DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Berkhidmat dalam Menolong Umat

Kolom
Berkhidmat dalam Menolong Umat

Nur Ali Akbar

Emergency Response Team, ACT Sulawesi Selatan

 

Kita tidak pernah tahu, amalan manakah yang kelak jadi penguat alasan bagi-Nya untuk melayakkan diri atas Surga-Nya? Boleh jadi dari ibadah hebat kita, sedekah harta kita, bahkan dari sekadar senyum tulus kita pada sesama. Sungguh, kita tak pernah tahu.

Ragam peran digeluti. Berbagai aktivitas dijalani. Kita berjibaku dengan waktu, berwasiat untuk kebaikan, berlomba jadi bermanfaat terhadap mereka yang teraniaya.

Pun relawan. Mereka melepas segala kepentingannya. Mereka melupakan sejenak urusan pribadinya, tak peduli badannya lusuh. Tenaga dan pikiran total berkhidmat untuk umat. Kepedulian menuntun mereka pada jalan kemanusiaan. Mewujudkan sedikit harapan pada orang-orang yang tertimpa bencana.

 

Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) menjadi bagian tak terpisahkan dari panggilan kepekaan untuk sesama. Dan saat ini, Palu memanggil, menawarkan ladang pahala tanpa batas pada jiwa-jiwa yang terdampak.

Dari berbagai wilayah, MRI merapatkan diri, mengambil bagian dari misi kemanusiaan membantu korban bencana di Palu dan Donggala.

"Entah mengapa, semakin banyak yang kami bantu, semakin bertambah energi kemanusiaan yang kami miliki, sampai-sampai kami lupa bahwa ada yang namanya ‘capek’,” ungkap tulus Yusuf, salah seorang relawan MRI yang saat ini berada di Palu, Sulawesi Tengah.

 

Dari beberapa titik terparah, Balaroa adalah salah satu fokus utama evakuasi tim MRI. Pemukiman yang terletak di Kecamatan Besusu, Kota Palu ini terdiri dari lebih 300 unit rumah permanen. Dalam hitungan jam, kompleks perumahan itu luluh lantak dihantam gempa.

Kendaraan berbagai merek terhempas dan remuk. Rumah dengan beragam tipe hancur bersisa puing. Jalan yang sebelumnya mulus, kini berantakan bak dilipat dan digulung. Sekejap mata, sekira 12.000 jiwa penghuninya saat ini belum jelas nasib dan keberadaannya.

 

Sejak matahari terbit, hingga petang menjelang, relawan MRI ACT tetap bekerja tak pandang letih. Hingga hampir dua pekan pascagempa dan tsunami, mereka tetap hadir di antara puing-puing reruntuhan.

Entah apa yang ada di hati dan pikiran mereka. Namun, aksi nyata dan perjuangan para relawan telah menegaskan kepada kita bahwa naluri kemanusiaan itu masih ada. Bahwa, meski mungkin dengan ibadah apa adanya, jihad kemanusiaan telah mereka tunaikan dan berharap kelak jadi pemberat timbangan amal, memudahkan langkahnya meniti shirat  (jembatan) menuju JannahNya.

 

Semoga para relawan tetap istikamah dalam menjaga niat juga baktinya. Sebab, negeri ini butuh orang-orang yang peduli, bukan sekadar hadir namun tidak memberi arti.

TAGS