DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Upaya ACT-MRI, Berantas Rentenir di Batang

Community Development
Comdev ACT Jateng

ACTNews, BATANG – Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jawa Tengah, bertekad membuka program pemberdayaan masyarakat yang khas di setiap kabupaten/kota di Jateng. Ditargetkan tahun 2018, ada 25 Kabupaten dan Kota.

Demikian diungkapkan Tim Program ACT Jateng, Giyanto kepada ACTNews. “Setelah tim program kami (ACT Jateng-red) bersinergi dengan Masyarakat Relawan Indonesia/MRI di kabupaten dan kota, perlahan tapi pasti kami terus mengembangkan pemberdayaan ekonomi masyarakat sesuai dengan wilayahnya di Jawa Tengah," ujarnya.

Ia mencontohkan aktifitas di Boyolali, pihaknya menggarap pemberdayaan pembibitan ketimun, di Semarang produksi ikan bandeng, di Brebes produksi telor bebek. "Dan saat ini di Batang kami tengah menggarap pembedayaan jamur merang, ” tuturnya.

Untuk pengembangan pemberdayaan jamur merang di Batang, Tim ACT mengawali programnya di Dusun Sikidang, Desa Pucanggading, Kecamatan Bandar.

Alasan program ini digelar di Desa Pucanggading, lanjut Giyanto karena di desa ini iklimnya sangat cocok untuk budi daya jamur merang. "Alasan lainnya praktek riba atau rentenir dengan meminjam modal ke bank dan rentenir, membuat usaha para petani jamur merang bangkrut dan terlilit hutang," imbuhnya.  

Di desa tersebut marak sekali praktek rente, sehingga UMKM tidak dapat berkembang. "Karena keuntungannya habis untuk membayar rentenir. Mereka bukannya memajukan usaha masyarakat malah melilitnya dengan hutang, sehingga masyarakat menjadi sengsara,” keluh Giyanto. 

Menurut Ridwan Subarkah, Ketua MRI Batang untuk awalan, program ini diwujudkan dalam bantuan hibah permodalan kepada Paguyuban Petani Jamur Merang "Sukses Berdikari".

“Usaha itu dipilih karena potensinya menyerap tenaga kerja sekaligus memungkinkan ditularkan ke warga sekitarnya. Karena produk jamur merang sangat diminati warga lokal, tapi pasokannya minim," papar Ridwan.

Disisi lain, lanjutnya, karena karena terbatasnya modal sehingga hasil  produksi terbatas. "Jumlahnya masih belum memenuhi permintaan pasar,” tandasnya. 

Karenanya ia mengungkapkan hibah modal yang diberikan ACT-MRI ini, diharapkan mampu meningkatkan produksi jamur merang. Untuk sementara produk jamur merang akan dipasarkan dalam bentuk mentah dan dikembangkan produk olahannya.

“Kami akan mengawasi dan memberikan edukasi yang dibutuhkan petani, sehingga modalnya bisa berkembang dan menjadi embrio budidaya jamur di masyarakat luas. bantuan modal ini akhirnya bisa memutus mata rantai rentenir ke petani,” tegas Ridwan optimis. 

Eko Sayekti, dari Tim MRI Batang sangat optimis dengan pengembangan budidaya jamur merang ini, karena berpotensi menciptakan lapangan kerja baru. "Saya mengharapkan pemerintah daerah  dan instansi terkait bisa ikut serta dalam program ini,  misalnya dengan membantu alat produksi dan lain-lain," harapnya. 

Pihaknya, tidak mungkin bekerja sendiri, maka ACT sangat menghargai setiap upaya sinergi program, baik dari instansi Pemerintah maupun dunia usaha. "Kita bisa bersama-sama mencetak wirausahawan baru, seperti di desa ini agar semakin berdaya,” jelasnya.

Yulianto, Ketua Kelompok Petani Jamur Merang "Sukses Berdikari", mengaku senang mendapatkan bantuan dari ACT ini, Ia berharap usaha yang digeluti bersama warga lainnya ini bisa berkembang, sehingga menarik minat yang lainnya untuk berwirausaha jamur secara mandiri.

“Dengan diberikan bantuan modal dari ACT, saya bersama kelompok tani jamur merang bisa berkembang,  syukur-syukur ada tetangga yang bersedia bekerja sama mengembangkan usaha ini,  disamping menambah jumlah tenaga produksi,  juga memberikan edukasi kepada tetangga agar bisa membuat usaha serupa secara mandiri,” ujarnya. 

Apa yang akan dilakukan Tim ACT Jateng dan MRI Batang selama pelaksanaan program Ini, sebagai lembaga pemberi bantuan permodalan, pengawasan serta pemberi edukasi kepada para petani jamur merang mengharapkan kegiatan ini menjadi semakin berkembang di masyarakat luas khususnya wilayah Desa Pucanggading.

“Dengan bantuan permodalan diharapkan para petani tidak lagi mencari permodalan kepada rentenir-rentenir, sehingga dapat memutus rantai rentenirisasi yang saat ini berkembang sangat pesat di wilayah ini. Sehingga keberkahan usaha ini dapat terwujud dan dapat bermanfaat untuk masyarakat luas,” pungkasnya.[]

TAGS