DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

ACT dan MRI Gelar Diksar Relawan di Yogyakarta

Masyarakat Relawan Indonesia
ACT dan MRI Gelar Diksar Relawan di Yogyakarta

ACTNews, YOGYAKARTA – Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) menggelar Pendidikan Dasar (Diksar) Relawan bertajuk “Disaster Management” di Kompleks Akademi Relawan (ARI), Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (25/10). Mengikuti rangkaian Diksar Relawan ini, MRI mengikutsertakan 100 orang relawan terpilih yang berasal dari seantero Pulau Jawa. Sejumlah relawan yang dipilih pun tak hanya didominasi oleh laki-laki, namun juga belasan orang relawan perempuan dengan berbagai keahlian khusus. 

Vice President Volunteer Network ACT Ibnu Khajar mengatakan ACT dan MRI sudah dua kali mengadakan diksar, terutama tentang penanganan bencana. Berbeda dengan tema sebelumnya, pelaksanaan diksar kali ini untuk membuktikan bahwa ACT dan MRI serius dalam mengurusi masalah kerelawanan. Sebab, kata Ibnu, memiliki jiwa kerelawanan menjadi modal besar bagi perubahan dan pembangunan bangsa.

Apalagi jika mengingat kenyataan bahwa Indonesia berada di jalur potensi tinggi bencana alam. Mulai dari gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, kebakaran hutan, hingga bencana banjir yang rutin datang sepanjang musim hujan di mayoritas wilayah Indonesia. Dengan begitu, Ibnu berharap Diksar “Disaster Management” kali ini bisa membentuk loyalitas, kapasitas, dan potensi seorang relawan.

“Di sini teman-teman relawan semua belajar agar kuat secara mental, fisik, ataupun konsep. Sebab relawan juga harus berkonsep, apalagi dalam menangani peristiwa kebencanaan di mana manusia tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya,” jelas Ibnu.

Agar kontennya menarik untuk dipahami, Diksar Relawan MRI dikemas dalam beberapa bentuk pembinaan. Pembinaan itu mulai dari pembelajaran dalam seminar, pelatihan fisik, hingga simulasi aksi. Ibnu sendiri hadir sebagai pembina materi yang membahas tentang filosofi kerelawanan, Kamis (25/10). Ibnu mengatakan, pandangan atau prinsip tentang kerelawanan adalah hal paling dasar agar relawan dapat mengetahui dan memahami dunia kerelawanan lebih jauh, bahkan sampai tugas dan tanggung jawabnya.

“Menjadi relawan juga penuh risiko, mereka harus tahu. Saya belajar dari seorang pelaut, tidak ada pelaut ulung yang kapalnya tidak bergoyang apabila diterjang gelombang. Mustahil! Namun, mereka bisa belajar mengurangi risikonya. Bagaimana? Ya, dengan memahami prinsip atau filosofi tentang kerelawanan itu. Semua dipelajari dalam Diksar ini.” kata Ibnu.

Bicara tentang filosofi kerelawanan, bagi Ibnu, maknanya sangat besar. “Di Indonesia, bahkan di dunia, yang menyatukan umat adalah kemanusiaan. Di sini, kami ingin membingkai relawan dalam perspektif kemanusiaan, bukan yang lain. Jadi, semua akan bersatu dalam MRI setelah mereka melaksanakan pendidikan dasar kerelawanan, baik untuk penanganan bencana maupun pembangunan sosial,” paparnya.

Tak hanya berlangsung sejak Kamis (25/10) pagi hingga malam, Diksar “Disaster Management” pun akan dilanjutkan selama dua hari ke depan yakni Jumat (26/10) dan Sabtu (27/10). Rencananya, akan ada banyak bentuk kegiatan pembinaan yang disuguhkan untuk para relawan. Kegiatan itu di antaranya belajar mengatur rencana perjalanan dan belajar mengenali dasar-dasar navigasi darat, bahkan pembuatan bivak alam pun diajarkan sebagai keterampilan dasar untuk bertahan hidup di kondisi alam terbuka. 

Keseriusan ACT dan MRI dalam mengurusi dunia kerelawanan, insya Allah akan disempurnakan dengan adanya peresmian Akademi Relawan Indonesia pada Ahad (28/10) mendatang. ARI sendiri nantinya akan menjadi cikal-bakal penyeleksian relawan yang ingin bergabung dalam MRI. “Insya Allah, setelah resmi, ARI akan melahirkan lebih banyak relawan lagi yang siap mental, fisik, maupun konsep,” tutur Ibnu. []