DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Air Pun Mengalir di Desa Tandus di Timur Indonesia

wakaf sumur ntt

ACTNews, BELU – Program-program kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap/ACT terus bergulir. Berbagai program reguler, baik program yang sifatnya karitatif, emergensi, jangka menengah dan jangka panjang, terus dijalankan. Salah satu program ACT yang terus digenjot adalah program Wakaf Sumur. Menjadi bagian dari Global Wakaf, implementasi Wakaf Sumur menjangkau sejumlah wilayah yang mengalami krisis air bersih.             

Realisasi Program Wakaf Sumur terkini dilakukan di Desa Aitaman, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur/NTT. Desa ini merupakan kawasan tandus berbukit, yang mengalami krisis air bersih. Untuk mendapatkan air bersih, seluruh warga desa harus berjalan sejauh 1 km ke lembah perkampungan, satu-satunya lokasi sumber air bersih. Warga desa hanya mengandalkan air bersih di sumber air yang berada di lembah di antara 2 bukit tersebut.  

Namun, saat musim hujan mereka tidak bisa mengambil air di sumber air tersebut. Hal ini karena struktur tanahnya yang merah dengan kondisi jalan lengket dan licin. Apalagi tidak ada akses tangga menuju sumber air tersebut. Alhasil, air hujan pun terpaksa dimanfaatkan untuk kegiatan sehari-hari jika persediaan air mulai habis dan jalan masih belum kering.

Dengan latar belakang itulah, Program Wakaf Sumur direalisasikan di Desa Aitaman untuk menyuplai kebutuhan air bersih warga. Pembangunan sumur wakaf di desa ini terlaksana atas amanah wakif Yusuf Khalil Ihsan yang telah berwakaf melalui Global Wakaf-ACT.

Dede Abdulrochman selaku Koordinator Program Wakaf Sumur mengungkapkan, saat ini timnya telah selesai melakukan pengeboran sumur. Pembangunan sumur ini juga dilengkapi dengan 3 MCK, tempat mencuci dan wudu warga, serta toren penampung air sumur.

“Alhamdulillah, tim kami telah menyelesaikan pembangunan wakaf sumur ini. Prosesnya selama 13 hari, mulai dari tanggal 25 Juli hingga 8 Agustus 2017. Kini warga Desa Aitaman tidak lagi mengalami kesulitan air bersih,” jelasnya.   

Warga di Desa Aitaman sendiri dulunya merupakan warga Provinsi Timor Timur (sekarang Timor Leste). Mereka memutuskan menjadi warga Indonesia pada saat referendum di tahun 1999 lalu. Pascareferendum, WNI asal Timor Timur ini bermigrasi ke Provinsi NTT. Salah satu wilayah yang menjadi tempat tinggal mereka adalah Desa Aitaman.

    

Menurut Dede Abdurochman, sekitar 252 Kepala Keluarga (KK) atau 865 jiwa tinggal di desa ini. Namun, saat ini jumlahnya menyusut menjadi 100 KK/400 jiwa karena sebagian besar dari mereka mencari nafkah di Atambua.

“Karena di desa ini lahannya tandus dan tidak subur, banyak warga kami yang mecari nafkah ke  Kota, salah satunya ke Kota Atambua. Mereka menjadi buruh bangunan, tukang ojek, pelayanan toko, dan pekerjaan jasa lainnya,” jelasnya.

Hampir semua masyarakat di Desa Aitaman tidak mempunyai MCK di rumahnya, mereka hanya mengandalkan satu sumber mata air. Dengan adanya sumur dan MCK ini, warga pun sangat terbantu.

“Saya prihatin dengan keadaan ekonomi masyarakat di desa ini yang nyaris lumpuh. Karena keadaan lahan di desa ini tandus, masyarakat desa sangat kesulitan bertani. Mudah-mudahan dengan pembangunan ini, bisa memudahkan masyarakat di desa. Insya Allah kami akan rencanakan program pemberdayaan di desa ini, melalui Program 100 Tepian Negeri,” pungkasnya. []     

 

TAGS