DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

“The Gardens of Heaven”

Kolom
“The Gardens of Heaven”

Nurman Priatna

Creative Strategic Communication Director ACT

Dari Zaid bin Tsabit, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

طُوبَى لِلشَّامِ. فَقُلْنَا : لأَيٍّ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : لأَنَّ مَلَائِكَةَ الرَّحْمَنِ بَاسِطَةٌ أَجْنِحَتَهَا عَلَيْهَا

 

“Kebaikan pada negeri Syam.' Kami bertanya, 'Mengapa wahai Rasulullah?' Beliau bersabda: 'Karena Malaikat rahmah (pembawa kebaikan) mengembangkan sayap di atasnya.” (HR. Tirmizi- Ahmad)

 

Bismillaah

The gardens of heaven, taman-taman surga itu saya lihat di perbatasan Turki-Suriah. Saya rasa sahabat-sahabat Fauzi Baadilla, Yadi, dan si kecil Nao serta bundanya juga melihatnya. Tim produksi video kami pun rasanya senada. Walau tiada terucap, ke mana pun kami melangkah, rasa haru kian menyergap.

Insya Allah, tempat-tempat ini termasuk wilayah negeri Syam yang diberkahi Allah Ta’ala. Seolah ke mana menatap, pintu-pintu surga dibentang Allah Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan sabar menjalani ujian terberat umat manusia. Seolah segala rahasia tersimpan baik dalam gurat derita yang dirasakan para pengungsi Suriah dan Palestina di sana.

Di pertengahan Syakban 1439 atau awal Mei 2018, kami hadir di Reyhanli, kota kecil di penghujung Turki. Hampir sepanjang kota, terlihat tembok perbatasan dengan Suriah. Di baliknya, hanya beberapa kilometer, terletak wilayah kota Aleppo atau Idlib, di mana eskalasi konflik kemanusiaan dahsyat kerap terjadi hingga sekarang. Di kota ini, jumlah pengungsi Suriah dan Palestina lebih banyak daripada penduduk aslinya.

Perjalanan istimewa, kami tidak membawa relawan dokter atau paramedis seperti biasa. Kami mengajak empat sahabat kemanusiaan yang telah memberikan kemampuan terbaik untuk menolong saudara di kejauhan yang tak pernah dikenalnya.

Saya ingin memperkenalkan keempat sahabat istimewa yang kami ajak serta. Pertama, Mulyadi atau Yadi, pengemudi ojek online berusia 39 tahun. Ia memberikan seluruh tabungan yang disimpannya dalam sebuah kaleng biskuit ukuran besar. 

Awalnya tabungan tersebut diniatkan untuk persiapan menikah. Namun, ia merasa tabungannya itu lebih layak dimanfaatkan saudara-saudaranya untuk bertahan hidup, dibanding dirinya yang bisa dengan mudah mengumpulkannya lagi. Maka, setelah kaleng berisi tabungan itu diserahkan, ia kembali merintis dari nol. Apa yang dia dapatkan dari hasil mengojek hari itu, dibelanjakannya untuk makan dan dikumpulkan untuk bayar sewa rumah petakan kecil serta kebutuhan lain.

Kedua, Nao Putra Sonhadji, anak lelaki berusia 7 tahun. Siswa kelas 1 SD di Bandung ini memilih memberikan empat celengannya di rumah untuk pengungsi Suriah dan Palestina. Nao yang sehari-hari memang suka berbagi apa saja, terutama makanan dengan teman-temannya, tergugah kala mendengar bundanya menceritakan derita Suriah dan Palestina, yang dibaca melalui akun media sosial ACT. 

Beberapa hari kemudian, Nao diantar sang bunda menyerahkan celengan ke kantor ACT Bandung. Ia juga menitipkan sebuah surat yang ditulisnya berulang kali, hingga ia merasa puas merevisi, semalam sebelumnya. Salah satu baris yang paling menyentuh di surat untuk anak-anak korban peperangan itu berbunyi, “semoga kita nanti bertemu nanti di surganya Allah”. Alhamdulillah, Nao dan bundanya, Dian Afellia, berangkat bersama kami setelah diizinkan ayah Nao dan diantar keluarga besarnya.

Terakhir, Fauzi Baadilla atau Oji. Aktor ini tak mengenal siapapun di tim produksi video ini ketika memutuskan mengiyakan ajakan tim ACT. Sebenarnya, ia juga lagi sibuk roadshow untuk mempromosikan sebuah film yang dibintanginya. Sepulang premiere, Oji angkat ransel dan mengejar kami di Bandara Soekarno Hatta. 

“Promo film bisa diback-up yang lain, kan bukan gue doang yang main (film). Perjalanan ini penting buat nge-charge iman gue!” ujarnya. Selain keempat sahabat ini, kami mengajak serta tim produksi kecil yang terdiri dari sutradara M. Dedy Vansophi, produser Deni Mulya,  Gandy, juru kamera kedua Geno, dan asisten produksi Moe.

Pertama kali kami hadir di tengah hamparan tenda-tenda pengungsian yang terbuat dari terpal compang-camping. Terpal tenda tersebut diberi pemberat dari tumpukan jeriken, kayu seadanya, kain-kain bertambalan, dan apa saja yang bisa menaungi penghuninya dari hujan ringan dan terik matahari. Berbagai aroma tak sedap tercium kala angin berhembus ke arah kami.

Letak pengungsian ini agak jauh di pinggiran kota yang sepi, di balik persawahan dan perbukitan tempat banyak hewan ternak digembala di alam bebas. “Tak banyak yang sampai ke tempat itu, termasuk lembaga kemanusiaan lain,” tutur Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response ACT yang fokus pada pendistribusian bantuan bagi pengungsi di sana.

Anak-anak kecil berlarian menghampiri dan riuh menyapa seolah kami selebriti, padahal yang bintang film hanya Fauzi Baadilla. Mereka tampak senang melihat kami bertopi dan memakai rompi berlogo ACT. Mereka membalikkan badan dengan riang, bangga memamerkan logo ACT di kaos yang sehari-hari mereka kenakan. 

Para pemuda dan bapak-bapak mengucap salam dan menjabat kami erat, kaum ibu hangat menyambut walau sekadar tersenyum dan mengangkat tangan di kejauhan. Di tempat itu kami dijamu dengan teh manis hangat yang diseduh dalam poci nan legam, dipanaskan dengan bara arang di atas tanah.

 

Yang mengejutkan, ternyata itu salah satu hidangan teh yang tersedap bagi saya. Entah sedapnya karena apa. Mungkin karena suasana yang nyaman, semua minum bergantian, duduk di atas rerumputan dalam lingkaran kecil nan akrab. Walau tak memahami Bahasa Arab Amiyah yang mereka sampaikan, kami tak menyimak adanya keluh kesah apalagi sumpah serapah. Hanya ada hamdalah, hayyakumullah, dan barakallah. Masya Allah, menyenangkan. Terharu melihat mereka seolah hanya mau menampakkan sisi lembut dari kehidupan nan cadas.

Kesedihan di balik manisnya senyuman, juga terasa saat kami hadir di rumah-rumah sederhana yang dipinjamkan warga Turki yang baik dan sayang kepada pengungsi Suriah, saudaranya yang ditimpa bencana. Hal ini turut kami rasakan di salah satu rumah yatim yang dikelola mitra kami di sana. 

Lokasi-lokasi ini masuk ke wilayah distribusi ribuan roti setiap hari serta berbagai bantuan pangan dan medis yang diberikan ACT secara berkala melalui sebuah gudang logistik besar yang disebut IHC (Indonesia Humanitarian Center). Alhamdulillah, diawali di Reyhanli, Turki, IHC kini telah hadir juga di Gaza, Palestina, pusat pengelolaan bantuan 2.000 ton beras dari Indonesia.

Alhamdulillah, Allah pertemukan kami dengan manusia-manusia tangguh yang tak menampakkan hal lain selain kegembiraan. Beberapa di antaranya adalah Pak Ibrahim, yang mengungsi bersama keluarganya dari Idlib. Rumah mereka yang baru saja selesai dibangun luluh lantak akibat dihunjam bom. Tak hanya rumahnya hancur, reruntuhan temboknya menimpa Pak Ibrahim hingga kedua kakinya remuk dan harus diamputasi. 

Lalu, Muhammad Yusuf, 7 tahun, anak tampan yang kini hanya bisa terbaring di tempat tidur. Walau organ tubuhnya utuh, namun ledakan bom kimia di rumahnya di Aleppo membuatnya mengalami lumpuh di tangan dan kaki sejak tahun 2013 silam. Pascaledakan bom kimia itu, Yusuf mengalami kelumpuhan permanen. Bahkan, kondisi tubuhnya kian lama kian menurun, dampak kerusakan senjata kimia pada sel-sel tubuhnya. Tatapan matanya yang sayu dan senyumnya yang manis tak pernah bisa kami lupakan.    

Rentetan letusan senjata sempat menghentikan kegembiraan ketika kami berkunjung ke rumah yatim yang dikelola mitra kami, yang hanya berjarak 300 meter dari garis perbatasan. Seketika rasa takut menghinggap, namun binar mata-mata bahagia dan senyuman anak-anak Suriah itu demikian menyamankan. Mereka seolah meyakinkan kami bahwa hal itu biasa terjadi di sana, dan semua akan baik-baik saja. 

Maka, bermain-mainlah kami bersama mereka. Nao yang paling menikmati. Anak-anak Suriah itu seolah telah mengenalnya lama, terutama Abdullah, si ganteng dari Idlib yang separuh wajahnya berhias bekas ledakan bom yang meluluhlantakkan rumahnya, serta menewaskan ayah dan adiknya seketika. Nao dan Abdullah melompati gundukan-gundukan tanah, dan dari tempat saya berdiri seolah mereka sedang mendaki pegunungan yang membatasi pandangan kami dari kota Idlib dan segala kenangan indah keluarga Abdullah.

Di sisi lain ada Yadi, abang ojek berhati lembut yang juga dikenal sebagai Bolot di pangkalan Tegal Parang, Jakarta Selatan. Ia yang dulunya anak yatim, tampak sangat gembira, mencandai seorang anak perempuan cantik berusia 3 tahun dalam pelukan Oji. Sementara hati saya tergerus mendengar kisah para pengelola rumah yatim itu. Mereka yang mendedikasikan hidup mereka untuk menjaga dan merawat 28 anak yatim dan para janda di tempat itu menceritakan banyak peristiwa sedih. Ternyata, hampir semua personilnya juga pengungsi dari Suriah. Mereka bercerita bagaimana mereka kehilangan keluarga, sahabat, rumah, pekerjaan, terpaksa melarikan diri, berjalan berhari-hari, berenang menyebrang sungai yang deras, mendaki gunung, memanjati pohon tinggi demi menyelamatkan diri dan keluarga terdekat. 

Salah satu di antara mereka berasal dari Palestina. Ia sempat mengungsi di Suriah, lalu ketika konflik terjadi di Suriah ia terpaksa mengungsi lagi hingga sampai di wilayah Turki. Subhanallah.

Alhamdulillah, dua hari yang padat untuk pengambilan gambar video di Reyhanli berjalan lancar. Kami bersyukur Allah Ta’ala karuniakan kami matahari yang bersinar di langit cerah sejak pukul enam pagi hingga terbenam sekitar setengah delapan malam.

 

Suasana yang menyenangkan ketika berinteraksi langsung dengan para pengungsi membuat semuanya terasa kian mudah. Namun, hal yang tersulit adalah ketika berpisah. Tampak mata sahabat-sahabat kami berkaca-kaca ketika meninggalkan saudara-saudara Suriah dan Palestina yang melambaikan tangan dari balik kaca mobil yang bergerak. Kian lama kian kecil dan menghilang di kejauhan.

Momen-momen bening bersama hamba-hamba Allah yang tegar menjalani kehidupan walau nyaris kehilangan segalanya itu telah berlalu. Saya merasa beranjak menjauh dari taman-taman surga yang dekat. Taman di mana Pak Ibrahim tanpa kedua kakinya dipeluk oleh anak-anaknya yang ramai di atas kursi rodanya, Yusuf yang berbaring lemah dan tersenyum bahagia bersama ayah ibu dan adik-adiknya yang sehat, Abdullah dan anak-anak yatim yang tampan dan cantik berlari di lapangan, tak peduli suara tembakan di kejauhan, serta senyuman mitra-mitra kami yang setia memudahkan setiap misi kemanusiaan. 

Saya terus teringat senyuman-senyuman mereka, kalimat-kalimat dzikrullah dan doa-doa yang terucap, seolah dalam tayangan tunda berkecepatan lambat. Dari mereka saya mencuri semangat, menerbangkan asa, dan menyimpan rindu terhadap surga yang saya lihat di sana, serta surga yang sesungguhnya menanti di akhir kehidupan nanti, insya Allah.

Perjalanan kemanusiaan ini telah mengubah hidup kami. Oji yang merasakan banyak klep di pikiran dan hatinya terbuka, menemukan bahwa kini ia jadi seseorang yang lebih peka. Alih-alih membicarakan film, kini ia lebih sering bicara tentang konflik kemanusiaan dan pengalamannya di perbatasan Suriah. Hingga tulisan ini dibuat, Oji terus menanyakan kapan aksi kemanusiaan selanjutnya.

 

Yadi memiliki semangat menggebu yang baru dalam menata hidupnya. Sehari setelah sampai di tanah air, ia segera kembali menjalani kesibukan sebagai pengemudi ojek online. Di Ramadan ini, berbagai aksi sosial juga dilakukannya bersama sahabat-sahabat pengajian. Terharu mengingat ia pernah dua kali mendekam di penjara karena narkoba, namun kini jalan hijrah yang dijejaknya kian bercahaya.

Nao kembali ke Bandung, masuk sekolah lagi dan ternyata banyak teman yang mengikuti kebaikan Nao memberikan celengan mereka untuk membantu pengungsi Suriah dan Palestina. Nao dan bundanya merindu anak-anak Suriah yang mereka jumpai setiap hari, dan mereka ingin sekali bisa kembali ke Reyhanli. Masya Allah, kami merasa demikian hebat limpahan hikmah melalui perjalanan ini.

Tanah Syam yang mulia akan selalu jadi tempat berpijaknya banyak keberkahan. Walau demikian dahsyat tragedi kemanusiaan terjadi di permukaan buminya dari zaman ke zaman. Bagi kami, bertebarnya taman-taman surga di sana adalah rezeki tempat kami belajar memaknai kehadiran diri terhadap mereka yang diliputi luka dan duka hingga hari ini. Namun, kami kuat meyakini bahwa Allah azza wa jalla adalah satu-satunya tempat bersandar yang hakiki.

Sebagaimana sahabat kami, M. Dedy Vansophi, sang sutradara, menulis “Gelap ini akan sirna”. Kami meyakini bumi Syam yang mulia akan segera diliputi kedamaian, terutama di Suriah dan Palestina. Doa-doa dan bantuan terbaik kita di Ramadan ini, insya Allah turut jadi perantaranya.

Barakallahu fiikum. Aamiin yaa Rabbal ‘aalaamiin.

163

TAGS