DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Belajar Mitigasi Gempa dari Kota Padang

Mitigasi Bencana
Belajar Mitigasi Gempa dari Kota Padang

ACTNews, PADANG – Sulit dilupakan dari ingatan sebagian besar masyarakat Sumatera Barat, kala gempa bumi besar 7,6 SR mengguncang pada 30 September 2009 silam. Sore itu, pusat gempa hanya berjarak sekitar 50 km sebelah barat laut Kota Padang. Gempa menyebabkan kerusakan masif di sebagian besar Sumatera Barat, meliputi Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittingi, Kota Padang Panjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat.

Gempa juga berdampak fatal, menyebabkan ribuan korban jiwa di sejumlah kota dan kabupaten Sumatera Barat. Menurut hitungan Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satkorlak PB), gempa Padang 2009 silam menyebabkan 1.117 orang tewas, serta tidak kurang 135.448 rumah mengalami kerusakan berat.

Mitigasi ala Kota Padang

Tinggal dalam potensi gempa besar di sekeliling Zona Megathrust Sumatera Barat, bukan berarti menumbuhkan kekhawatiran. Alih-alih khawatir, Kota Padang sebagai Ibu kota Sumatera Barat justru sudah memulai mitigasi dari lingkaran paling sederhana, seperti yang dipaparkan oleh H Mahyeldi Ansharullah, SP. selaku Walikota Padang periode 2019-2024.

Pada sebuah forum diskusi yang digelar Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) – Aksi Cepat Tanggap (ACT) bertajuk Disaster Outlook 2019, Mahyeldi bercerita tentang mitigasi. Lelaki kelahiran Bukittinggi 52 tahun silam itu memaparkan tentang strategi mitigasi bencana yang telah ia terapkan di kota yang dipimpinnya.

“Kota Padang mencoba meminimalisir risiko gempa besar yang berada di sekeliling. Yang terakhir kita lakukan adalah dengan meningkatkan kecerdasan masyarakat akan bahaya,” ujarnya.

Sejak tahun 2014 atau dua periode memimpin Kota Padang, Mahyeldi menekankan bahwa mitigasi dimulai dari lingkaran diri sendiri dan lingkaran keluarga. Menurutnya, lebih dari 90 % penyelamatan nyawa ketika bencana datang dari peranan diri sendiri dan keluarga terdekat.

“Kita mulai dengan peningkatan kecerdasan setiap individu. Harus menyadari dan waspada dengan apa saja potensi kegempaan dan bencana lain di sekitar. Kemudian di antara itu juga perlu menguatkan hubungan kekerabatan. Sehingga saling membantu, saling menolong di antara kehidupan sehari-hari,” jelas Mahyeldi.

Selain itu, sejak gempa besar mengguncang Sumatera Barat 2009 silam, sejumlah kebijakan pemerintahan pun diinisiasi di Kota Padang. “Padang memiliki Perda tentang bangunan. Bangunan publik di Kota Padang kekuatannya harus mampu memenuhi respons gempa lebih dari 9 SR. Kemudian jika bangunan tersebut dibangun di pinggir pantai maka akan berbeda posisi dan kekuatannya dengan bangunan yang lain,” tambah Mahyeldi.

Di antara upaya-upaya teknis mitigasi yang dipaparkan, Mahyeldi juga menegaskan tentang hal terpenting dari semua langkah mitigasi yakni hubungan yang lebih kuat kepada Penciptanya. “Bencana gempa bumi yang mengancam Padang dan sekitarnya bisa menjadi fatal jika menimbulkan korban jiwa. Mulanya karena terjadi kepanikan. Kapan orang panik? Ketika dia tidak punya pegangan, ketika tidak punya pengetahuan,” jelasnya.

Padang dengan demografi lebih dari 97% muslim, sudah memulai menyatukan antara konsep mitigasi dengan kedekatan pada Sang Pencipta. Mahyeldi menggambarkan, kepanikan ketika terjadi gempa itu dimulai karena setiap individu tidak punya pegangan.

“Pegangan yang pertama itu kepada Allah SWT, setiap pribadi diarahkan untuk memiliki hubungan yang lebih kuat kepada penciptanya. Mitigasi bencana dimulai dari titik ini. Dikuatkan dengan kecerdasan individu dan keluarga, mendorong setiap keluarga untuk belajar dan waspada,” pungkas Mahyeldi.

Beberapa hari lalu, di awal Februari 2019 guncangan gempa cukup besar kembali terjadi. Kali ini gempa terjadi tak jauh dari Kepulauan Mentawai, Sabtu (2/2). Gempa pukul 17.59 WIB itu berkekuatan magnitudo 6,1, bahkan diikuti oleh 52 kali lindu susulan sampai beberapa jam berikutnya.

Sepanjang pesisir Sumatera Barat, termasuk Kepulauan Mentawai diketahui memang memiliki potensi kegempaan yang besar. Apalagi, karakteristik lindu di wilayah sebelah barat Pulau Sumatera ini memiliki lokasi episenter yang dangkal, artinya gempa bisa merambat dengan guncangan yang sangat keras hingga ke permukaan, bahkan memicu tsunami.  

Sejumlah peneliti kegempaan menyebut, wilayah Sumatera Barat termasuk juga Bengkulu termasuk dalam zona Megathrust yang berada tepat di sekitar Pulau Pagai, Kepulauan Mentawai.

“Kedahsyatan gempa dan tsunami Aceh, berpotensi terulang di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.  Gempa besar bahkan tsunami Mentawai telah mampir dan menunjukkan besaran potensi gempanya,” kata Nugroho Dwi Hananto, peneliti geofisika dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengutip laman Tempo. []