DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Duka Gaza di Hari Pertama Ramadan

Let's Save Palestine
Duka Gaza di Hari Pertama Ramadan

ACTNews, GAZA - Dari menara-menara masjid yang menjulang, sekira pukul 19.23 Waktu Gaza, tenggelamnya fajar Rabu (16/5), menandai lembaran hari pertama Ramadan di Gaza. Ramadan di Gaza – juga beberapa negara Timur Tengah lainnya – memang dimulai sehari lebih cepat dibanding dengan Ramadan di Indonesia.

Namun, perbedaan itu tak menjadi masalah. Ini tentang kisah lain dari Ramadan 2018 yang begitu sederhana juga penuh dengan duka di Gaza, Palestina.  

Dari utara sampai selatan Gaza, azan Maghrib bergema nyaring. Takjil dengan menu sederhana sudah disiapkan berjajar di saf-saf masjid. Air putih, kurma dan sobekan roti khobz menjadi menu dominan di masjid-masjid Gaza. Beberapa masjid mungkin masih sanggup menyiapkan menu yang lebih baik, ada nasi biryani dan potongan daging-daging ayam di atasnya sebagai menu pelengkap.

Sementara itu, di dalam dapur-dapur rumah di Gaza, hari pertama Ramadan dimulai dengan apa adanya. Masih dengan selembar-dua lembar roti, beberapa manisan, kurma dengan harga yang paling murah, juga air putih.  

“Seperti Ramadan tahun lalu, tak ada yang berubah di Gaza. Mayoritas kondisi ekonomi warga Gaza berada dalam kondisi paling sulit. Ramadan datang dan ratusan ribu keluarga masih hidup di bawah garis kemiskinan. Tak ada yang bisa dimakan untuk berbuka puasa,” tulis Mohammed Matter dalam akun media sosialnya. Matter adalah seorang aktivis kemanusiaan yang tinggal di Gaza, Palestina.

Belum lagi dengan padamnya lampu. Kenyataannya, listrik untuk Gaza hanya tersedia tak lebih dari 5 jam sehari. Kapan alirannya menyala? Tak ada yang pernah tahu. Pasalnya, aliran listrik utama datangnya dari generator milik Israel, dialirkan langsung dari Israel.

Ketika azan Maghrib bergema dari menara-menara masjid, kondisi begitu gelap tanpa aliran listrik. Hanya lampu darurat yang menyala dari aliran genset atau baterai.

Mohammed Matter melampirkan sebuah foto dalam linimasa media sosialnya. Gambar itu tentang dapur rumah seorang keluarga di Gaza, keluarga yang tinggal berdesakan sembilan orang dalam satu rumah. Dapurnya kotor, berantakan tak berbentuk.

Kompor gasnya padam. Tak memasak apapun. Tembok rumahnya sudah terkelupas di sana-sini. Dapur itu pun rupanya menyatu dengan ruang keluarga, menyatu dengan ruang tidur, bahkan dengan kamar mandi. Sebab, memang hanya ada satu ruangan dalam rumah tersebut. Semua aktivitas dilakukan dalam satu ruangan, berjejalan.

Masih teringat pula dengan gambar yang pernah dikirimkan mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Gaza beberapa bulan lalu, tentang sebuah dapur milik keluarga tak berpunya di Gaza. Dapurnya bahkan tak ada kompor sama sekali, hanya kayu bakar yang digunakan untuk menanak. Menunya kala itu, beras putih yang dikirimkan langsung dari Indonesia lewat program Kapal Kemanusiaan Palestina. Selagi menunggu nasinya matang, anak si ibu sudah menunggu lemas, termenung kosong di tembok dapur.

Kirimkan selalu doa untuk Gaza. Ramadan di Gaza sudah dimulai dengan cerita yang tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Masih dengan penjajahan, dengan kemiskinan, tidak ada pekerjaan. Situasinya justru lebih sulit dibanding Ramadan tahun-tahun sebelumnya,” tulis Matter.

Hari ini, Jumat (18/5) berarti hari ketiga Ramadan di Gaza, Seperti miliaran Muslim lain di belahan dunia manapun, hampir dua juta populasi Muslim di Gaza sedang membuka lembaran-lembaran kisah Ramadannya.

Namun bedanya, Ramadan di Gaza penuh dengan duka. Tidak ada makanan berlimpah, tidak ada warna-warni makanan lezat, tidak ada keamanan yang bisa menjamin. Bahkan duka itu makin menjadi usai hari puncak Nakba Day, 15 Mei kemarin.

Sehari sebelum Ramadan dimulai, puncak Nakba Day meluapkan emosi dan protes keras warga Gaza atas pemindahan Kedubes Amerika Serikat untuk Israel ke Yerusalem. Di sepanjang perbatasan Gaza, nyawa 62 warga Palestina syahid. Lebih dari 2.500 orang lainnya terluka. Emosi warga Gaza dibalas dengan peluru tajam dan gas air mata dalam jumlah yang mematikan.

Hari ini, Ramadan di Indonesia memang baik-baik saja, tapi Ramadan di Gaza, di Al Quds, di Tepi Barat berkabung dengan duka. []

TAGS