DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Diplomasi Internasional: Menyodorkan Opsi Adu Baik di Level Dunia

Kolom
Diplomasi Internasional: Menyodorkan Opsi Adu Baik di Level Dunia

Syuhelmaidi Syukur

Senior Vice President ACT

Penghujung Desember 2018 lalu, masih dalam suasana duka Indonesia diuji tsunami Selat Sunda, dan ACT diliputi situasi tanggap bencana, Masyarakat Muslim Uighur dari China datang bersilaturahim ke kantor kami. Sedianya, mereka membawa duka tak terperi lantaran kezaliman yang menimpa mereka. Rezim pemerintahan negerinya memperlakukan mereka semena-mena. Mereka kehilangan kebebasan asasi, bahkan dalam mengekspresikan keyakinan agamanya, mereka tak bisa.

Kepada ACT mereka mengadukan nasibnya. Apa boleh buat, saat itu ACT tengah menangani bencana alam, dan muslim Uighur mengulurkan bantuan mereka. Akhlak yang amat terpuji, mendahulukan menolong saudara yang dilanda musibah. Ungkapan simpatik yang mereka sampaikan saat kunjungan ke ACT pertama kalinya, mereka mensyukuri Indonesia. Aksi Muslimin di Indonesia menjadi perbincangan dunia. Mereka merasa besarnya perhatian Indonesia atas muslim Uighur. Dan untuk itu, mereka berterima kasih.

ACT dituju karena lembaga ini yang punya perhatian khusus terhadap Uighur, terlebih ACT menyemangati bangsa Uighur dan mengungkapkan beragam dukungan untuk mereka. Kepada masyarakat Uighur, ACT mengungkapkan hasratnya untuk bisa menggelar pertemuan internasional di Indonesia - sekitar awal Maret lalu.

ACT mendapat undangan menghadiri Konferensi Hak Asasi Manusia Internasional Uighur 40th Session Human Rights Council di Kantor Perserikatan Bangsa Bangsa di Jenewa, Swiss. Saya hadir memenuhi undangan itu, ditemani Mohammad Faisol Amrullah. Dalam forum itu, Komisaris PBB untuk Hak Asasi Manusia, Mrs. Michelle Bachelet dan perwakilan banyak pihak, negara maupun lembaga nonpemerintah secara resmi mengecam situasi yang mengkhawatirkan ini.

Bagaimana tidak, muslim Uighur mengalami perlakuan buruk, pendek kata, banyak hal tak layak diterapkan sebagai atas etnis Uighur yang layak mengundang protes masyarakat internasional. Pemaksaan mengonsumsi daging babi yang dilarang dalam Islam, ekspresi agama sebagai hal yang prinsipil bagi sebuah etnis di sebuah negara juga berbagai bentuk larangan lainnya dialami Muslim Uighur.

Di dalam sidang internasional, 5 Maret 2019 yang amat terbuka itu, Muslim Uighur mengadukan nasibnya. Karena forum ini terbuka, setidaknya ada pro-kontra antara Muslimin yang mengadu dan kelompok diadukan. Pada forum itu ACT satu-satunya lembaga nonpemerintah, dalam gabungan NGO Hak Asasi Manusia Eropa dan Internasional.

 

Saya lihat dukungan atas nasib Uighur datang dari banyak NGO Eropa. Mengingat Indonesia juga menentang penindasan, perjuangan ini secara konstitusi dibenarkan. Indonesia menganut politik bebas dan aktif, kebijakan yang memberi posisi terhormat sehingga Indonesia cukup diperhitungkan dunia.

Bukan mengada-ada, kalau praktik pemberangusan Alquran terjadi atas muslim Uighur. Berdalih “reedukasi orang Uighur”, Pemerintah Cina menempatkan muslim Uighur di kamp-kamp tertutup. Berbekal testimoni muslimah mantan tahanan kamp yang pernah memenjarakan orang-orang Uighur, ACT memfasilitasi advokasi muslim Uighur ini untuk bisa menyuarakan nasibnya lebih nyaring, termasuk memberi kesempatan diskusi media, sehingga dunia simpati kepada muslim Uighur.

Kembali tentang forum Konferensi Hak Asasi Manusia Internasional Uighur 40th Session Human Rights Council di Kantor Perserikatan Bangsa Bangsa di Jenewa, Swiss yang saya hadiri. Pada forum itu hadir sejumlah besar pejabat Cina, Bashy Quraishy selaku Sekretaris Jenderal Inisiatif Muslim Eropa untuk Kohesi Sosial - EMISCO, Seyit Tümtürk selaku Presiden Dewan Nasional Turkestan Timur,Jean-Marie Heydt selaku President of The Conference of INGOs), dan Humayra Filiz selaku Presiden Kehormatan Konferensi LSM Internasional Dewan Eropa.

Optimisme harus mengemuka dari ACT sebagai tumpuan harapan muslim Uighur, dan lobi internasional  mengemuka dalam alir argumentasi yang intensif. Rasanya pada era dunia modern saat ini, Pemerintah Cina akan mati-matian membangun reputasi internasionalnya. Kekuatan militer bukan eranya apalagi demi melawan akal sehat masyarakat kemanusiaan internasional.

TAGS