DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

1.000 Hari Konflik Yaman: Remuk Redam Menunggu Sirna

Solidaritas Kemanusiaan Dunia Islam (SKDI)
1.000 Hari Konflik Yaman: Remuk Redam Menunggu Sirna

ACTNews, YAMAN - Detik berlalu, jam terlewat, hari berganti. Semua penuh dengan ketakutan. Yang ada hanya remuk redam. Yang berulang hanya kekacauan di seluruh sudutnya. Sekian abad tercatat dalam peradaban dunia, negeri yang kini remuk redam itu dikenal dengan nama: Yaman.

Hari ini, yang ada hanya kekacauan. Yaman dicap sebagai titik paling krusial. Titik tempat krisis kemanusiaan terburuk sedang terjadi. Rabu (20/12) krisis terburuk dalam sejarah dunia modern itu tepat sampai di hari ke-seribu.  

Tepat pada 1000 hari yang lalu, ketika tiba-tiba saja rudal berjatuhan meluluhlantakkan kota Sana’a. Kota yang menjadi pusat histori peradaban tertua di dunia itu serta-merta hancur. Bagaikan petir di tengah hari bolong, serangan rudal secara serentak membumihanguskan ibukota Yaman.

Tak peduli apa saja diledakkan: pemukiman penduduk, rumah sakit, sekolah, bahkan taman bermain anak-anak menjadi target pemusnahan. Terlepas dari apapun dan siapapun yang memicu konflik pertama kali, tetap saja yang menjadi korban terbanyak adalah publik tak bersalah.

Seribu hari sudah berlalu tapi konflik justru makin buruk. Rabu, 20 Desember 2017 menandai hari ke-1.000 sejak serangan udara pertama kali dijatuhkan di Ibukota Sana’a.

Negara yang dikenal sebagai Arabia Felix, atau Arab yang berbahagia oleh bangsa Romawi kuno, kini telah berubah 180 derajat.  San’a hari ini tak lebih dari kota mati, kota yang paling tak ingin dimasuki.

Padahal, sebelum tragedi meletus, Yaman menjadi salah satu tujuan utama pelancong mancanegara. Mereka singgah untuk sekadar mengabadikan tiap jengkal sudut kota San’a. Karena di sanalah salah satu museum abadi. Yaman merekam masa kejayaan peradaban umat manusia, termasuk masa-masa kejayaan Islam.  

1000 Hari, Yaman Makin Remuk Redam

Hari Ahad, 19 April 2015 silam, Yasser al Hibshi, seorang ayah berusia 38 tahun, harus kehilangan rumahnya, juga tiga anaknya sekaligus. Kehilangan luarbiasa itu terjadi ketika serangan udara pertama kali membombardir Kota Sana’a. Ia tak menyangka, tanah kelahirannya akan menyusul nasib kelam negara-negara bumi Syam, termasuk Suriah yang sudah porak poranda lebih dulu akibat perang.

"Saya ingin mengatakan kepada dunia bahwa kita sudah memiliki cukup banyak perang. Sudah terlalu banyak tragedi, begitu banyak keluarga telah dilenyapkan, untuk apa? Kami berharap Tuhan akan membebaskan Yaman dan orang-orang Yaman dari situasi ini," ungkapnya, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Yasser mengisahkan, ruas-ruas jalan yang tadinya penuh estetika sejarah peradaban, kini terlalu semrawut dengan puing-puing. Indah berubah menjadi petaka.

Seluruh prasarana publik hancur lebur, pompa air dimatikan, generator rumah sakit dihentikan, pasar-pasar berhenti menyuplai bahan pokok makanan. Begitu kondisi Yaman hari ini. Memaksa siapapun untuk lari.

Mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang bermukim di Kota Hiran - Yaman mengatakan, lebih dari tiga juta orang meninggalkan rumah mereka. Tanpa bekal, tanpa apapun yang bisa mereka bawa. Namun sia-sia belaka, konflik pun menutup seluruh akses untuk ke luar dan masuk. Yaman telah menjadi penjara raksasa bagi warganya sendiri, yang ketakutan karena perang.

Akibatnya kini, melansir laporan Al Jazeera 22,2 juta orang di Yaman hanya bergantung pada bantuan kemanusiaan. Padahal, sensus penduduk Yaman tahun 2016 lalu ketika perang sedang bergejolak mencatat, populasi seluruh penduduk Yaman ada di angka 27,58 juta warga. Artinya lebih dari 90 persen penduduk Yaman hanya hidup bergantung pada bantuan.

Sekurangnya 16 juta orang tidak dapat mengakses air bersih atau kesehatan, hingga 8,4 juta orang Yaman berjuang menghadapi kelaparan.

Untuk bertahan hidup saja mereka dirundung pilihan sulit. Ketiadaan apapun yang mereka miliki, mereka harus memilih apa? air atau transportasi ke rumah sakit? Obat atau makanan? Tak ada pilihan ganda, hanya satu hal yang bisa dipilih untuk dicukupkan sebagai kebutuhan satu keluarga.

Rangkuman catatan dari berbagai pihak menyimpulkan. Sekira 8.670 – 10.000 warga sipil telah terbunuh. Sementara tak kurang 49.960 terluka.

Di antara itu ada pula yang menyerah, lebih dari tiga  juta warga Yaman menjadi pengungsi. Jutaan lain kelaparan. Kebrutalan perang selama 1.000 hari berimbas pada krisis kemanusiaan terburuk dalam sejarah dunia modern.

“Kondisinya tidak pernah lebih baik, bahkan dari tahun ke tahun kondisinya cenderung semakin buruk. Belum lagi persoalan-persoalan lain yang menyangkut kebutuhan kehidupan mereka sehari-hari. Kalau perang menutup semua akses, Yaman bahkan sedang mengarah jauh lebih buruk ketimbang Suriah atay Gaza di Palestina,” ujar Bambang Triyono selaku presiden Global Humanity Respons ACT. []

sumber gambar: dokumentasi ACT di Yaman, Al Jazeera

418

TAGS