DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Dengan Humanity Card, Merawat Senyum Ribuan Keluarga di Gaza

Dengan Humanity Card, Merawat Senyum Ribuan Keluarga di Gaza

ACTNews, GAZA, Palestina - Suatu pagi, di awal Bulan Oktober, di sudut Kota Gaza yang masih dikepung, pagi berjalan lambat sekali. Pagi di Gaza memang tak pernah berdetak semangat, bagaimana bisa hidup jika Gaza dikepung dan dijajah? Bagaimana bisa bergegas menyelesaikan urusan jika tak ada pintu keluar dan masuk sama sekali untuk 2 juta penduduk Gaza?

Pagi kemarin, gang kecil penghubung rumah-rumah di Gaza belum ada aktivitas berarti. Kecuali seorang Ibu yang muncul perlahan dari pintu rumah di salah satu desa bernama Deir el Balah, tepat di tengah Gaza yang dikepung

Sepagi itu, seorang ibu tampak bergegas keluar rumah, menggandeng tangan bocah perempuannya. Tujuan si Ibu mengarah ke sebuah mini market sederhana di pojok gang. Ada kebutuhan logistik yang perlu untuk ditebus. Ada beberapa gelas beras, segenggam bumbu masakan, sekaleng daging sarden, dan beberapa ons daging yang perlu untuk didapat, melengkapi sarapan pagi itu.

Si Ibu tampak sumringah bukan main, sembari menggandeng bocahnya Ia bergegas menuju pintu mini market, mungkin menjadi pembeli pertama di hari itu. Usai semua barang kebutuhan dimasukkan ke keranjang belanja, si Ibu tidak mengeluarkan lembaran uang, rupanya bukan dengan uang barang kebutuhan pangan itu ditebus.

Dengan sigap, si ibu mengeluarkan sebuah kartu bertuliskan “Humanity Card, Palestina 2017”. Baru hari kemarin, kartu “sakti” itu didapat si Ibu. Sebuah kartu yang bisa dipakai untuk menebus sejumlah bahan pangan di beberapa mini market di Gaza. Di bagian atas kartu tertulis dalam bahasa Arab: Bithaqah at-Tassawuq al-Khairiyah, yang punya arti kartu belanja derma (amal).

Sementara itu, di pojok kanan kartu Humanity Card tampak logo Aksi Cepat Tanggap (ACT), sementara di pojok kiri kartu tercetak terang, bendera Merah Putih, bendera Indonesia. 

September – Oktober 2017, Humanity Card makin meluas di Gaza

Humanity Card atau Kartu Kemanusiaan adalah sebuah program yang digagas oleh ACT di beberapa daerah paling membutuhkan. Gaza yang dikepung, dijajah dan terjebak dalam segala masalah kemiskinan menjadi salah satu target implementasi program Humanity Card.

Untuk Gaza, program Humanity Card sudah bergulir hampir setahun. Kartu ini menjadi solusi efektif menjawab persoalan kemanusiaan yang makin hari tak henti membelit Gaza.

Bambang Triyono, Direktur Global Humanity Response ACT mengatakan, Humanity Card untuk Gaza bakal terus bergulir dan makin meluas penggunaannya, makin bertambah penerima manfaatnya.

“Siapa penerima Humanity Card di Gaza? Program ini mengutamakan keluarga dengan ibu (janda) sebagai kepala keluarga, atau setiap keluarga yang mempunyai kepala keluarga yang tak lagi bekerja. Entah karena usia atau karena sakit,” papar Bambang.

Makin meluaskan program Humanity Card, sejak bulan September sampai Oktober 2017 ACT menambah lagi jumlah kartu kemanusiaan di beberapa desa di tengah Kota Gaza.

“Bulan September sampai awal Oktober kemarin, 200 kartu kemanusiaan dibagikan lagi ke 4 desa di Gaza, meliputi desa Deir el Balah, al-Burij, al-Maghazi, dan al-Zawaida,” ujar Bambang.

Dengan Humanity Card, keluarga terpilih di Gaza bisa bebas memilih item yang ingin dibeli di toko-toko yang sudah menjalin kerja sama dengan program ini. Setiap kartu bisa digunakan untuk membeli keperluan keluarga apapun khususnya yang berkaitan dengan bahan pangan.

“Setiap kartu sudah diisi dengan nominal dana yang dicukupkan untuk membeli kebutuhan pangan setiap satu keluarga di Gaza dalam rentang waktu sebulan,” jelas Bambang.

Kartu kemanusiaan pun menjadi solusi, di tengah makin memburuknya statistik pengangguran di Gaza. Sudah bertahun-tahun lalu, Gaza dinobatkan Badan Dunia sebagai salah satu petak negeri yang punya tingkat pengangguran paling banyak, jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya.

Statistik terbaru yang bisa diakses siapapun di mesin pencari menuliskan, pada kuartal pertama 2014 silam lebih dari 180 ribu warga Gaza (usia produktif) menganggur. Bukan karena malas, tapi memang tidak ada pekerjaan sama sekali yang bisa dilakukan di tengah negeri yang dikepung.

Bahkan statistik lain menuliskan, lebih dari 600 ribu warga di Jalur Gaza hidup tanpa penghasilan sama sekali. Sementara 30% sisanya dari populasi hanya mengandalkan pendapatan harian tak lebih dari 1$ per kapita dalam sehari. Artinya, pendapatan harian di Gaza tidak lebih dari Rp. 13.000 per kapita per hari.

InsyaAllah, dalam beberapa bulan ke depan, kartu kemanusiaan untuk Gaza bakal terus bertambah, meluas dan makin menjangkau kawasan paling kumuh dan paling membutuhkan di Gaza.

Hari ini, 2 juta penduduk Gaza tak tahu harus berbuat apa, ketika rumah, tanah, laut, bahkan langit mereka dikepung. Hanya berharap bahwa esok semua penjajahan atas Gaza bisa segera berakhir. []

TAGS