DONASI SEKARANG
JADI RELAWAN

Hamid Agan, Lansia Menuju Satu Abad

cak budi ntt

ACTNews, LEMBATA – Jika masih diberi umur, Abdul Hamid Agan, dua tahun lagi genap berusia satu abad. Jenggot tebal dan jambangnya kini telah memutih, dan seluruh giginya telah tanggal sempurna dari tempatnya. Namun kulitnya yang putih terlihat masih segar dan wajahnya bersih. Tampilan fisik Hamid agak berbeda dengan lanjut usia (lansia) lainnya, yang rata-rata berkulit coklat tua, khas penduduk Indonesia bagian timur.                       

Hamid adalah salah satu warga lansia di Desa Atu Wa Lupang, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bersama sejumlah warga lansia lainnya, sore itu, Selasa (16/5), Hamid ikut menunggu kedatangan Tim Bantuan Kemanusiaan Donatur Cak Budi dari ACT di lingkungan Pondok Pesantren Manahil Al-Irfan asuhan Haji Muhammad Mahmud, Lc. Hamid satu dari 50 lansia warga Kabupaten Lembata yang mendapatkan bantuan paket, dari para donatur Cak Budi. Para donatur yang menitipkan donasinya ke Cak Budi, ACT wujudkan dalam bentuk paket untuk persiapan menjalani puasa Ramadhan tahun ini, dengan total paket diberikan bagi 3.000 lansia di seluruh Tanah Air.                       

Lelaki renta yang pernah mengenyam pendidikan hingga kelas tiga Sekolah Rakyat (SR) ini, dinilai layak mendapatkan bantuan dari Cak Budi. Di usia yang sudah begitu senja, Hamid masih membiayai hidupnya sendiri. Dia memiliki sebidang tanah yang dia tanami pohon kelapa. Saat panen ada orang yang membantunya menjadikan kelapa jadi kopra dan menjualnya ke pasar. Dengan sistem bagi hasil, Hamid mendapatkan rata-rata uang 65 ribu rupiah setiap bulannya. Kalau harga kopra sedang bagus, Hamid bisa mengantongi 90 ribu rupiah per bulan. Uang sebesar itu dipakai Hamid untuk kebutuhan makan sehari-hari.                       

Apakah uang sejumlah itu cukup untuk makan selama sebulan? Pria yang dikaruniai 6 anak itu tersenyum. Hamid mengaku, dirinya hanya makan biskuit saat lapar. Nyaris setiap hari. Hanya kadang-kadang saja makan sayur, daging atau ikan. Gusinya yang tak lagi bergigi, tak mungkin lagi bisa mengunyah makanan berat.                       

Hamid menyadari hidupnya tinggal bonus dari yang Maha Kuasa. Itulah sebabnya hari-harinya banyak dihabiskan untuk beribadah. Membaca al-Quran, tahajud tiap malam, menunggu salat lima waktu di masjid dan berpuasa. Aktivitas berpuasa ini yang diakui Hamid membuat dirinya makan hanya saat lapar. "Saya jarang merasa lapar," tandasnya.                       

Hamid muda, era tahun 90-an, adalah seorang pendakwah yang gigih di Lembata. Berjalan berkilo-kilo meter menemui warga Muslim di Kecamatan Omesuri, Buyasuri dan Wulandoni dia lakukan. Ketiadaan kendaraan tak menyurutkan dia berdakwah di kabupaten dimana kaum muslimin adalah kaum minoritas. Hanya di Omesuri dan Buyasuri sajalah umat Islam menduduki mayoritas dari 9 kecamatan yang ada. Boleh jadi, Hamid punya andil besar menjaga aqidah dan ibadah jamaah muslimin di Lembata secara keseluruhan. "Saya berdakwah dari pintu ke pintu, atau ceramah di masjid," ujarnya.                        

Seperti juga lansia lain, Hamid menjabat erat tangan para relawan ACT. Salah satu dari mereka berkata, betapa hanya untuk menemui mereka, jauh-jauh dari Kota Lewoleba dan Jakarta ditempuh. Apalagi kalau bukan dorongan kekuatan dari ajaran Nabi Muhammad saw, yakni silaturahim? "Karena bapak-bapak muslim kita bersaudara. Bukankah karena bersaudara, dimana pun kita berada, akan sekuat usaha untuk bersua? Walaupun bantuannya tak seberapa, namun nilai silaturahim yang tercipta tentu berwujud pahala abadinya nanti di akhirat," ujar Ustadz Haji Muhammad Mahmud, Lc yang mendampingi Tim ACT selama distribusi bantuan di Omesuri dan Buyasuri.[]

TAGS