DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Beribadah dalam Sepetak Bangunan Darurat

Pemulihan Pascabencana
Beribadah dalam Sepetak Bangunan Darurat

ACTNews, SIGI – Penunjuk suhu di telepon genggam menampakkan angka 31 derajat Celsius pada Jumat siang (9/11). Suhu panas menjadi hal biasa di wilayah-wilayah Sulawesi Tengah yang bertopografi pesisir dan terletak di bawah garis khatulistiwa. Sejak pukul 11.00 WITA, terik matahari disambut lantunan doa dari pengeras suara masjid darurat di tengah lapangan bola Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru, Sigi.

Tepat tengah hari azan berkumandang. Sejumlah laki-laki, baik orang tua dan anak-anak, melangkah satu demi satu mendekati masjid selepas berwudu. Masjid darurat di Desa Lolu memang masih sangat sederhana, bangunan dari pasak kayu dengan dinding dan atap berbahan asbes. Sepetak bangunan ini dijadikan ruang beribadah komunal oleh warga Desa Lolu. Bila salat Jumat tiba, satu tenda di belakang masjid darurat turut difungsikan untuk menampung jemaah. Sementara saluran air bersih untuk berwudu nihil di masjid darurat ini.

Muhammad Nurdin mengenakan pakain putih dan kopiah putih pucat berhias garis biru. Ia menjadi imam salat Jumat siang itu. Nurdin adalah imam Masjid Al Falah Desa Lolu, ia lah yang seringkali memimpin salat berjamaah warga desa. Jumat kedua di bulan November adalah kali kelima Nurdin memimpin salat Jumat di masjid darurat, sejak gempa besar 28 Oktober lalu merobohkan masjid Al Falah yang terletak di mulut desa.

Sebelum mendirikan sepetak bangunan darurat yang dijadikan masjid itu, Nurdin dan warga sekitar memanfaatkan tenda yang ada. “Waktu pertama (hari) Jumat di sini, saya kasih tahu dulu sama masyarakat, kita salat Jumat di lapangan, kan di sini (lapangan bola Desa Lolu) banyak tenda. Pakai tenda saja dialasi dengan tikar,” cerita Nurdin ketika ditemui tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) sehari sebelumnya, Kamis (8/11).

Selama lima kali salat Jumat ini pun, Nurdin memohon kepada khatib agar khutbah disampaikan secara padat dalam waktu yang singkat. Hal ini mengingat kondisi yang lembab dengan suhu udara yang cukup tinggi. “Saya kasih tahu khatib, (khutbah) harus dua menit, sepanjang-panjangnya lima menit. Karena orang kepanasan, biar tidak pada rusuh,” jelas Nurdin.

Meskipun kini warga Desa Lolu hanya bisa beribadah dalam sepetak bangunan darurat dan tenda pengungsian, mereka begitu bersyukur dengan nikmat keselamatan yang didapat. Ketika masjid roboh, tidak ada satu pun warga yang tertimpa bangunannya. “Waktu kejadian (gempa) saya masih dalam perjalanan, dari Morowali. Waktu gempa saya tertahan di daerah Toboli, di kebun-kebun. Tidak ada korban jiwa dari robohnya Masjid Al Falah. Semua orang sempat keluar,” imbuh Nurdin.

Bukan sekadar tempat ibadah

Usai salat Jumat (9/11), sejumlah bapak di Desa Lolu menggelar musyawarah di masjid darurat. Pembicaraan siang itu mengenai rencana perayaan maulid. Turut hadir sejumlah pemuka desa, antara lain Kepala Desa Lolu Tarmin Haero, Imam Masjid Al Falah Desa Lolu Muhammad Nurdin, Ketua RT 09 Desa Lolu Saharuna, dan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Lolu Arifin.

Pada dialog siang itu, warga desa mengemukakan betapa pentingnya keberadaan sebuah masjid. Masjid Al Falah bukan sekadar sarana ibadah bagi warga Desa Lolu. Masjid adalah salah satu unsur penting bagi masyarakat, salah satunya untuk musyawarah. Belum lagi memasuki musim hujan, keberadaan masjid menjadi hal yang ditunggu-tunggu warga agar jemaah dapat beribadah dengan layak.

 

“Kami mengharapkan (pembangunan) masjid ini segera didahulukan, mengingat sebentar lagi maulid dan memasuki musim hujan. Itu yang kita harapkan dari ACT, semoga bisa terkabulkan,“ ungkap Ketua BPD Lolu, Arifin, mewakili masyarakat.

Fisik masjid Al Falah kini memang tidak lagi berbentuk, namun ruh religiositas masyarakat terus menghidupkan semangat beragama di Desa Lolu. []

TAGS