DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Guyub Warga di Gumbasa, Sigi

Pemulihan Pascabencana
Guyub Warga di Gumbasa, Sigi

ACTNews, SIGI - Matahari masih terasa terik, penunjuk waktu di telepon genggam menunjukkan pukul setengah empat sore. Hujan reda tidak lama setelah truk pembawa pasokan logistik dari Palu tiba di Gumbasa. Tepatnya di Desa Simoro, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi.

Menempuh waktu sekitar dua jam dari Kota Palu, truk logistik Aksi Cepat Tanggap (ACT) tiba di Posko Wilayah Gumbasa. Selasa (5/11) itu, sejumlah paket sembako berisi beras, minyak goreng, biskuit, dan keperluan dapur lainnya dibagikan ke lebih kurang 200 KK di Desa Simoro. Hari itu pembagian sembako dibagikan di dua titik. Pertama di Posko Wilayah Gumbasa, kedua di rumah ketua RT 01.

Komandan Posko ACT Wilayah Gumbasa Dede Sugiana mengungkapkan, budaya guyub dan saling membantu di masyarakat Desa Simoro adalah contoh baik di tengah suasana prihatin pascabencana. "Secara dampak lumayan banyak. Di sini situasi kondusif dan masyarakat kooperatif," papar Dede.

Ia juga menceritakan, selang hari setelah gempa, masyarakat pun segera bergotong royong mendirikan tenda di rumah-rumah mereka. Kini, hampir sebagian besar juga masyarakat sudah kembali ke rumah dan memulai aktivitas.

"Kita ingin memberikan bantuan tepat sasaran dan tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan," lanjutnya.

Gempa dan Panen Kakao Menurun

Aema (60) adalah salah satu penyintas  gempa di RT 01 Desa Simoro. Sore itu ia sedang memisahkan biji kakao dari baboli (kulitnya). Ia dan keluarganya memiliki pohon kakao di hutan. Sayangnya, beberapa bulan ini panen kokoa sedang tidak bagus.

Aema dan keluarga biasa menjual hasil panen mereka ke kota Palu. Ia menjual biji kakao kering, per kilonya dihargai Rp 30 ribu. Sedangkan kulit biji kakao (mereka menyebutnya baboli) dihargai Rp 10 ribu per kilo gramnya. Belum lagi, pascagempa aktivitas perdagangan belum kembali normal. Saat ini, masyarakat sebagian besar menggantungkan kebutuhan sehari-hari pada bantuan.

"Terima kasih, sangat terbantu," tutur Aema ketika bantuan logistik ACT menyambangi rumahnya.

Bencana gempa, magrib 28 September lalu, memang menyisakan ingatan menyedihkan bagi Aema. Ia yang nyaris tak sadarkan diri karena guncangan gempa dan rumah yang kini retak, bukan alasan untuk hidup dalam kepasrahan. []

TAGS