DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Dalam Pengungsian, Abul Manjur Rajut Asa Pendidikan Anak Rohingya

Dalam Pengungsian, Abul Manjur Rajut Asa Pendidikan Anak Rohingya

ACTNews, COX’S BAZAR - “Pengungsi sejak lahir” adalah status yang disandang oleh Abul Manjur (23), guru dan ustaz keturunan Rohingya yang tinggal di Kamp Nayapara, Cox’s Bazar, Bangladesh. Tidak ada kenangan tentang tindak diskriminasi dan kekerasan yang fatal di negeri asalnya, Myanmar, karena ia memang belum pernah mengalaminya secara langsung. Abul dilahirkan dan dibesarkan di Kamp Nayapara, tiga tahun setelah keluarganya mengungsi dari kekejaman junta militer Myanmar pada 1991.

Namun demikian, kisah nahas yang menimpa kaumnya begitu melekat dalam benak Abul. Kisah tersebut terlantun dari mulut keluarganya, dari pelajaran sejarah yang diceritakan oleh gurunya, atau dari obrolan-obrolan santai bersama pengungsi-pengungsi yang baru saja tiba di Kamp Narapaya. Semua menuturkan narasi yang sama, tentang pengalaman yang ia yakin tak seorang pun menginginkannya.

“Terlalu banyak kekerasan dan ketidakadilan kepada warga Rohingya saat itu, mulai dari pelarangan untuk mengenyam pendidikan, kerja paksa, pemerkosaan, pembunuhan, pencurian ternak, hingga penyitaan rumah dan sawah secara sewenang-wenang. Ketika rumah orang tua saya ikut disita, saat itulah mereka memutuskan untuk mengungsi ke Bangladesh,” ungkap Abul, yang belum pernah melihat rupa kampung halamannya di Desa Ali Chaung, Kota Buthidaung, Myanmar.

Tahun 1991-1992 memang terjadi eksodus Rohingya ke Bangladesh akibat meningginya intensitas konflik etnis di Myanmar. Melansir laporan yang diterbitkan oleh UNHCR pada 1995, lebih dari 200 ribu warga Rohingya meninggalkan kampung halamannya. Mereka berjalan kaki sejauh 2-10 km hingga ke tepian Sungai Naf yang membatasi Myanmar dan Bangladesh sebelum menyeberangi perairan tersebut menggunakan perahu dayung.

“Di Kamp Nayapara ini, ada sekitar 23 ribu pengungsi. Beberapa seperti saya, lahir dan besar di sini,” lanjut Abul kepada ACTNews.

Menjadi pengungsi seumur hidupnya bukanlah sesuatu yang ia banggakan, walaupun keadaannya bisa dikatakan jauh dari ancaman kekerasan seperti yang biasa dengar. Selama hidupnya, ia masih harus menyaksikan kemiskinan yang menggelayuti kamp demi kamp yang ada di sana. Miskin harta, pun miskin ilmu; realitas yang ia temui setiap harinya.

Pendidikan, menurut Abul, belum menjadi prioritas pengungsi Rohingya yang mayoritas hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Ia sendiri merasa bersyukur karena sempat mengenyam pendidikan, meski bukan pendidikan formal di sekolah. Dari seorang ustaz dan guru yang bernama Habib Ullah, ia dan teman-temannya menuntut ilmu serta membangun cita: menjadi seorang guru sekaligus ustaz.

“Saya ingin sekali menjadi seorang guru dan ustaz seperti Ustaz Habib Ullah. Saya yakin memilih jalan ini karena saya ingin mengajar pengungsi-pengungsi Rohingya lainnya yang mayoritas tidak bisa membaca,” jelasnya.


Merajut asa pendidikan anak Rohingya

Abul mulai merealisasikan impiannya menjadi seorang guru dan ustaz ketika berusia 20 tahun. Bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang begitu dikuasainya, sehingga ia mantap memilih menjadi guru Bahasa Inggris. Madrasah Ma’had Khaled bin Wa’lid al Islami menjadi sekolah tempatnya mengabdi selama tiga tahun ini.

Ia lantas mengungkapkan, mengapa akhirnya ia mengabdikan diri di madrasah dibanding sekolah darurat lainnya. “Saya ingin selalu bisa mendekatkan diri dengan Allah. Satu hal lainnya yang jelas, saya mantap mengajar anak-anak madrasah agar bisa melahirkan lagi ustaz-ustaz lainnya,” tegas Abul.

Abul merupakan salah satu guru sekaligus ustaz berdedikasi yang menerima bantuan Teacher Sponsorship Program bulan Juni lalu yang diinisiasi oleh Aksi Cepat Tanggap.

“Program tunjangan guru tersebut menjadi bagian dari serangkaian bentuk kepedulian masyarakat Indonesia yang senantiasa menyapa pengungsi Rohingya, seperti program Humanity Card dan program bantuan pangan,” jelas Bambang Triyono, selaku Director of Global Humanity Response ACT.

Bagi Abul, bantuan beaguru menjadi berkah yang terus memantapkan hatinya untuk mendidik anak-anak pengungsi Rohingya. Dalam surau yang ia dan murid-muridnya sebut sebagai “madrasah”, asa meraih pendidikan selalu dirajut.

“Saat mengajar, saya melihat semangat belajar mereka yang begitu tinggi, apapun pelajarannya. Anak-anak itu juga menghormati kami sebagai guru mereka. Inilah yang membuat kami, para guru, menyayangi mereka dan berkomitmen untuk mencerdaskan mereka,” tegasnya.

Ia dan para guru lainnya bahkan menyambangi kamp-kamp pengungsi di sekitar kediamannya, mengunjungi anak-anak yang belum menempuh pendidikan formal di madrasah. Sebisa mungkin ia mengajak anak-anak tersebut untuk bersekolah.

“Kami meyakinkan orang tua mereka betapa pentingnya pendidikan. Bahkan kami menawarkan diri untuk mengajar beberapa anak sekaligus di kamp mereka. Yang penting mereka belajar mengaji dan bisa baca serta tulis,” ujar Abul.

Sambil mengajar murid-muridnya, Abul menanam asa. Pendidikan akan mampu mengubah wajah bangsanya, mengangkat derajat bangsanya, hingga menciptakan peradaban yang lebih baik. Seperti yang dikisahkan oleh sejarah kebangkitan bangsa-bangsa, pendidikan menjadi salah satu modal perjuangan mereka ke arah kehidupan yang lebih baik. []

TAGS