DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Doa dan Qunut dari Anak Muda Palembang untuk Palestina

Doa dan Qunut dari Anak Muda Palembang untuk Palestina

ACTNews, PALEMBANG - Bisa dibilang emosi yang terikat antara bangsa Indonesia dengan Palestina sudah demikian erat. Walau jarak terpisah begitu jauh, setiap kabar pilu datang dari Palestina, emosi masyarakat Indonesia bakal seketika terpantik.

Tentang Palestina, dari yang tua sampai yang muda, empati kemanusiaan yang terpantik pun serupa, sama besarnya. Bahkan empati yang dimulai dari anak muda bisa jadi punya energi yang lebih besar dan masif. Seperti yang beberapa hari kemarin dilakukan oleh belasan komunitas anak muda di Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Ada banyak kisah menarik dibalik aksi solidaritas yang digawangi oleh Pemuda Bergerak (PERAK) Kota Palembang. Dari Aksi Cepat Tanggap cabang Sumatera Selatan (ACT Sumsel), cerita ini dirangkum dan dituliskan.

Bertandang ke ACT Sumsel, puluhan anak-anak muda Kota Palembang ini membawa satu niat baik. “Kami tidak punya apa-apa, yang kami punya hanya semangat untuk membantu Palestina. Kami ingin kirimkan doa dan qunut untuk Palestina.” ujar salah satu perwakilan PERAK.

Niatan itu pun berujung pada satu kesepakatan aksi. Ahad (30/7) lalu, anak-anak muda di Kota Palembang, antara lain Aktivis Peduli Lingkungan (APEL), Bakti Sosial Palembang, Komunitas Media Sosial, Pemuda Hijrah, Pelajar SMA Tunas Bangsa, Pelajar SMA Darma Bakti, Pelajar MAN 2 Palembang dan masih banyak lagi lainnya terlibat bersama, menyatukan hati dan doa untuk Palestina.

Aksi dimulai dengan salat Zuhur berjamaah di Masjid Agung. Lalu, diikuti Qunut Nadzilah dan doa untuk saudara-saudara di Palestina. Setelah itu, posko utama dipusatkan di Simpang Lima DPRD Sumsel, sementara tim menyebar ke beberapa titik lampu merah dan keramaian, berorasi, dan meluaskan lagi empati untuk Palestina.

Selagi acara aksi berlangsung, sekelompok pelajar SMP berseragam pramuka menghampiri posko,

“Kak ini aksi Palestina ya kak? Kita boleh ikut tidak kak?” tanya salah satu dari mereka dengan polosnya. Tanpa basa-basi niat baik mereka disambut dengan baik.

Yang lebih mengharukan ada seorang penjual racun untuk tikus tanpa diundang datang menghampiri anak-anak muda PERAK. Beliau melewati titik aksi dan selekas itu menyumbangkan sebagian rezekinya. Padahal, kemungkinan besar beliau juga masih membutuhkannya.

Bendera Palestina yang dijahit sendiri

Beberapa perlengkapan didukung oleh tim ACT Sumsel, mulai dari spanduk, poster, hingga flyer. Namun, ada satu hal yang terlupakan, bendera Palestina.

Sehari sebelum aksi, sementara tidak ada toko yang menjual bendera Palestina. Bukan pemuda namanya jika masalah tersebut tidak bisa diselesaikan. Potongan kain berwarna putih, hitam, hijau, dan merah segera disiapkan. Hendri bisa dijuluki Ibu Fatmawatinya bendera Palestina versi PERAK. Walau belum pernah menjahit sebelumnya, potongan kain dengan susunan warna bendera Palestina dijahit menggunakan tangan Hendri malam itu.

Tidak ada alasan untuk tidak bisa ketika semangat membawa misi kemanusiaan itu telah membara. Bendera Palestina yang dijahit amatiran itu dapat dikibarkan dengan begitu gagahnya selama aksi berlangsung.

Qunut Nazilah yang asing bagi mereka

Rupanya Qunut Nazilah pun menjadi hal asing bagi rekan-rekan Pemuda Bergerak. Karena Pemuda Bergerak bukanlah komunitas keagamaaan. Perak didominasi oleh anak muda Palembang yang gemar melakukan perjalanan (traveling). Melalui kegiatan perjalanan seperti itulah mereka belajar untuk membantu sesama manusia.

“Komunitas kami sudah beberapa kali melakukan penggalangan dana bagi Palestina. Bagi kami ini bukanlah masalah sengketa agama semata, ini adalah krisis kemanusiaan. Setiap negara yang pernah dijajah harus kita bantu,” ungkap perwakilan PERAK.

Tak heran, saran dari ACT untuk melaksanakan Qunut Nazilah menjadi pekerjaan besar bagi PERAK untuk menghubungi imam masjid yang bertugas di hari itu. Beberapa prosedur diikuti, mulai dari menghubungi ketua masjid, hingga diminta menemui beberapa imam masjid. Hasilnya nihil, ternyata bukan perkara mudah untuk sekadar Qunut Nazilah saja.

Lagi-lagi, yang PERAK punya hanya semangat, maka tidak ada Qunut Nazilah tidak mengurungkan niat PERAK untuk tetap memulai aksi mereka. Terlebih komunitas-komunitas yang PERAK ajak bersinergi sangat antusias dan hadir memenuhi Masjid Agung.

Suara takbir mulai berkumandang, semua khusyuk mendengarkan. Hingga tiba di rakaat terakhir, tiba-tiba imam salat membacakan doa Qunut Nazilah, Allahu Akbar, semua makmum mengiringi kata “aamiin”.

Padahal, sebelumnya tak ada koordinasi sama sekali dengan Imam masjid, Sang Imam tidak memberi kejelasan soal pembacaan Qunut Nazilah. Tapi sungguh, Allah telah menggerakkan dan mempersatukan hati-hati untuk membela Palestina.

Lebih dari 10 komunitas ikut turun ke jalan membuktikan bahwa pemuda palembang masih punya nurani kemanusiaan, berteriak lantang pada dunia bahwa Palembang tidak krisis kemanusiaan, tapi krisis itu justru sedang nyata-nyata terjadi di Palestina, dan kita tak boleh sekadar diam.

Hasil akhir dari donasi yang terkumpul justru dua kali lipat dari target. Insya Allah, seluruh donasi yang terkumpul disalurkan via Aksi Cepat Tanggap Sumatera Selatan. []

TAGS