DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Darurat Perang untuk Pengungsi Suriah di Idlib

Let's Help Syria
Darurat Perang untuk Pengungsi Suriah di Idlib

ACTNews, REYHANLI, Turki - Jalan-jalan kecilnya mendadak ramai dalam dua pekan terakhir. Aspal tak seberapa lebar itu digilas oleh konvoi truk-truk mengangkut kendaraan ban-ban baja. Tapi bukan buldozer, itu bukan konvoi alat berat untuk membangun gedung atau semacamnya. Ban-ban baja itu berwarna dasar gurun, khas militer. Apalagi ada moncong panjang yang menjulur ke depan, menandakan jelas bahwa ban baja itu adalah konvoi tank-tank militer. Milik siapa? Siapa lagi kalau bukan Militer Turki.

Ketegangan memang sedang benar-benar terjadi di ruas jalan-jalan kecil di sepanjang kota Reyhanli, salah satu kota kecil di Provinsi Hatay, kota yang menjadi perbatasan langsung antara Turki dan Suriah. Kota yang juga menjadi lokasi dari Indonesian Humanitarian Center (IHC) Aksi Cepat Tangap untuk pengungsi Suriah.

Di sini, di Kota Reyhanli, dua pekan sudah Militer Turki bergegas menyelesaikan pengiriman artileri berat dan pasukan militernya merapat ke Reyhanli. Sejumlah media di Turki mengabarkan, tindakan ini merupakan bentuk antisipasi defensif, kalau benar-benar bakal terjadi serangan besar di Kota Idlib, kota di sisi Suriah yang bersinggungan langsung dengan Reyhanli.

Melansir Al-Jazeera, seorang analisis keamanan Turki Metin Gurcan mengatakan bahwa, dilihat dari jenis senjata yang disiapkan, Turki sedang dalam posisi defensif alih-alih menyerang. “Turki sedang dalam posisi preventif. Melindungi perbatasan sekaligus menyiapkan diri jika terjadi arus pengungsian yang besar ketika Idlib benar-benar diserang oleh rezim Assad,” ujar Gurcan untuk Al-Jazeera.

Dua pekan dalam ketegangan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, sedikitnya sudah ada 40.000 jiwa pengungsi baru yang melarikan diri dari Idlib. Mereka menjadi korban dari beberapa serangan udara masif yang dilancarkan jet tempur Suriah-Rusia di atas Kota Idlib.

“Kemungkinan terburuk, bisa lebih dari 900.000 jiwa pengungsi akan keluar dari Idlib, kalau serangan penuh benar-benar jadi dilancarkan rezim Assad,” tulis PBB dalam laporannya, melansir kembali Al-Jazeera.

Nasib abu-abu pengungsi Suriah di Idlib

Apa yang sebenarnya sedang terjadi di Idlib? Kembali lagi ke bulan Juli tahun 2017 silam. Kala itu, sebuah perjanjian de-eskalasi (de-escalation agreement) antara Turki, Rusia dan Iran telah memutuskan beberapa area di dalam Suriah yang bakal menjadi zona gencatan senjata, zona aman untuk para pengungsi. Area itu meliputi Idlib, Daraa, Homs, termasuk potongan wilayah kecil seperti Ghouta Timur, juga beberapa wilayah lainnya.

Namun bisa dilihat, perjanjian itu nyatanya benar-benar dilanggar. Terakhir Ghouta Timur dan Daraa kembali menjadi bombardir besar-besaran oleh rezim Assad dengan dalih melawan pemberontak. Tapi, ratusan ribu warga sipilnya terusir dari rumahnya.

Kini, arah serangan itu menuju ke Idlib. “Rumah” bagi lebih dari 3 juta warga sipil, di antara jumlah tersebut, lebih dari sejuta warga sipil adalah pengungsi internal yang berasal dari wilayah lain. Idlib menjadi target, pasalnya menurut rezim Assad, Idlib jadi basis terakhir pasukan pemberontak. 

 

Dua kali periode Salat Jumat sudah berselang, berkali-kali pula serangan udara nyata-nyata dikirimkan untuk Idlib. Relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang bertugas untuk Indonesia Humanitarian Center (IHC) di kota perbatasan Reyhanli mengatakan, kepulan asap dan suara dentuman serangan udara terkadang bisa sampai terdengar dan terlihat dari sisi Reyhanli, tanda kalau ledakan itu benar-benar besar.

Sepanjang dua pekan ini pula, sejumlah potongan gambar dari laman Reuters dan telah terverifikasi menunjukkan anak-anak Idlib sedang bersiap dengan gelas-gelas, plastik, dan kapas.

“Orang-orang di Idlib sedang ketakutan apabila senjata kimia kembali digunakan. Kami mengajari anak-anak kami membuat masker gas alami dari plastik dan gelas untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk,” tulis Ahmad warga lokal Idlib melansir Al-Jazeera.

Sementara itu, bersiap dengan risiko terburuk ledakan pengungsi dari Idlib, Aksi Cepat Tanggap (ACT) masih berikhtiar penuh dengan menyiagakan stok pasokan makanan gratis di gudang IHC di Kota Reyhanli.

Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response ACT menjelaskan, hingga pekan kedua September 2018, IHC – ACT yang berada di Kota Reyhanli terus mendistribusikan paket-paket makanan untuk pengungsi Suriah, baik itu di sisi perbatasan Turki-Suriah maupun sampai ke dalam idlib.

“Agustus kemarin, kami baru saja mendistribusikan paket-paket pangan untuk sekitar 1.000 keluarga di wilayah Sub Distrik Bidama, Distrik Jisr Shughur, Provinsi Idlib, Suriah. Seluruh paket pangan disiapkan di hub-gudang IHC-ACT yang ada di dalam Idlib,” pungkas Faradiba. []