DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Dunia yang Gemerlap dan Krisis Kemanusiaan Yaman yang Makin Gelap

Solidaritas Kemanusiaan Dunia Islam (SKDI)
Dunia yang Gemerlap dan Krisis Kemanusiaan Yaman yang Makin Gelap

ACTNews, HIRAN, Yaman - Masih mengeluh dengan macet, kekacauan, dan kerumitan Jakarta yang tak habis-habis? Mungkin sejenak kita perlu untuk mendengar kabar nelangsa yang datang jauh sekali dari Jakarta, nelangsa yang datang dari hancurnya sebuah negeri bernama Yaman.

Sebuah pertanyaan lantas tercipta di alam bawah sadar; di mana lokasi di sudut dunia ini, tempat kekacauan dan krisis kemanusiaan paling besar?

Jawabannya bukan Suriah, bukan pula krisis Rohingya. Tapi data dan fakta menunjukkan bahwa krisis kemanusiaan paling kacau, paling suram, paling gelap hari ini sedang terjadi di sudut dunia persis di sebelah timur Laut Merah, di sebuah negeri yang dikenal dunia dengan nama Yaman. Apa kabar Yaman hari ini?  

Tidak ada kata lagi yang bisa menggambarkan kondisi di Yaman hari ini selain catastrophe, atau malapetaka. Baru dua tahun sejak konflik paling berdarah itu bermula, tepatnya sejak Maret 2015, hitungan korban tewas akibat konflik sudah mencapai angka 10.000 jiwa. Hari ini, konflik di Yaman memisahkan negeri itu dalam dua kontrol besar. Sebelah utara Yaman dibawah kontrol pasukan Houthi, sementara sebelah selatan di bawah kontrol militer Yaman dibantu pasukan gabungan dari negeri-negeri Timur Tengah termasuk Saudi.

Tak melupakan Yaman, ACT konsisten kirimkan bantuan untuk Yaman

Bisa dibilang untuk masuk ke Yaman membawa bantuan dari Indonesia adalah hal yang sulit. Akses menembus negeri itu hampir mustahil dimasuki. Tapi bukan berarti sulitnya masuk ke Yaman memupus tak ada bantuan dari bangsa Indonesia yang masuk untuk Yaman.

Terakhir, di bulan Maret 2017 dan Ramadan 2017 lalu, Aksi Cepat Tanggap menyapa ribuan keluarga korban konflik di Yaman. Selain memberikan bantuan logistik untuk kebutuhan makan selama sebulan berikutnya, ACT pun hadir di Bulan Ramadan untuk mendistribusikan paket iftar ke tiap-tiap masjid.

Dalam waktu dekat, distribusi bantuan pangan berikutnya dari bangsa Indonesia akan kembali masuk ke Yaman. Kali ini bukan di Sanaa, bukan pula di Aden. Insya Allah, bantuan pangan bakal masuk ke wilayah Hiran, sebelah utara dari ibu kota Sanaa. Di Hiran, tak ada hal lain selain situasi sekarat dan kelaparan.

Situasi sekarat di Kota Kecil Hiran, 130 kilometer utara Sanaa

Status malapetaka di Yaman itu benar-benar sedang terjadi. Kolera dan malaria merebak, sementara makanan dan obat-obatan nihil. Ditambah lagi dengan pekerjaan yang hilang seluruhnya karena perang. Mengutip laporan terbaru dari International Committee of the Red Cross (ICRC), setidaknya hari ini, di awal Oktober 2017 ada 750.000 kasus kolera yang merebak di seluruh Yaman tanpa terkecuali. Dari jumlah itu, sekira 2.119 jiwa tewas tak kuat menahan infeksi kolera.

“Jika konflik Yaman malah makin memburuk, bukan tidak mungkin korban kolera bisa tembus sampai 1 juta kasus di seluruh Yaman,” begitu kesimpulan yang tercantum dalam laporan terbaru ICRC.

Mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Yaman pun baru saja mengirimkan kabar terkini tentang hari-hari di Yaman yang makin suram. “Tidak ada akses sama sekali untuk membawa masuk bantuan dari luar. Bandara di ibu kota Sanaa juga di Aden tak bisa lagi digunakan. Pelabuhan di Hodeidah pun hancur diterjang rudal sepanjang konflik. Hanya lewat jalur darat via Oman bantuan pangan bisa dibawa masuk ke Yaman,” ungkap Sanid (bukan nama sebenarnya) seorang mitra ACT dalam sebuah laporan tertulis yang dikirimkan langsung dari Yaman.

Kondisi yang sekarat pun dilaporkan sedang benar-benar menyiksa belasan ribu warga Yaman yang tinggal di wilayah Hiran, sebuah kota kecil sebelah utara Sanaa. “Situasi di Hiran sekarat. Tidak ada bantuan sama sekali yang masuk ke Hiran sejak bertahun-tahun konflik,” kata mitra ACT tersebut.

Populasi Hiran berjumlah kurang lebih 18 ribu penduduk, atau sekira lima ribu sampai enam ribu keluarga. Dulu, jauh sebelum konflik menghancurkan Hiran, belasan ribu penduduk di kota kecil ini sudah terpuruk karena kemiskinan. “Bahkan sebelum perang menghancurkan, mayoritas penduduk Hiran mengandalkan bahan makanan dengan menyelundupkan melalui Saudi. Pekerjaan pun hanya bisa didapat dengan menyelundup lewat perbatasan antara Saudi dan Yaman,” ungkap Sanid.

Lima tahun berselang dalam konflik dan kekacauan yang tak ada habisnya, 18 ribu penduduk Hiran hidup dalam kondisi sekarat. Konflik memutus ketat aliran bahan pangan dari wilayah Saudi, konflik melupakan Hiran dan jiwa-jiwa yang mencoba bertahan hidup dengan apapun yang masih dipunya.

“Situasi makin kacau karena minimnya intervensi bantuan kemanusiaan masuk ke dalam Hiran dan beberapa kota kecil lain di sekitarnya,” tulis mitra ACT dalam laporannya.

Demi melanjutkan hidup di tengah kekacauan konflik Yaman yang tak ada habisnya, 18.000 penduduk Hiran hanya berharap suatu hari nanti ada bantuan kemanusiaan yang masuk mengetuk pintu rumah mereka.

“Kami datang ke Hiran, yang ada hanya kelaparan luar biasa. Mereka sangat membutuhkan bantuan sesegera mungkin, sebelum semua makin terlambat, sebelum sekarat di Hiran berubah jadi kematian masal karena malnutrisi juga kolera,” papar Sanid.

Mitra ACT di Yaman baru saja menilik Hiran dari dekat. Dalam laporannya tertulis betapa sulit penduduk Hiran untuk sekadar mengisi perut si bayi atau balita yang terbaring lemas. “Hampir seluruh warga Hiran sulit menemukan makanan untuk kebutuhan harian. Malnutrisi sudah merebak luas, paling rentan menyerang anak-anak, juga perempuan,” jelas Sanid

Kondisi jadi makin sulit karena cuaca Yaman di awal Oktober sudah memasuki musim hujan lebat. “Rumah-rumah di Hiran tidak layak lagi ditempati, karena lumpur dan banjir menyerang rumah mereka. Lumpur juga membuat sanitasi jadi makin buruk,” pungkasnya. []

TAGS