DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Ajarkan Masyarakat Pertolongan Pertama, DMII Gelar Medical First Responder Training

Disaster Management Insitute of Indonesia
MFR

ACTNews, JAKARTA – Memiliki keterampilan dasar pertolongan pertama merupakan hal yang penting dalam mengarungi hidup ini. Sebab, ketika terjadi suatu musibah, kecelakaan atau bencana, biasanya yang menemukan korban untuk pertama kali adalah masyarakat. Pemahaman akan pertolongan pertama sangatlah penting dimiliki masyarakat. Oleh karenanya, masyarakat harus dibekali ilmu agar dapat melakukan hal yang benar ketika melakukan pertolongan pertama terhadap korban bencana. Hal inilah yang menjadi gagasan utama Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) ACT dalam menggelar Medical First Responder (MFR) Training, Rabu (20/12) lalu.

Bertempat di Kantor ACT Pusat, Jakarta Selatan, pelatihan yang dibuka untuk umum ini diikuti oleh 25 peserta. Linda Febriyani selaku panitia MFR Training menjelaskan, pelatihan tersebut bertujuan agar masyarakat memiliki pengetahuan dasar untuk menolong korban ketika tenaga medis belum tiba.

“Agar orang awam bisa mengerti pertolongan pertama, yang sesuai dengan standar medis. Hal ini karena korban pertama kali ditemukan biasanya bukan oleh orang medis, sehingga ketika mereka ingin menolong tidak menambah cedera atau pun menyebabkan kematian,” ujar Linda yang juga merupakan relawan medis Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Jakarta Raya.

Pelatihan dengan durasi selama 8 jam ini dibagi menjadi 2 sesi, materi dan praktek. Sesi pertama melingkupi penyajian materi oleh para dokter yang turut bertugas sebagai relawan kemanusiaan. Materi pertama adalah tentang Bantuan Hidup Dasar yang disampaikan oleh dr. Rizal, relawan dokter ACT. Kemudian materi  tentang prosedur pemindahan serta penstabilan korban dari tempat kejadian perkara (TKP) hingga ke ambulans (Moving, lifting, and Transporting) disampaikan oleh dr. Lukman dari Médecins Sans Frontièrs/Dokter Lintas Batas (MSF) dan proses pemilahan prioritas korban untuk dievakuasi (Triage) disampaikan oleh Ranti Bangkit, S. Kep.

Dalam sesi praktek, Ranti menjelaskan dalam dunia kerelawanan Triage/Triase merupakan aspek terpenting dalam penyelamatan korban pada pertolongan pertama.

“Pada pertolongan gawat darurat yang dilakukan di lapangan, hal terpenting yang harus dikuasai adalah mengidentifikasi secara cepat korban yang membutuhkan stabilisasi dengan segera. Akan fatal akibatnya jika kita salah memilih korban mana dahulu yang harus dibawa ke rumah sakit,” terang Ranti.

Utami, salah seorang peserta mengaku bersyukur dapat mengikuti pelatihan MFR ini. Sebab, pada saat berpergian ia sering bertemu dengan situasi dan kondisi yang membutuhkan pertolongan pertama.

“Setelah mengikuti pelatihan ini saya jadi mengetahui prosedur pertolongan pertama di lapangan. Saya berharap ilmu ini dapat saya gunakan, dan saya menjadi tidak merasa ragu untuk menolong orang lain,” ungkap Utami.

Menurut Yadi Frans selaku PIC MFR Training, sebulan sekali kegiatan ini akan diadakan dengan tujuan menjangkau berbagai elemen lapisan masyarakat.

“Kami (Tim DMII) telah menyiapkan peralatan pertolongan pertama yang lengkap sesuai pelatihan pertolongan pertama nasional dengan pelatih yang bersertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi atau BNSP dan MFR. Kami juga menggunakan metode pengajaran yang disesuaikan dengan latar belakang peserta pelatihan,” pungkas Yadi. []

 

TAGS