DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Balada Truk Lawas Pak Bejo dan 4 Ton Beras dari Sekolah Alam Ar-Ridho

Balada Truk Lawas Pak Bejo dan 4 Ton Beras dari Sekolah Alam Ar-Ridho

ACTNews, SEMARANG - Orang bijak ada yang berkata, setiap perjalanan itu unik, punya ceritanya masing-masing. Tiap perjalanan menuju suatu titik, tidak pernah ada kenangan yang sama, tidak ada tantangan yang serupa. Tantangan itulah yang menjadikan perjalanan menjadi unik, menjadi kisah yang tak biasa.

Apalagi jika bicara tentang perjalanan jauh menuju ke Somalia. Untuk apa gerangan? Kabar tentang kelaparan Somalia juga di negeri-negeri Afrika lainnya menyentak banyak nurani. Dari Indonesia pun rasa kemanusiaan itu tergugah. Akhirnya pilihan untuk mengirimkan bantuan beras sampai ke Afrika menjadi sebuah solusi yang paling masuk akal. 

Perjalanan beras dimulai. Sebelum mencapai Pelabuhan Somalia, ada banyak tahapan perjalanan yang dilewati. Mulai dari mengangkut ribuan karung beras itu dari sekolah, masjid-masjid, rumah-rumah warga sampai ke gudang penampungan beras sementara. Lalu mengangkut lagi beras itu ke pelabuhan terdekat.

Kisah ini tentang salah satu tahapan perjalanan panjang Beras untuk Afrika. Cerita berawal dari Kota Semarang, kota yang tak pernah berhenti dari riuh kesibukan dan perdagangan, Ibukota Provinsi Jawa Tengah.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, tiap perjalanan itu pasti mempunyai kisah unik dan tantangannya masing-masing. Dan di titik ini tantangan perjalanan itu berawal.

Dari Kantor Aksi Cepat Tanggap cabang Semarang di Jalan Jl. Supriyadi 78C Kalicari Pedurungan Semarang Jawa Tengah, terekam sebuah balada perjalanan unik. Hari itu, Kamis (18/5) tak lama setelah matahari waktu Dhuha terlewat, beberapa orang punggawa ACT Semarang bergegas melaju dari Semarang ke Grobogan. Tujuan mereka di pagi itu adalah sebuah lapak penjual beras milik seorang pedagang di wilayah Kabupaten Grobogan. Dua titik lokasi berada di Dusun Glonggong, Kelurahan Tanjungsari, dan di Kecamatan Kradenan Kabupaten Grobogan.

Lewat pedagang itu, ada 4 ton lebih Beras untuk Afrika yang harus segera diangkut menuju gudang penampungan ACT Semarang di Desa Jipang Kecamatan Cepu.

Dari mana pula asal 4 ton beras itu?

Amanah beras sejumlah 4 ton dan 30 kilogram itu dititipkan oleh anak-anak Sekolah Alam Ar-Ridho di Tembalang, Semarang. Dari sejumlah dana kepedulian yang berhasil digagas oleh anak-anak kreatif dari Sekolah Alam Ar-Ridho berhasil terkumpul lebih dar 4 ton beras. Kemudian dana yang terkumpul dibeli dari lapak beras di Kabupaten Grobogan.

Perjalanan menjemput beras tak pernah semulus yang dikira. Dari Semarang, Giyanto salah seorang punggawa ACT Semarang mengendarai sepeda motornya sampai Grobogan, perjalanan 5 jam tentu melelahkan. “Saya berangkat dari Semarang jam 9 pagi, sampai di Grobogan jam 2 siang. Truk untuk menjemput beras kabarnya sudah datang di Grobogan,” kata Giyanto mengisahkan.

Berkejaran dengan waktu, perjalanan motor juga tidak luput dari tantangan. Jalan yang cukup terjal membuat kesempatan kejar waktu semakin sulit. Sampai pada saat memasuki kota Grobogan, ada mobil dan motor yang memotong jalan cepat sekali.

“Tanpa bisa dihindari motor Suzuki saya menabrak motor Honda yang mengerem mendadak di depan saya. Karena kalah ukuran bodi motor, akhirnya ban dan rem sempat bengkok, terpaksa saya bawa ke bengkel perbaiki roda dan rem itu,” kisah Giyanto.

Tantangan belum juga usai, Rupanya truk yang ditunggu untuk menjemput beras itu tak pernah tiba ke Grobogan. Entah ada alasan apa, di waktu yang mepet itu si pengemudi truk yang sudah dipesan membatalkan orderannya untuk antar 4 ton beras lintas Grobogan sampai Cepu.

“Kami tidak habis pikir. Kami cegat truk lainnya di pinggir jalan. Sebuah truk muatan kosong sedang berjalan pelan melintas di depan, selekas itu kami berhentikan dan minta tolong untuk antar beras sampai ke Cepu. Nego harga berjalan, akhirnya sang supir setuju,” tutur Giyanto.

Tapi justru tantangan terberat sudah menunggu di depan mata. Truk dadakan yang Giyanto sewa bersama punggawa ACT Semarang lainnya adalah truk lawas dengan kondisi ringkih tergilas zaman.

“Dalam kesederhanaan kami niatkan berangkat pakai truk lawas itu. Doa kami untuk dimudahkan tidak pernah putus sejak awal,” kisahnya.

Balada truk lawas angkut 4 ton beras ini pun bermula. Sang supir mengaku bernama Pak Bejo. Ia ditemani seorang anaknya yang selalu ikut kemana pun Pak Bejo pergi. Setelah semua karung beras diangkut. Mobil antik Pak Bejo pun melaju santai sedikit gontai.

Di muka truk telah dipasang dua buah spanduk menambah keperkasaan truk lawas Pak Bejo. Dua buah spanduk bergambar simbol perjuangan Kapal Kemanusiaan. Juga gambar logo Sekolah Alam Ar-Ridho, pengumpul beras hasil penggalangan anak-anak jenjang SD sampai SMP ke banyak instansi swasta di kota semarang.

Dari perbincangan dengan Pak Bejo Sang Supir, truk yang ia kendarai produksi tahun 1986. Truk melaju pelan tapi pasti. Tarikannya berat, namun tetap mampu melaju stabil di lintas jalan berkelok Grobogan sampai Cepu.

Pintunya sudah tanpa kaca. Kaca kanan kiri sudah hilang entah ke mana. Alhasil, angin sepanjang perjalanan menampar trengginas wajah Giyanto dan sang supir. “Karena ndak ada kaca jendela, sepanjang jalan itu kami pasang AC alami, Pak Bejo si supir hanya ketawa saja melihat wajah saya kusut kena angin kencang sepanjang jalan,” kenang Giyanto.  

Lima jam perjalanan adalah waktu yang ditempuh Pak Bejo dan truk lawasnya untuk mencapai Desa Jipang Kecamatan Cepu. Tapi Balada truk lawas Pak Bejo tidak berhenti sampai di sini.

Tantangan berikutnya muncul ketika Pak Bejo tidak begitu memahami jalur di Kecamatan Cepu, apalagi jalur sampai masuk ke Desa Jipang. Tanpa bertanya, modal nekat pun dilakoni Giyanto dan Bejo.

“Tanpa ban serep dan tanpa terpal kami harap-harap cemas semoga Allah menolong kami. Dengan kondisi mobil yang tergopoh gopoh akhirnya dapat sampai tujuan dan kembali dengan selamat. Beras dari Sekolah Alam Ar-Ridho sampai di gudang penampungan beras Desa Jipang, Kecamatan Cepu. Dari sini nanti Beras untuk Afrika bakal dikirim ke Pelabuhan Surabaya atau Pelabuhan Semarang sebelum berangkat ke Somalia,” jelas Giyanto.

Balada mobil antik atau truk lawas Pak Bejo dan Giyanto dari ACT Semarang berhenti di Jipang. Pukul 21.30 malam di tengah capai dan lelah sepanjang perjalanan, proses bongkar muat dari mobil Pak Bejo pun dimulai.

Kisah tentang mobil antik Pak Bejo mungkin hanya sekeping dari banyak cerita heroik di tengah proses kampanye kepedulian Beras untuk Afrika. Aksi Cepat Tanggap inisiator Kapal Kemanusiaan kini memang sedang bergegas menyiapkan pemberangkatan Kapal Kemanusiaan tahap ke-2.

Sesuai rencana, awal Juni 2017 Kapal Kemanusiaan tahap kedua bakal lepas sauh menuju Somalia. []

TAGS