DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Fatima Qoba, Penderita Malnutrisi Dampak Perang Yaman

Solidaritas Kemanusiaan Dunia Islam (SKDI)
Fatima Qoba, Penderita Malnutrisi Dampak Perang Yaman

ACTNews, HAJJAH - Terbaring lemah di tempat tidur salah satu klinik di Yaman, Fatima Qoba yang sudah berusia 12 tahun itu hanya memiliki bobot tubuh sebesar 10 kilogram. Qoba dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya kian memburuk, Selasa (12/2). Ya, Qoba adalah satu dari ribuan anak Yaman yang menderita malnutrisi.

“Seluruh bobot tubuhnya telah habis, hanya tinggal tulang. Dia menderita malnutrisi akut. Butuh waktu panjang untuk merawat Qoba sampai bobot tubuh dan kesehatannya kembali,” kata Makiah al-Aslami, seorang dokter sekaligus Kepala Klinik Malnutrisi Provinsi Hajjah, dilansir dari situs berita Reuters.  

Qoba, ayahnya, dan 10 saudara kandungnya terpaksa pergi dari rumah mereka akibat perang. Mereka juga mengaku terpaksa tinggal di bawah pohon karena tidak ada pilihan lain. Menurut cerita kakak perempuan Qoba yang juga memiliki nama depan Fatima, mereka melarikan diri dari pemboman yang terjadi di Yaman.

“kami tidak memiliki uang untuk membeli makanan, kami hanya mengandalkan pemberian dari tetangga maupun keluarga,” kata Fatima, kakak Qoba.

Sementara itu, ayah mereka sudah berusia 60 tahun, dan tidak bekerja. Kata Fatima, sang Ayah selalu susuk di bawah pohon, tidak pernah berpindah tempat. “Kalau kita tetap berada di sini, kami akan kelaparan, tidak ada akan ada yang tahu tentang kami. Lalu, kami tidak memiliki masa depan, “ jelas Fatima.

Qoba yang hari itu mendapat perawatan dan penanganan dari klinik malnutrisi di Provinsi Hajjah, sebelumnya sempat dibawa ke dua rumah sakit berbeda. Sayangnya, pihak rumah sakit mengaku tak mampu membantu. Segala upaya dilakukan oleh keluarga Qoba, sampai salah seorang kakaknya mendapat uang untuk membawa Qoba ke klinik.

Qoba yang juga menjadi penyintas perang lagi-lagi menjadi cermin apa yang terjadi di sebagian besar wilayah Yaman. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pernah menyebut, perang dan keruntuhan ekonomi telah mendorong sekitar 10 juta jiwa ke ambang kelaparan. Aslami pun memperkirakan akan ada lebih banyak lagi kasus malnutrisi yang datang ke kliniknya.

Bahkan dalam kurun waktu satu bulan, Aslami mengaku telah melayani lebih dari 40 wanita hamil yang juga menderita gizi buruk. “Jadi, beberapa bulan mendatang, saya juga memperkirakan akan ada sekiranya 43 anak yang lahir dengan berat badan di bawah idealnya,” ungkapnya.  

“Ini bencana kelaparan, perekonomian Yaman di ujung kolapsnya. Satu-satunya solusi adalah dengan menghentikan perang,” tambah Aslami.

 

Sepanjang hari, selama bertahun tahun terkungkung perang yang terus berkobar, jutaan penduduk Yaman bertahan seadanya. Tak hanya perekonomian yang sudah berada di ujung kolaps, sistem kesehatan pun juga. Berbagai jenis penyakit yang terus bermunculan, bahkan mewabah, tak mendapat respons yang baik oleh sistem kesehatan Yaman.

Rumah sakit di Yaman pun tak lagi memiliki kemampuan untuk melakukan penanganan, juga perawatan. Minimnya peralatan medis dan obat-obatan menjadi salah satu sebab utamanya. Bahkan sejak tahun 2015, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyebutkan, sistem kesehatan di Yaman telah mendekati keterpurukan.

“Sistem kesehatan di Yaman ada di jurang kehancuran,” ujar Dr. Ahmed Shadoul, perwakilan WHO untuk Yaman, sebagaimana dimuat Bull World Health Organ awal 2015. []

Sumber foto: Dok. ACT , Reuters