DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Filantropi di Era Industri 4.0

Kolom
Filantropi di Era Industri 4.0

Ahyudin

Presiden ACT

 

Jarang sekali ditemukan perusahaan mati karena bergerak terlalu cepat, namun sebaliknya yang seringkali ditemukan adalah perusahaan mati karena bergerak terlalu lambat. (Reed Hasting, CEO Netflix)

Inspirasinya dari praktisi perbankan, dunia yang satu sisi diyakini lahannya orang bernyali, di sisi lain dipandang zona nyaman karena jadi destinasi mereka. Topik ini, saya sarankan untuk tidak melihatnya sebagai zona nyaman.

Praktisi bisnis sudah terpapar kecenderungan ini. Bahwa dunia hari ini terpapar revolusi, tepatnya revolusi industri generasi keempat yang ditandai dengan perkembangan teknologi sangat modern: superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Pada buku The Fourth Industrial Revolution Klaus Schwab (Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum) mengungkap hal itu.

Sejenak kita kilas-balik perkembangan dunia. Revolusi generasi pertama yang memunculkan sejarah (saat tenaga manusia dan hewan diganti mesin). Temuan mesin uap di abad 18, merevolusi ekonomi dunia dalam dua abad terakhir. Pendapatan rata-rata perkapita dunia naik dramatis enam kali lipat.

Datang revolusi industri generasi kedua. Dunia dipapar kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustion chamber), temuan yang memicu munculnya pesawat telepon, mobil, pesawat terbang dan lainnya yang signifikan mengubah dunia.

Era berikutnya, revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet. Temuannya kian simpel, tapi lompatan yang dihadirkan kian luas. Dunia baru merasakan kehadirannya, sebagian wajah dunia sudah terpapar dampaknya, datang revolusi industri generasi keempat.

Dunia dikenalkan jargon baru yang langsung membawa pengaruh. Di Indonesia, Renald Kasali mengenalkan istilah disruptif teknologi. Temuan baru secara cepat terasa impaknya. Korporasi-korporasi inkamben menghadapi tantangan. Kejayaan korporasi yang lambat berubah, menyeret mereka ke masa lalu. Raksasa bisnis tiba-tiba ketinggalan zaman melawan para pendatang baru.

Teknologi bukan "raksasa memangsa yang kecil", tapi "yang cepat (lincah) memangsa yang lambat". Ukuran bukan lagi penentu kekuatan. Uber pendatang baru, menjadi ancaman pemain transportasi di seluruh dunia. McKinsey&Company memaparkannya dalam laporannya An Incumbent’s Guide to Digital Disruption yang mengungkap empat tahapan posisi perusahaan di tengah era disruptif teknologi.

Tahap pertama, signals amidst the noise (sinyal di tengah kebisingan). Tahun 1990, Polygram salah satu perusahaan recording terbesar di dunia, memilih menjual perusahaannya pada 1998 saat teknologi MP3 baru ditemukan, sehingga pemilik masih merasakan puncak kejayaan Polygram, fan value nya masih bisa mendongkrak penjualan yang optimal.

Contoh terbaru, harian Suara Merdeka yang pernah menjadi koran daerah terbesar di Semarang, mengurangi drastis oplahnya karena telat mengantisipasi diri untuk membangun platform lainnya. Sebenarnya, harian Kompas paling siap berhenti terbit, investasinya ke teknologi baru di satu sisi dan bisnis non-pers seperti properti di mana-mana. Keniscayaan, mengakhiri industri surat kabar tradisional yang mengejar oplah dan pemasukan dari pemasangan iklan. Mengandalkan publisitas melalui media tradisional, boleh dikatakan "sisa-sisa masa jaya".

Internet yang dipandang mengancam, telah dimanfaatkan oleh Schibsted, salah satu perusahaan media asal Norwegia pengguna internet untuk mengantisipasi ancaman sekaligus memanfaatkannya sebagai peluang bisnis. Schibsted melakukan disruptif terhadap bisnis inti mereka melalui media internet yang akhirnya menjadi tulang punggung bisnis mereka pada kemudian hari.

Pada tahap ini, perusahaan (inkamben) merespons perkembangan teknologi secara cepat dengan menggeser posisi nyaman dari bisnis inti yang mereka geluti mengikuti tren perkembangan teknologi, preferensi konsumen, regulasi dan pergeseran lingkungan bisnis.

Tahap kedua, change takes hold (perubahan lingkungan bisnis tampak lebih jelas). Pada tahap ini perubahan sudah tampak jelas baik secara teknologi maupun dari sisi ekonomis, namun dampaknya pada kinerja keuangan belum signifikan. Belum dapat disimpulkan apakah model bisnis baru akan lebih menguntungkan atau sebaliknya dalam jangka panjang. Namun demikian, Netflix tahun 2011 berani mengubah bisnis inti mereka dari penyewaan DVD menjadi streaming. Keputusan besar ini menyelamatkannya tidak sampai kolaps seperti pesaingnya, Blockbuster.

Tahap ketiga, the inevitable transformation (transformasi yang tak terelakkan). Pada tahap ini, model bisnis baru sudah teruji dan terbukti lebih baik dari model bisnis yang lama. Oleh sebab itu, perusahaan inkamben akan mengakselerasi transformasi menuju model bisnis baru. Transformasi tahap ini lebih berat, karena perusahaan inkamben memutuskan berubah saat isudah telanjur gemuk. Merevisi korporasi yang relatif sudah besar dan gemuk, jauh lebih berat dibanding perusahaan pendatang baru (startup company).

Tahap keempat, adapting to the new normal (adaptasi pada keseimbangan baru). Ini tahap di mana perusahaan inkamben sudah tidak memiliki pilihan lain:  menerima dan menyesuaikan diri keseimbangan baru karena fundamental industri telah berubah. Sebagai perusahaan inkamben ia tak lagi dominan. Yang dilakukannya hanya bertahan di tengah kompetisi.

Filantropi dan Bisnis

Apa yang sama dari keempat era itu? Nilai, ukuran kebaikan dan keburukan. Balasan berbuat baik, dan hukuman berbuat jahat. Diakui atau tidak, orang menerima sikap buruk pada sesama, atau umat manusia, sehingga kita merasakan founding fathers negeri ini visioner membuat kalimat menjunjung tinggi kemanusiaan.

Indonesia dengan kemajuan teknologi, merasa tepat dengan kredo "kalau bisa segera menolong sesama, mengapa berlambat-lambat". Bukan meninggikan diri apalagi mengecilkan orang lain kalau ACT bersungguh-sungguh terhadap "kecepatan" (speed) dan "keluasan" (size).

Modernitas, kita akur dengan ukuran kekinian yang menghargai kecepatan. Tapi dengan ukuran "keluasan", tak bisa serta-merta ACT melakukan simplifikasi dan efisiensi, karena ranahnya bukan korporasi, tapi layanan. Layanan kemanusiaan yang mencakup hajat orang banyak.

Filantropi 4.0 ala ACT, filantropi dalam services, tapi sekaligus membesarkan size, skala layanan. Untuk itu teknologi apapun kian modern kian hebat menghebatkan layanan. Hal-hal hebat bisa diadopsi, tanpa meminimalisir layanan. Kita terima semua yang hebat dari teknologi. Cepat, oke; size juga tetap oke.

Zaman yang berubah dalam hal penerapan teknologi, masih ajeg menjaga dan menebar nilai kepatutan antar manusia. Era di mana orang adu unggul dengan kian mengedepankan kebaikan. Kian butuh orang pada aturan main, kian kuat keterpakaian standar moral antar manusia. Yang brengsek dan abai nilai, akan menjadi musuh bersama. []