Sumur Wakaf dari Global Wakaf – Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Begitu tiba di rumah beliau, Tgk. Suri mempersilakan kami masuk ke rumahnya. Namun, kami meminta untuk berbincang di balai depan rumahnya saja. Sebab, balai itu biasa digunakan untuk proses belajar-mengajar ilmu agama kepada anak-anak Desa Ujong Kareung. Percakapan kami siang itu ditemani oleh timphan, panganan khas Aceh yang terbuat dari tepung terigu.

Guru ngaji yang bernama lengkap Muhammad Suri ini menetap di Sabang sejak 2011. Sebelumnya, Tengku lulusan Pondok Pesantren/Dayah Tanoh Mirah ini bermukim di Langsa, kota kelahirannya.

Kedatangan Tgk. Suri ke Gampong Ujong Kareung bukanlah sebuah kebetulan. Keuchik atau kepala Desa Gampong Ujong Kareung-lah yang memintanya secara khusus, mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak di sana.

Tentu ini ajakan yang sulit ditolak mengingat mengajarkan ilmu agama kepada yang belum tahu wajib hukumnya. Singkat kisah, merantaulah Tgk. Suri bersama dengan istri dan satu orang anaknya ke ujung barat Indonesia, di Sabang.

Awal mula mengajar, tidak banyak anak-anak yang hadir, mungkin sekitar tiga sampai dengan lima anak saja. Tapi, kehadiran beberapa orang anak saja rupanya sudah cukup membuat Tgk. Suri merasa senang.

Toh, cukup sulit mencari orang yang mau menuntut ilmu agama di zaman seperti sekarang ini,” batin Tgk. Zuri ketika itu.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Makin hari, anak-anak yang dulunya bisa dihitung jari kian bertambah. Bahkan ruang tamu kediaman Tgk. Suri yang biasa digunakan untuk proses belajar, sudah tak muat lagi untuk menampung santri yang hadir. Jumlah santri yang menuntut ilmu kepada Tgk. Suri sudah mencapai puluhan.

Setelah diskusi bersama sang istri, Tgk. Suri memutuskan untuk pindah rumah. Pun rumah sebelumnya berstatus sewa. Tgk. Suri berniat untuk mencari tanah lain yang sedikit lebih luas dan berniat mendirikan rumah dan balai pengajian ala kadarnya.

Qadarullah, impiannya untuk mendirikan rumah tercapai pada 2013. Sebuah rumah permanen ukuran 36 m berdiri di sebuah tanah yang cukup luas. Balai pengajian seperti impian Tgk. Suri juga selesai dibangun berbarengan dengan selesainya rumah. Setiap malamnya, anak-anak ngaji Tgk. Suri bisa belajar di balai tanpa perlu berdesak-desakan lagi.

Namun, walaupun balai sudah berdiri, ada satu kendala lagi yang membuat anak-anak kepayahan saban sore ketika hendak pergi mengaji.

Setiap sore ketika hendak pergi mengaji, anak-anak ini harus membawa air dalam jeriken untuk kebutuhan wudu. Sebab, tidak ada sumur di rumah Tgk. Suri. Beliau sendiri selalu membeli air yang kemudian ditampung dalam water tank. Tentu air yang dibeli ini tidak mungkin digunakan oleh puluhan anak didiknya untuk berwudu.

"Sebelum ada sumur, saya biasa beli air dari mobil tangki air. Sekali beli itu 1 ton, harganya Rp 150.000. Tapi itu cuma tahan sampai satu minggu," ungkap Tgk. Suri.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Air yang dibeli setiap pekan ini digunakan sehemat mungkin oleh keluarga kecilnya.

“Anak-anak setiap kali pergi ngaji biasanya akan membawa air masing-masing. Air ini dibawa oleh orang tuanya dalam jerigen. Jadi setiap anak nenteng satu jeriken. Jeriken-jeriken itu akan penuh berjejer disamping balai,” ungkap Tgk. Suri sambil menunjuk ke samping balai.

Sumur Wakaf untuk anak-anak ngaji Tgk. Suri

Pada satu kali kunjungan Tgk. Suri ke Medan, tanpa sengaja beliau bertemu dan berbincang dengan Ronio, kepala Cabang ACT Sumatera Utara. Tgk. Suri pun bercerita tentang kondisi santrinya yang saban sore harus membawa air untuk wudu salat maghrib.

Kisah Tgk. Suri pun diteruskan ke Husaini Ismail, Kepala Cabang ACT Aceh. tanpa menunggu lama, Husaini mengutus Tim ACT Aceh untuk langsung menyeberang ke Sabang, Mengecek kondisi santri dan balai pengajian Tgk. Suri.

Alhamdulillah tidak sampai setahun. Melalui wakaf dari saudara Yusuf Khalil Ihsan via Global Wakaf ACT, sebuah kamar mandi beserta tempat wudu berdiri dengan gagahnya di Balai Pengajian di Gampong Ujong Kareung, Kecamatan Suka Jaya, Kota Sabang.

“Kini, anak-anak tidak lagi kesulitan menenteng jeriken untuk kebutuhan wudu. Kebaikan hati Saudara Yusuf telah mengurangi beban santri balai pengajian ini untuk mengambil wudu, Alhamdulillah,” ucap Tgk. Suri kepada Tim Global Wakaf-ACT Aceh kala itu.

Tidak hanya itu, adanya sumur wakaf di dekat balai pengajian juga meringankan beban Tgk. Suri. Pasalnya, setiap bulan beliau bisa menghemat Rp 600.000 untuk biaya air. Rasa haru yang mendalam pun dititipkan oleh Tgk. Suri kepada kami untuk disampaikan ke wakif yang telah berbaik hati memberikan wakaf sumur. 

“Hanya Allah yang dapat membalas kebaikan saudara Yusuf Khalil Ihsan dan teman-teman ACT semuanya atas kebaikannya selama ini. Saya doakan teman-teman semuanya selalu Allah limpahkan rahmat, nikmat dan kasih sayangnya dalam hidup ini,” ujar Tgk. Suri haru.

Sebelum kembali ke Banda Aceh. Tgk. Suri mengajak kami melihat-lihat usaha barunya bersama sang istri yang tak begitu jauh dari rumahnya. Di sebuah kedai berdinding seng, Tgk. Suri membuka usaha reparasi barang elektronik dan sang istri membuka jasa menjahit.

Kedainya cukup sederhana. Tapi Tgk. Suri bersama istri tampak begitu senang, penuh syukur dalam kesederhanaan.

Jelang senja, kami pamit. Hari itu membekaskan kesan hormat dan bangga dengan perjuangan Tgk. Suri untuk anak-anak mengaji di kampungnya. Kami berpamitan, lalu segera menuju pelabuhan Balohan, Sabang, untuk kembali menyeberang menuju Banda Aceh. []

140

TAGS