DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Tim Medis ACT Sambangi Kamp Pengungsian Rohingya di Cox’s Bazar

pelkes rohingya

ACTNews, COX'S BAZAR - Di sebuah sudut perbatasan di antara Myanmar dan Bangladesh, di atas dataran yang berdiri ratusan tenda warna-warni nan lusuh berbaris acak. Terlihat banyaknya manusia berlalu lalang tanpa alas kaki, seolah telah terbiasa dengan panasnya sengatan matahari. Manusia-manusia berkulit legam itu menyusuri tanah gersang nan tandus, menuju sebuah aula sederhana yang terletak di ujung dataran yang bersisian langsung dengan sawah.

Mereka adalah pengungsi Rohingya, yang telah mengarungi Sungai Naf demi menyelamatkan diri, baru saja tiba beberapa hari lalu di kamp Taingkhali, Cox’s Bazar, Bangladesh. Guratan luka nampak begitu jelasnya di tubuh kurus mereka, baik laki-laki maupun perempuan, juga anak-anak. Namun, dibalik ringkih dan kurusnya tubuh mereka, tersimpan jiwa yang tegar.

Kala itu, jam telah menunjukkan pukul 02.30 waktu Bangladesh, di dalam sebidang lahan yang hanya ditutupi oleh terpal dan beberapa kayu sebagai tiang penyangga, aula mereka menyebutnya, sejak pagi telah ramai oleh warga Rohingya berkerumun mengantri dengan tertib, kebanyakan diantaranya adalah wanita bersama balitanya. Hijab mereka yang mengulur panjang melindungi kepala anak-anak mereka. Sementara di balik keramaian itu, seorang dokter tengah memeriksa anak-anak dalam gendongan ibunya masing-masing. Suara tangis menambah riuhnya suasana pelayanan kesehatan siang itu.

Pelayanan kesehatan yang digelar Tim Medis Aksi Cepat Tanggap (ACT), kali ini menyapa titik terdekat yang berbatasan langsung dengan wilayah terjadinya konflik, Rakhine. Dua dokter didatangkan langsung dari tanah air, bersama dengan beberapa paramedis lokal Bangladesh. Sejak pukul 10 pagi mereka bahu membahu memberikan layanan kesehatan gratis bagi para penghuni baru kamp Taingkhali yang tercatat berjumlah 5.000 pengungsi.

Namun demikian, menurut dokter Ridho, salah seorang dokter asal Indonesia mengatakan bahwa pelayanan kesehatan sudah dilakukan sejak beberapa hari yang lalu menyambangi tiap-tiap kamp pengungsian di wilayah Cox’s Bazar tersebut. Pelayanan kesehatan hari ini pun tak hanya dilakukan satu hari saja, namun berlanjut selama dua hari hingga hari kamis (12/10), mengingat waktu yang disediakan pemerintah setempat hanya 7 jam, rasanya tak cukup menangani kesemua pengungsi yang jumlahnya ribuan tersebut.

Pemeriksaan kesehatan juga dilakukan begitu seksama, para pengungsi pun tak segan untuk menceritakan permasalahan kesehatan yang dialami mereka, dijembatani oleh seorang penerjemah asal Bangladesh yang juga merupakan tenaga medis. Sang dokter begitu sabar mendengar setiap keluhan dari para warga Rohingya tersebut.

Rizal, seorang dokter asal Indonesia lainnya mengatakan, bahwa permasalahan kesehatan yang menghinggapi cukup serius, bahkan menular. kebanyakan menyerang sistem pencernaan dan sistem pernafasan mereka.

“Banyak dari mereka mengalami diare dan dyspepsia, atau yang kita sebut maag, menyerang lambung mereka. Seperti kita ketahui, mereka kesini setelah menempuh perjalanan jauh melintasi perbatasan, kelelahan membuat nafas mereka menjadi pendek dan sesak. Kondisi ini diperparah dengan keadaan tenda pengungsian mereka yang sangat tidak layak. Penyakit ISPA bahkan turut dialami balita.” ujar dr. Rizal.

Dalam video live-report yang direkam dr. Ridho, memang terlihat deretan tenda-tenda lusuh bahkan compang-camping, sungguh menyedihkan dan tidak layak ditinggali. Rizal menambahkan, perlu adanya perbaikan segera atas tempat tinggal mereka, sehingga wabah penyakit dapat ditekan penyebabnya.

Iqbal Setyarso, Vice President ACT yang saat ini tergabung dalam Tim SOS Rohingya di Bangladesh menyatakan, akan menindaklanjuti hal tersebut, ACT tetap melanjutkan rencana pembangunan 2000 hunian sementara bagi warga Rohingya khususnya para wanita, anak-anak, juga para yatim-piatu.

Sementara itu, di beberapa kamp pengungsian lainnya, para relawan medis asal Indonesia juga tengah memeriksakan kesehatan para pengungsi Rohingya. Sebanyak 6 dokter dan dua paramedis tersebar di sejumlah kamp wilayah Cox’s Bazar.

Karena itu, masih dibutuhkan begitu banyak dukungan dari bangsa Indonesia, bersama berikhitiar memanusiakan etnis paling teraniaya di dunia ini.[]

 

TAGS