DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Bawa Jauh Kurban sampai Republik Islam Mauritania

Global Qurban
Bawa Jauh Kurban sampai Republik Islam Mauritania

ACTNews, TRARZA, Mauritania – Pernah mendengar tentang sebuah kota bernama Nouakchott? Sekilas dilihat, dari cara menulis dan membacanya saja sudah sulit. Bisa dibilang, nama kota ini memang asing didengar oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Tak pernah disebut dalam pemberitaan, tak pernah dikisahkan dalam sejarah perkembangan dunia. Padahal Nouakchott adalah nama ibu kota dari salah satu negeri Muslim terbesar di Benua Afrika.

Nouakchott adalah kota terbesar, terpadat di Republik Islam Mauritania. Hampir 100% populasi Nouakchott adalah Muslim. Lantas, di mana itu Mauritania?

Silakan buka kembali peta digital di gawai. Di atas peta, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bagian utara Benua Afrika hampir seluruhnya didominasi oleh Gurun Sahara, gurun gersang mahabesar, gurun paling akbar yang berada di kolong langit. Gurun yang wilayahnya bahkan terdiri dari berbagai negara, meliputi Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, Western Sahara, dan Mauritania.

Ya, Mauritania berada di paling ujung barat dari Gurun Sahara. Namanya memang kalah tenar dibanding negeri-negeri Sahara lain seperti Mesir, Aljazair dan Maroko. Namun, 100% dari populasi Mauritania adalah Muslim, serupa dengan populasi Negeri Sahara lain. Bahkan, secara de jure nama negeri ini adalah Republik Islam Mauritania, dengan identitas bulan dan bintang di kibar benderanya.

Hari ini, Mauritania adalah rumah yang nyaman bagi sekitar 4,3 juta penduduknya. Meski begitu, hampir seluruh populasi Mauritania tinggal menetap di sekitar Ibukota Nouakchott, di wilayah yang lebih subur di pinggiran Laut Atlantik, sebelah barat daya Mauritania.

Hari ini pun, politik, ekonomi, dan ranah sosial Mauritania sedang punya energi untuk menanjak tanpa dibayang-bayangi oleh konflik. Walau demikian, kenyataannya lebih dari 20% populasi Mauritania hidup serba sulit, dengan penghasilan rata-rata hanya $1,25 per hari, atau setara dengan Rp 15.000.

Global Qurban bawa kurban untuk Muslim Mauritania

Sebab sesama Muslim adalah saudara, sudah sejak tahun 2017 lalu Global Qurban mengoneksikan hati masyarakat Indonesia dengan Mauritania, nan jauh di sisi paling barat Gurun Sahara. Mitra Global Qurban di Mauritania memberikan data, lebih dari seperempat dari seluruh populasi Mauritania, hidup di bawah garis kemiskinan.

“Belum lagi dengan kondisi alam yang ganas khas Gurun Sahara. Tanaman hijau amat sulit tumbuh di Mauritania. Kering kerontang dan kemiskinan adalah dua hal yang menjadi masalah pelik di Mauritania. Meski memang syukur Alhamdulillah tak ada konflik sipil yang terjadi di negeri itu,” ujar Rahadiansyah, dari Global Humanity Response Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Rahadiansyah mengatakan, tahun lalu Global Qurban - ACT membawa amanah kurban Indonesia sampai ke Distrik Trarza tepatnya di Desa Taguilalet.

“100% populasi Distrik Trarza adalah Muslim Sunni yang berjuang menghadapi kemiskinan dan sulitnya melanjutkan pertanian karena kekeringan bertahun-tahun,” tambah Rahadiansyah.

Puluhan ekor domba Global Qurban disembelih di Mauritania. Seluruh manfaat daging kurban didistribusikan untuk 600 orang atau sekira 200 keluarga di Desa Taguilalet.

“Taguilalet adalah desa terpencil yang berada sekitar 250 kilometer jauhnya dari Ibukota Nouakchott. Jalan tanpa aspal sama sekali menuju ke desa ini. Kurang lebih 8.000 keluarga hidup tanpa penghasilan tetap di sini. Kebanyakan menyambung hidup sebagai peternak hewan dengan jumlah yang tak banyak. Meski menjadi peternak tapi mereka jarang sekali merasakan daging kurban,” tulis Zainab Khalid Zubaidi, mitra Global Qurban dalam laporannya di Mauritania setahun silam.

Satu hal lagi kenyataan pahit yang dipaparkan Zainab, rata-rata penduduk Taguilalet hidup di dalam tenda-tenda kemah, karena tak punya rumah tetap. “Panas dan dingin mereka rasakan di dalam tenda kemah. Di wilayah gurun, kalau siang suhu menjadi sangat panas dan kering, ditambah badai dan hujan pasir yang merobohkan kemah mereka. Sementara di malam hari, suhu gurun turun menjadi sangat dingin,” ujarnya.

Mengulang lagi perjalanan kurban di Tanah Afrika, Rahadiansyah mengatakan, Global Qurban akan melanjurkan komitmennya berkurban untuk Muslim di Mauritania. “Insya Allah daerah gersang nan tandus di Mauritania akan kembali didatangi. Menyambung silaturahmi di hari kurban dengan Muslim Mauritania,” pungkasnya. []

213